Sabtu, 22
Agustus 2015 menjadi awal takdir bagi kami bertiga (Adhi, Refangga, Sevtyan).
Kami semua dikumpulkan di kantor bupati untuk mendengarkan pengumuman
penempatan penugasan di kabupaten Malinau, Kalimantan Utara. Peserta SM3T yang
ditempatkan di kabupaten Malinau berjumlah 69 orang yang nantinya akan disebar
ke seluruh penjuru kabupaten Malinau. Program SM3T (Sarjana Mengajar di Daerah
Terdepan, Terluar, Tertinggal) mengantarkan kami bertiga ke desa nan jauh di
sana, salah satu desa terluar dan salah satu desa yang paling sulit
dijangkau/ditembus yang ada di Malinau. Karena harus ditempuh dua hari
perjalanan (darat dan air).
Pagi hari
sekitar pukul 8.00 WITA di depan rumah Pak Markus sudah terparkir mobil strada
warna putih. Itu tandanya perjalanan kami ke Long Ranau dimulai, perjalanan
yang sangat panjang dan melelahkan. Kami bergegas mengemasi barang kami untuk
diangkut ke dalam mobil. Sekitar pukul 8.45 WITA kami mulai berangkat. Kami
langsung disuguhi jalan yang tidak bersahabat; jalan yang berliku-liku tidak
beraspal ditambah dengan banyaknya debu karena lalu lalang kendaraan proyek
pengangkut batu bara (howling). Walaupun begitu perjalanan kami disuguhi dengan
pemandangan hutan asli Kalimantan yang biasanya kami lihat di TV pada
acara-acara documenter yang menyajikan keindahan alam Indonesia. Ditengah
perjalanan ada bapak paruh baya yang membawa sembako dan ingin menumpang mobil
kami. Bapak itu pun naik ke mobil kami. Perlu diingat bahwa numpang-menumpang
di sini adalah hal biasa karena jarang-jarang ada mobil lewat karena medan yang
sulit. Beberapa saat kemudian ada anak sekitar usia SMP ingin menumpang ke desa
Long Pada, sopir kami pun mempersilakan untuk naik.
Perjalanan
yang lebih memacu adrenalin kami pun dimulai. Jalan berkelok dan di samping
kanan-kirinya terdapat jurang membuat kami was-was dan tak henti-hentinya
berdoa. Saya dan Adhi duduk di belakang (di luar). Sedangkan Refa duduk di
dalam di samping sopir. Pantat dan pungung saya sakit sekali karena
berkali-kali terbentur besi mobil. Baru pertama kali saya melihat pohon-pohon
begitu besar yang tingginya puluhan meter dan lebarnya kira-kira butuh 3 – 4
orang untuk memeluknya. Oh iya, selain kami naik mobil, ada Pak Eris yang naik
motor. Saya tidak bisa membayangkan motor Revo 110cc yang dinaiki Pak Eris bisa
menaklukan medan yang menurut saya sangat ekstrim. Di tengah perjalanan kami
istirahat sejenak di tepi sungai untuk makan siang, sungguh sangat nikmat makan
siang di tepi sungai di hutan. Selepas makan siang, kami melanjutkan perjalanan
dan perjalanan darat kami berhenti di Long Avang. Long Avang bukanlah sebuah
desa melainkan sebuah pos pemberhentian atau pos untuk transit sejenak. Di sini
hanya ada dua rumah di tepi sungai. Kami bertemu dengan pemilik rumah dan
bersalaman dengan mereka semua.
Rute Perjalanan Darat menuju Long Ranau
Waktu
menunjukkan pukul 14.00 WITA kami memutuskan untuk sholat, sembari kami sholat
Pak Mathius mencarikan kami ketinting (perahu). Tidak lama kemudian Pak Mathius
pun datang dengan ketintingnya, kami pun menaikan semua barang-barang kami ke
dalam ketinting. Kami sempat ragu apakah dengan barang-barang kami yang super
berat ini tidak akan membuat ketinting tenggelam. Baru beberapa menit kami
menaiki ketinting hal yang tidak diinginkan terjadi. Perahu kami hampir karam
karena air sungai banyak yang masuk ke dalam perahu. Kami pun langsung
menurunkan barang-barang kami ke tepi sungai. Kemudian Pak Eris dan satu juru
batu ketinting berangkat ke desa Long Pada untuk melanjutkan perjalanan dan
mengirimkan bantuan pada kami. Menurut penuturan Pak Mathius perahu yang kami
naiki memang perahu tua yang sudah agak rapuh. Jadi wajar saja jika banyak air
yang masuk ke perahu kami. Kami menunggu bantuan sekitar dua jam dari jam 15.00
– 17.00 . Kami dijemput dengan ketinting yang cukup besar dan perjalanan air
kami pun dimulai. Kami kembali disuguhi panorama yang mungkin hanya bisa
dilihat dalam film-film, naik perahu membelah hutan Kalimantan yang masih
perawan dan asri merupakan pengalaman yang tidak semua orang bisa mengalaminya.
Setelah beberapa saat kami naik perahu, kami dihadapkan pada situasi yang belum
pernah kami alami sebelumnya. Kami bertemu dengan yang namanya “giram” atau
jeram. Perlu diketahui bahwa perjalanan kami melawan arus sungai karena desa
Long Ranau berada di hulu sungai. Seketika wajah kami bertiga berubah menjadi
pusat pasi karena kami takut perahu yang kami naiki karam menghantam batu.
Apalagi saat kemarau seperti ini debit air sungai kecil. Jadi butuh energi
super ekstra untuk mengemudikan ketinting yang kami naiki. Ketinting yang kami
naiki dikemudikan oleh 3 orang, dua orang menjadi juru batu yang berada di
depan sedangkan satu lagi berada di belakang sebagai motoris. Perlu diketahui
bahwa ketiganya masih duduk di bangku SMP. Itu yang membuat saya terkagum-kagum
dengan keberanian anak-anak suku Dayak. Perjalanan air kami tidaklah mulus, ada
kalanya saat bertemu dengan jeram yang mengerikan para penumpang harus turun dari
ketinting dan berjalan puluhan bahkan ratusan meter di tepian sungai dan bahkan
harus berjalan menembus hutan sembari menunggu ketintingnya ditarik menuju ke
bagian sungai yang aman untuk dinaiki. Alhasil celana kami basah kuyup semua
ditambah ternyata kami bertiga salah kostum karena kami bertiga memakai celana
jeans sehingga langkah kami menjadi sangat berat ditambah dengan jaket dan
pelampung membuat badan ini sangat panas. Kalau dihitung-hitung kami turun dari
ketinting sekitak lebih dari 10 kali.
Persiapan Perjalanan menyusuri Sungai Menuju Long Ranau
Hari pun semakin sore dan gelap, perjalanan
kami tak kunjung sampai di desa Long Pada tempat kami bermalam malam ini.
Menaiki ketinting di malam hari bisa dibilang sangat berbahaya dan berisiko
karena minimnya pencahayaan dan jarak pandang yang pendek membuat kapal rawan
menabrak bebatuan dan skenario terburuknya kapal bisa karam. Untung saja senter
handphone saya masih bisa menyala
untuk menerangi jalan kami saat harus berjalan di bebatuan-bebatuan sungai yang
besar dan menembus hutan. Badan kami pun semakin lemas ditambah hawa dingin
yang menusuk tulang, ingin rasanya kami segera sampai di desa Long Pada. Selama
perjalanan kami bertiga terus merenung, kami sudah tidak bisa bercanda seperti
halnya tadi siang. Saya terus berpikir sebenarnya saya jauh-jauh datang kesini
untuk apa ? Mengapa ada orang yang mau dan sanggup hidup di hulu sungai yang
jauh dari keramaian dan terisolir dari daerah lain ? Seberapa jauh lagi jalan
yang harus kami tempuh untuk sampai ke desa tempat tugas kami ? Dosa apa yang
saya lakukan di masa lalu sampai-sampai saya harus mengalami hal-hal yang tidak
mengenakan ? Banyak sekali pertanyaan-pertanyaan aneh yang berkecambuk di
kepala saya. Kami tidak henti-hentinya komat-kamit berdoa kepada Yang Maha
Kuasa agar kami diberi keselamatan. Lalu terlihat ada sorotan lampu dari
kejauhan, ternyata itu adalah ketinting milik seseorang yang sedang mencari
ikan di sungai. Saya dan Refa naik ke ketinting yang baru dan Adhi tetap di
ketinting yang lama. Ketinting yang baru saya naiki memiliki senter jarak jauh
dan berjalan di depan untuk membuka jalan karena ketinting yang sebelumnya saya
naiki tidak membawa senter. Kami pun terus berdoa agar diberi keselamatan
sampai tujuan. Jantung kami slalu berdebar-debar jika melihat jeram karena
selalu dihantui oleh pikiran-pikiran jikalau ketinting akan karam. Sama sekali
belum pernah terpikirkan oleh kami akan menempuh perjalanan sesulit ini. Doa
kami pun terjawab sudah, sekitar pukul 20.30 WITA kami sampai di desa Long
Pada. Kami memasukkan barang-barang di salah satu rumah dan kami bermalam di
rumah yang lain milik salah satu guru di SD 001 Long Pada. Kami pun langsung
bergegas mandi karena bau kami sudah tidak karuan. Di sini kami bertemu dengan
dua orang alumni SM3T yang berasal dari Samarinda. Mereka berdua tidak
mengikuti PPG karena sudah lolos CPNS. Kami disuguhi kopi hangat oleh Pak Eris
yang sudah lebih dulu sampai di desa Long Pada. Yaaa, lumayan untuk mengusir
hawa dingin di tubuh ini. Kami baru bisa tertidur pukul 00.00 WITA. Malam hari
di sini sungguh sangat dingin sampai-sampai kami bertiga harus memakai pakaian
dan celana yang serba panjang. Kami bersyukur akhirnya bisa merebahkan badan
setelah seharian bergelut dengan medan yang melelahkan jiwa dan raga walaupun
hanya beralaskan tikar yang terbuat dari bambu.
Saat kami
bangun pagi badan kami terasa pegal semua. Kami pun bersiap melanjutkan
perjalanan dihari kedua. Perjalanan hari kedua dari desa Long Pada menuju desa
Long Ranau kembali ditempuh menggunakan ketinting. Menurut informasi yang
didapat, perjalanan hari kedua lebih berat dari pada hari pertama karena
jeram/giram yang dilalui lebih ekstrim. Kami berangkat sekitar pukul 09.00
WITA. Seperti biasa kami harus sering turun dari ketinting dan berjalan di
tepian sungai bahkan terkadang harus menembus hutan sembari menunggu
ketintingnya ditarik oleh warga desa Long Ranau yang sengaja datang untuk
membantu kami. Bisa dibilang ketinting hanya digunakan untuk menaruh
barang-barang kami karena kami lebih banyak berjalan kaki dari pada naik
ketinting. Setiap kali kami berjalan menembus hutan, tubuh kami selalu
dihinggapi pacet (lintah). Ada yang hinggap di kaki ada pula yang masuk ke
dalam baju kami. Tengah hari kami beristirahat untuk makan siang, kami disuguhi
ikan bakar hasil menyelam penduduk lokal. Disinilah kami kagum dengan orang
Dayak, kagum dengan keberanian dan keramahannya. Setelah selesai beristirahat
kami melanjutkan perjalanan dan lagi-lagi harus turun dari ketinting dan
berjalan kaki. Rasanya sudah tak terhitung berapa pacet (lintah) yang hinggap
di tubuh kami. Kami sungguh lelah sekali berjalan kaki, rasanya kami sudah
dehidrasi. Kami sudah kehabisan air minum yang kami bawa, mau tidak mau kami
harus meminum air dari mata air dan terkadang dari air sungai yang mengalir.
Dengan kaki diseret-seret serta kaki yang lecet kami paksa tubuh kami yang
lelah ini untuk terus maju berjalan ke depan.
Kerjasama Menarik Ketinting untuk melewati Giram
Akhirnya
sekitar pukul 18.30 WITA kami sampai di desa Long Ranau tempat pengabdian kami
selama satu tahun. Sungguh perjalanan dua hari yang melelahkan. Sesampainya di desa
Long Ranau kami disambut hangat sekali oleh warga setempat. Baik tua, muda,
anak-anak, semuanya datang menyalami kami bertiga. Seolah-olah kami bertiga
sangat dinantikan dan diharapkan oleh mereka semua. Desa Long Ranau merupakan
desa yang sangat kecil tersembunyi di tengah-tengah hutan dan dikelilingi
sungai, mungkin bisa dibilang mirip dengan Nusakambangan. Di sini hanya
terdapat ±30 rumah saja dan jumlah penduduknya sekitar 200 jiwa saja. Desa Long
Ranau dihuni oleh suku Dayak Punan, masyarakat Dayak Punan di sini mata
pencahariannya adalah berburu dan mengandalkan hasil hutan. Jadi bisa
dibayangkan masih sangat sederhananya masyarakat di sini. Karena lokasi desa
Long Ranau yang terpencil dan sulit dijangkau menjadikan masyarakatnya kurang informasi
akan dunia luar. Ini menjadi salah satu kesulitan kami di sini dalam mengajar
anak-anak di sini. Seolah-olah apa yang kami ucapkan merupakan hal yang baru
bagi mereka padahal hal diucapkan merupakan hal yang umum bagi masyarakat di
luar sana. Saya pernah menyuruh mereka untuk menunjukkan dimana pulau
Kalimantan namun tidak satu pun dari mereka yang tahu dimana pulau mereka
tinggal. Karena informasi yang sangat kurang inilah yang menjadikan wawasan
kebangsaan mereka sangat kurang. Lagi, pernah suatu ketika waktu itu pelajaran
IPS dan saya menjelaskan mengenai kenampakan alam yang ada di Indonesia. Saya
menjelaskan mengenai pantai waktu itu. Ketika saya bertanya pada mereka,”Apakah
kalian tahu pantai itu seperti apa ?” lagi-lagi tidak ada satu pun dari mereka
yang tahu atau pernah melihat bagaimana bentuk pantai itu. Di satu sisi ini
merupakan hal yang lucu dan patut untuk ditertawakan. Namun di sisi lain ini
merupakan sebuah ironi, tamparan, sekaligus sindiran bagi kita semua. Apa yang
sudah kita perbuat untuk mereka ? Apa yang sudah kita lakukan agar mereka
terbebas dari keterpurukan yang mereka alami ? Mereka tetaplah saudara kita,
saudara yang belum kita kenal. Janganlah kita biarkan jurang ketimpangan ini
semakin membesar. Karena siapa tahu kelak orang-orang penting kelak dilahirkan
dari desa Long Ranau atau desa-desa di pedalaman Kalimantan.
Peserta SM-3T tiba di penempatan Long Ranau
Di sini hanya
terdapat satu sekolah saja yaitu SDN 004 Sungai Tubu. SD ini bisa dibilang baru
jika dibandingkan dengan SD lain yang ada di kecamatan Sungai Tubu. Sebelum SD
ini berdiri anak-anak dari desa Long Ranau harus bersekolah di ibukota
kecamatan yaitu di desa Long Pada. Sebelum SDN 004 berdiri minat anak-anak
untuk bersekolah bisa dibilang rendah. Ini dikarenakan jarak dari Long Pada ke
Long Ranau cukup jauh. Ini juga mengakibatkan banyak anak di sini sebenarnya
jika dilihat dari usianya sudah bukan usia SD lagi. Banyak dari mereka yang
seharusnya sudah SMP bahkan SMA tapi justru masih berkutat di bangku SD. Mereka
juga belum bisa membaca dengan lancar karena minimnya bahan bacaan yang ada di
sekolah dan di desa. Yang saya salut dari mereka adalah semangat mereka untuk
belajar sangat tinggi. Selama 5 bulan kami mengajar di sini jarang sekali kami
menjumpai siswa absen masuk sekolah. Selain itu mereka datang ke sekolah dengan
kondisi yang bermacam-macam, banyak dari mereka yang tidak memakai sepatu dan
seragam. Kalau kami tidak begitu memperdulikan hal itu karena yang terpenting
adalah niat baik mereka untuk berangkat ke sekolah.
Foto bersama seluruh siswa di Long Ranau
Sekolah tempat
kami mengajar bisa dibilang masih sangat memprihatinkan. Sekolah kami berbentuk
rumah panggung dimana dalam ruangan tersebut dibagi menjadi 6 kelas dimana
setiap kelas disekat menggunakan seng. Bisa dibayangkan kesulitan yang dihadapi
dengan kondisi kelas seperti itu, jika satu kelas sedang dijelaskan maka kelas
yang lain juga mendengar suara dari kelas sebelahnya. Lalu tiap kelas tidak
memiliki pintu dan ini menjadikan anak-anak bebas keluar masuk seenaknya saat
pelajaran. Hal ini yang membuat kami sering memarahi mereka karena sering
keluar masuk kelas seenaknya. Fasilitas penunjang pembelajaran di sini juga
sangatlah minim, hanya ada white board, spidol, penghapus. Hanya itu saja.
Kondisi Kelas di SD
Tenaga
pengajar di sini masih kurang. Di sini total terdapat 6 guru yang terdiri dari
3 guru honorer, 1 guru kontrak, dan 2 guru PNS. Semua guru honorer dan kontrak
di sini hanya lulusan SMA dan baru pertama kali mengajar. Dua guru PNS-nya pun masih
menyelesaikan studinya untuk mendapatkan gelar Sarjana. Otomatis dua guru
PNS-nya harus berada di kota untuk kuliah dan tidak bisa mengajar sampai
mendapatkan gelar Sarjananya. Alhasil hanya empat guru saja yang stand by di hulu sana. Untung saja tahun
ini desa Long Ranau mendapatkan jatah tiga guru, setidaknya ini bisa sementara
mengatasi permasalahan kekurangan guru di Long Ranau. Kami berharap tahun depan
desa Long Ranau bisa mendapatkan jatah guru SM3T lagi.
Kegiatan Belajar Mengajar di SD long Ranau
Selama kurang
lebih lima bulan hidup di tengah-tengah penduduk Long Ranau saya belajar banyak
hal. Saya belajar bagaimana hidup dalam kesederhanaan dan keterbatasan.
Bagaimana tidak ? Desa Long Ranau belum dialiri listrik, sebenarnya ada
beberapa rumah yang memiliki genset ,
yang mana genset tergantung dari ada
atau tidaknya minyak. Listrik rumah kami dialiri listrik dua hari sekali dan
hanya selama 2 jam saja. Terkadang jika listrik sedang tidak dialiri listrik,
kami bergerilya ke rumah warga yang listriknya menyala untuk sekadar mengisi
ulang handphone kami agar kami bisa sekadar mendengarkan musik siang harinya.
Begitu juga dengan sinyal, tidak ada sinyal sedikitpun di seluruh kecamatan
Sungai Tubu. Jadi kami sama sekali tidak bisa mengubungi orangtua kami di
rumah. Alat komunikasi satu-satunya yang digunakan di desa ini adalah radio
angin. Radio ini menghubungkan desa-desa yang ada di sekitar desa Long Ranau.
Bisa dibayangkan kehidupan kami seperti mundur dari peradaban, rasanya seperti
kembali ke tahun 1950an.
Masyarakat
desa Long Ranau termasuk masyarakat yang masih tradisional. Bukan tradisional
dalam hal teknologi atau masih berpakaian dengan daun-daun, dsb. Namun
tradisional dalam hal pola pikir (mindset)
nya. Ketika ada warga yang mendapatkan hasil buruan berupa babi hutan, rusa
atau kancil maka hasil buruan itu akan dibagikan rata ke setiap kepala keluarga.
Ini menyiratkan rasa gotong royong yang masih dijunjung tinggi oleh masyarakat
desa Long Ranau. Gotong royong yang tinggi merupakan salah satu ciri masyarakat
yang masih tradisional. Penduduk desa Long Ranau mendapatkan pendapatannya dari
dana desa, jadi setiap kepala keluarga mendapatkan sejumlah uang yang dibagikan
secara rata. Karena penduduk desa Long Ranau tidak terlalu banyak maka hal ini
bisa dilakukan. Ketika saya bertanya pada mereka apakah mereka tidak ingin
merubah nasib mereka dengan keluar dari desa lalu bekerja di kota untuk
mendapatkan penghasilan tambahan. Mereka mengatakan bahwa ini tanah leluhur
mereka jadi mereka harus menjaga dan merawatnya. Salah satu warga mengatakan
pada saya bahwa “kita yang kuat wajib
menanggung mereka yang lemah, begitu pula kita tidak boleh mencari kesenangan
untuk diri sendiri, kita harus mencari kesenangan untuk kita bersama. Seperti
Tuhan Yesus yang rela berkorban untuk umat-Nya”. Ditambah dengan tingkat
pendidikan yang mereka miliki tidak banyak pekerjaan yang bisa mereka lakukan.
Lalu “label” yang sudah melekat pada masyarakat Dayak Punan menjadikan mereka
malu dan minder dengan kedadaan mereka. Perlu diketahui bahwa masyarakat umum
mengangap bahwa suku Dayak Punan merupakan suku yang paling primitif, yang
identik dengan tingkat pendidikan yang rendah, tingkat sanitasi yang rendah,
penampilan yang bisa dibilang kampungan dan suka meminta barang-barang yang
kita miliki. Pandangan-pandangan seperti inilah yang menjadikan anak-anak suku
Punan rendah diri dan berkecil hati. Selama kurang lebih 5 bulan penulis hidup
ditengah-tengah mereka, anggapan-anggapan negatif tentang suku Punan tidak
sepenuhnya terbukti. Mereka sangat baik pada kami, kami begitu dijaga dengan
baik oleh mereka. Saat kami jauh dari orangtua kami, merekalah yang merawat dan
menjaga kami. Saat kami kesulitan tanpa kami harus mengutarakan pada mereka,
mereka dengan sigapnya membantu kami. Mereka sangat peka dengan keadaan yang
ada. Memang betul suku Punan di desa Long Ranau bisa dibilang masih tertinggal
jika dibandingkan dengan suku yang lain. Namun untuk masalah sanitasi,
penampilan, dll bisa dibilang sudah cukup bagus jika dibandingkan dengan 5 atau
10 tahun yang lalu.
Selama saya
hidup ditengah-tengah mereka, saya melihat banyak dari mereka yang masih kurang
beruntung. Ini yang membuat saya lebih bersyukur dengan hidup yang sudah
diberikan Tuhan kepada saya. Rasanya sekarang saya sudah tidak punya alasan
untuk mengeluh dengan hidup yang saya jalani karena saya jauh lebih beruntung
jika dibandingkan dengan mereka. Lalu sisi kemanusiaan saya terusik melihat
banyak dari anak-anak di sana yang hanya memiliki tiga helai pakaian saja untuk
dikenakan. Mereka tetap mengenakan pakaian yang lusuh karena hanya itu saja
pakaian yang mereka punya. Ada pula anak usia balita usia satu atau dua tahun
yang tidak mengenakan pakaian. Inilah realita mereka yang hidup di hulu sungai,
mereka yang terhempas dari hiruk pikunya keramaian di kota, mereka yang hidup
di tengah keterbatasan dan kekurangan. Mereka yang tetap bisa hidup dengan
bahagia di tengah-tengah kesunyian hutan Kalimantan. Harapan mereka sederhana,
mereka hanya ingin tetap hidup bersama-sama dengan semangat gotong royongnya
melewati tahun demi tahun ke depan. Memang tidak salah jika mengejar kebahagiaan
pribadi karena itu merupakan hak setiap manusia. Namun tidakah etis jika kita
mengejar kebahagiaan pribadi sedangkan ada saudara di samping kita yang untuk
memenuhi kebutuhan dasarnya saja masih kesulitan. Desa Long Ranau mengajarkan
saya banyak hal, saya melihat sebuah masyarakat yang sudah tidak pernah akan
saya lihat lagi di luar sana, di Jawa terutama. Sebuah masyarakat yang bagi
banyak orang bisa dikatakan “utopis”. Boleh saja mereka yang di luar sana
mengatakan penduduk suku Punan primitif dan terbelakang namun ada hal yang
membuat masyarakat suku Punan lebih baik dari mereka, yaitu sisi kemanusiaan,
kesederhanaan, dan kebersamaan yang bagi sebagian masyarakat di luar sana sudah
lama ditinggalkan karena pengaruh budaya materialistik. Masyarakat desa Long
Ranau bisa dijadikan contoh untuk kita semua bahwasanya walaupun kita hidup
ditengah kekurangan namun kita tidak boleh kehilangan kepedualian dan
kemanusiaan terhadap sesama. Desa Long Ranau merupakan masyarakat yang ideal
dan sesuai dengan budaya bangsa Indonesia yang menjunjung nilai-nilai
Pancasila, sebuah masyarakat yang diharapkan bisa menjadi role model bagi masyarakat
Indonesia yang sudah digerus oleh arus globalisasi. Saat ini fokus pendidikan
kita sudah beralih dari penguatan layanan pendidikan (ketersediaan,
keterjangkauan, kualitas, kesetaraan dan kepastian/keterjaminan) menjadi
pendidikan yang memiliki daya saing regional. Sudah ramai orang di luar sana
membicarakan soal MEA (Masyarakat Ekonomi ASEAN), namun mereka yang di
pedalaman tidak mengetahui apa itu MEA. Mereka tetap melanjutkan hidup seperti
biasanya. Disaat negara-negara tetangga sudah mulai mengekspor tenaga kerjanya
yang terampil, kita masih berkutat pada pemerataan dan meningkatkan
keterjangkauan pendidikan. Memang peningkatan kualitas pendidikan tidak hanya
dipengaruhi oleh satu faktor saja namun banyak faktor yang mempengaruhi
ditambah karakteristik setiap daerah di Indonesia berbeda-beda menjadikan
permasalahan pendidikan di Indonesia menjadi masalah yang kompleks. Dengan berbekal
niat dan usaha dari pemerintah saat ini, saya percaya pendidikan di Indonesia
akan semakin maju dan putra-putri kita dapat bersaing dengan anak-anak dari
negara lain.
Untuk pertama kalinya
dalam hidup, saya merasa berguna dan bermanfaat bagi orang lain. Karena
sebaik-baik manusia merupakan manusia yang berguna dan bermanfaat bagi sesame.
Sekarang saya menyadari bahwa setiap makhluk hidup yang diciptakan Tuhan
memiliki peran dan fungsinya masing-masing. Saya ingin bisa berbuat lebih
banyak lagi untuk mereka. Dengan berbekal keikhlasan semoga apa yang kami
lakukan bisa membawa berkah bagi semua. Amin. Nelson Mandela pernah mengatakan “What counts in life is not the mere fact that we have lived. It is what difference we have made to the lives of others that
will determine the significance of the life we lead”. (sev)
Sevtyan, Long Ranau



























































