Pada
tanggal 10 September 2015 di Desa Metut ada acara pengukuhan Kader Tim Sukses
YATOP yaitu Yansen dan Topan yang dilantik langsung oleh Bapak Yansen sendiri.
Kami menemui beliau Bapak Yansen sekedar jabat tangan dan memperkenalkan diri
bahwa kami adalah guru SM3T. Kami mendapat pesan dari Bapak Yansen untuk selalu
semangat, kreatif, inovatif, serta mengabdi untuk masyarakat. Bapak Yansen
mengatakan “saya pernah lebih sengsara dari kalian, dulu saya pernah tinggal di
daerah yang tidak ada listrik dan tidak ada jalan maka itu akan menjadi kenangan/
pengalaman berharga yang tidak akan pernah dilupakan dan cerita yang menarik
untuk kehidupan nantinya”. Saya berterima kasih atas semangat yang diberikan
oleh Bapak Yansen untuk kami. Beliau memimpin kabupaten Malinau dari tahun
2011-sekarang. Beliau mendatangi masyarakat yang membutuhkan, mendengarkan
aspirasi, dan mengawasi perkembangan pembangunan desa. Dana yang sangat besar
untuk pembangunan desa seharusnya memberikan kontribusi nyata untuk masyarakat
sekitar.
Dialog Bupati Malinau dengan masyarakat desa Metut
Proses berlangsungnya acara
Pengabdian Masyarakat
Setelah kegiatan belajar mengajar sekolah selesai selanjutnya saya mengajari anak-anak mengaji iqro, al-qur’an, dan doa-doa sholat di Kampung lokasi Desa Metut. Saya pertama kali mengikuti kegiatan tersebut karena diajak oleh Bapak Gunawan, S.Pd.. Di Desa Metut umat muslim tidak mempunyai tempat ibadah berupa mushola maupun masjid dan pembangunan masjid segera dilaksanakan menggunakan anggaran desa. Kami mengajari anak-anak mengaji di rumah Bapak Arnol atau Bapak Hamzah. Sebelum listrik masuk kampung lokasi, saya mengajari anak mengaji iqro di rumah bapak Hamzah. Setelah listrik masuk kampung lokasi, saya pindah tempat untuk mengajari anak mengaji di rumah bapak Arnol. Anak-anak sangat antusias belajar mengaji iqro bahkan para orang tua juga sudah mulai mau ikut belajar mengaji karena ada yang mengajari mereka. Sebenarnya umat muslim Desa Metut membutuhkan tokoh agama untuk dapat membimbing jalan yang diridhai Alloh SWT. Umat islam Desa Metut tidak pernah melaksanakan sholat padahal amalan yang pertama dihisab dan tiang agama adalah sholat. Hal tersebut mendorong saya mengajari anak-anak dapat melaksanakan sholat dan membaca al-qur’an. Kami juga membantu kegiatan masyarakat seperti membantu renovasi sekolah, membuat pemisah kelas, dan memperbaiki plafon/langit-langit.
Kegiatan
mengaji iqro untuk anak
Kegiatan
mengaji Al-Qur’an untuk dewasa
Membantu renovasi sekolah
Proses renovasi sekolah
Habis Terang
Terbitlah Gelap & Jaringan Sibuk!
Penerangan yang minim saat
malam membuat saya harus membawa senter dari baterai dan Hand Phone (HP).
Masyarakat desa menggunakan mesin diesel dan jetsett untuk sumber listrik.
Listrik akan menyala dari pukul 18.30-22.30 WITA maka pada jam tersebut saya
harus mulai menge-charge HP dan laptop. Listrik tersebut dibiayai dengan cara
iuran Rp10.000,- sampai Rp20.000,-/rumah dan tergantung alat elektronik yang
digunakan. Hal ini menjadi pengalaman berharga bagi saya untuk mampu bertahan
dengan “keterbatasan”. Siswa saya saja dapat bertahan dengan keterbatasan
tersebut maka saya harus dapat bertahan dan memotivasi mereka untuk lebih mandiri,
kreatif, dan inovatif. Sejak datang di Desa Metut saya tidak pernah menonton
televisi dan tidak tahu informasi perkembangan dunia luar. Biasanya menonton
televisi merupakan kegiatan rutin namun bagi masyarakat metut, televisi
merupakan barang mewah yang diluar jangkauan ekonomi. Hanya orang-orang
tertentu saja yang mempunyai televisi di rumahnya. Harapan saya mudah-mudahan
segera terwujud “Habis Gelap Terbitlah Terang” untuk akses listrik PLN masuk
Kecamatan Malinau Selatan Hulu
Kondisi
rumah dinas guru tampak luar
Rumah
dinas tampak dalam; dapur
Selain
masalah listrik, saya dan teman-teman di Desa Metut terkendala sinyal Hand
Phone (HP). Hanya operator tertentu saja yang menerima jangkauan luas yaitu
Telkomsel seperti kartu AS dan Simpati. Sinyal HP di Desa Metut hanya terdapat
pada daerah tertentu saja.Tempat atau spot sinyal yaitu gunung cinta, gunung
pare, gunung rindu. Saya pernah bertanya nama gunung seperti orang pacaran saja
dan nama tersebut diambil dari rasa melepas “cinta” pada keluarga dan “rindu”
menanyakan kabar sanak-saudara yang jauh. Pengalaman pertama untuk mencari
sinyal yaitu gunung pare. Lokasi untuk mendapatkan sinyal HP di Gunung Pare
terletak di tepi jalan “logging” (penebangan kayu) dan kami harus menghadap ke
jurang untuk mendapatkan sinyal yang diinginkan jika salah melangkah kami
terjun bebas ke dasar jurang. Ketika mencari sinyal di Gunung Pare saat malam
hari, saya berpapasan/ bertemu truk logging yang ukurannya memenuhi jalan raya
maka kami harus menepi ke tepi jalan. Truk logging membawa kayu gelondongan
lebih dari 1 meter diameter batangnya.
Spot
sinyal Gunung Pare
Spot
gunung pare sebagai jalur perlintasan logging
Bapak
Ronny mengajak saya, rini, feri untuk mencari sinyal di Gunung Cinta. Spot
sinyal gunung cinta lebih ekstrim dari gunung pare yaitu kami harus mencari
sinyal naik tebing batu yang curam. Kami harus sabar mengirim kabar ke keluarga
di jawa karena sinyal kadang datang dan pergi jika tidak ada sinyal kami harus
berpindah tempat dan berhati-hati melangkah jika salah melangkah maka nyawa
menjadi taruhannya.
Spot
sinyal Gunung Cinta
Menelpon
di pinggir tebing batu
Spot
sinyal yang terdekat dengan mess yaitu gunung rindu. Gunung rindu hanya dapat ditempuh
dengan jalan kaki, harus masuk hutan, naik 2 bukit 1 lembah, dan lama
perjalanan kurang lebih 15-30 menit. Setelah sampai di gunung rindu terdapat
pondok untuk kami beristirahat. Pondok tersebut dibangun untuk istirahat petani
ladang. Perjalanan ke gunung rindu sebenarnya sekaligus berolahraga karena
keringat keluar semua dari tubuh. Pemandangan gunung rindu luar biasa indahnya.
Saya dapat melihat keindahan hutan yang ada di sekitar Desa Metut.
Posisi
spot paling bagus Gunung Rindu
pondok
rindu dan posisi paling nyaman untuk istirahat di Gunung Rindu
Selain
menggunakan sinyal HP jika ingin berkomunikasi dengan rekan-rekan guru SM-3T di
Malinau Kota yaitu menggunakan sinyal wifi. Sinyal wifi hanya terdapat di
Kantor Kecamatan Malinau Selatan Hulu. Lama perjalanan 15 menit menggunakan
motor jika jalan kaki sekitar 2 jam. Kami selalu bersemangat jika ada yang
mengajak ke kantor kecamatan dan biasanya langsung berkemas dan berangkat
kadang lupa makan dan mandi.
Posisi
nyaman berkomunikasi di pedalaman Kalimantan
Spot
sinyal wifi di Kantor Kecamatan Malinau Selatan Hulu
Bahkan
kami pernah kecewa jika ternyata sinyal wifi sedang mengalami gangguan maka
yang dapat dilakukan hanya duduk dan bemain game HP atau melihat pesan WA
rekan-rekan SM3T kiriman sebelumnya. Saya hanya mempunyai “HP Black Battery”
jadi tidak ada sinyal wifi dan hanya menggunakan sinyal dari operator. Ketika
mereka pulang dari kantor kecamatan maka saya menanyakan kabar rekan-rekan SM3T
di Malinau Kota.
Survival Di
Sungai Uli
Di Desa Metut bahan makanan
tidak menjadi masalah karena semua sudah tersedia di lingkungan sekitar.
Sayuran yang mudah dijumpai yaitu daun singkong dan pakis. Saya makan sayur
daun singkong dan pakis hampir setiap minggu. Hal tersebut sudah biasa bagi
saya di jawa karena singkong merupakan tanaman yang mudah untuk ditanam dan
pakis tumbuh subur disekitar hutan Desa Metut. Sayuran tersebut tidak hanya
ditanam secara organik namun “super organik” tanpa menggunakan kimia. Hal unik
yang saya temukan yaitu cara memasak daun singkong. Di Jawa umumnya daun
singkong direbus untuk lalap atau diberi santan (bobor) namun masyarakat desa
metut sebelum daun singkong ditumis, daun tersebut ditumbuk sampai hancur
terlebih dahulu. Saya hampir tidak mengenali jika sayur tersebut berasal dari
daun singkong kecuali setelah merasakannya/memakannya.
Proses
memasak daun singkong
Sayur
daun singkong siap dihidangkan
Lauk
hampir tidak pernah kekurangan yaitu berupa ikan sungai yang banyak jenisnya
karena desa metut dikelilingi dan pertemuan antara sungai uli dan sungai
malinau. Masyarakat biasanya beburu saat malam hari seperti babi, musang,
landak, payau (rusa). Ikan sungai hampir setiap minggu kami makan.
Hasil
tangkapan ikan sungai dengan memancing, pukat & menyelam
Mandi
sekaligus “diving” di Sungai
Lingkungan
yang masih terjaga sehingga ikan cukup banyak dijumpai. Jenis ikan sungai meliputi
Ikan Salap, Ikan Gurameh, Ikan Gabus (Snake head), Ikan Parut, Ikan Belut, dan
Ikan Baung. Kami tidak akan kekurangan bahan makanan di Hulu.



























0 comments:
Post a Comment