Saturday, March 5, 2016

Ragam Kegiatan Di Sungai Uli

Bertemu Bupati Malinau Di Sungai Uli

Pada tanggal 10 September 2015 di Desa Metut ada acara pengukuhan Kader Tim Sukses YATOP yaitu Yansen dan Topan yang dilantik langsung oleh Bapak Yansen sendiri. Kami menemui beliau Bapak Yansen sekedar jabat tangan dan memperkenalkan diri bahwa kami adalah guru SM3T. Kami mendapat pesan dari Bapak Yansen untuk selalu semangat, kreatif, inovatif, serta mengabdi untuk masyarakat. Bapak Yansen mengatakan “saya pernah lebih sengsara dari kalian, dulu saya pernah tinggal di daerah yang tidak ada listrik dan tidak ada jalan maka itu akan menjadi kenangan/ pengalaman berharga yang tidak akan pernah dilupakan dan cerita yang menarik untuk kehidupan nantinya”. Saya berterima kasih atas semangat yang diberikan oleh Bapak Yansen untuk kami. Beliau memimpin kabupaten Malinau dari tahun 2011-sekarang. Beliau mendatangi masyarakat yang membutuhkan, mendengarkan aspirasi, dan mengawasi perkembangan pembangunan desa. Dana yang sangat besar untuk pembangunan desa seharusnya memberikan kontribusi nyata untuk masyarakat sekitar.
Dialog Bupati Malinau dengan masyarakat desa Metut
Proses berlangsungnya acara

Pengabdian Masyarakat

Setelah kegiatan belajar mengajar sekolah selesai selanjutnya saya mengajari anak-anak mengaji iqro, al-qur’an, dan doa-doa sholat di Kampung lokasi Desa Metut. Saya pertama kali mengikuti kegiatan tersebut karena diajak oleh Bapak Gunawan, S.Pd.. Di Desa Metut umat muslim tidak mempunyai tempat ibadah berupa mushola maupun masjid dan pembangunan masjid segera dilaksanakan menggunakan anggaran desa. Kami mengajari anak-anak mengaji di rumah Bapak Arnol atau Bapak Hamzah. Sebelum listrik masuk kampung lokasi, saya mengajari anak mengaji iqro di rumah bapak Hamzah. Setelah listrik masuk kampung lokasi, saya pindah tempat untuk mengajari anak mengaji di rumah bapak Arnol. Anak-anak sangat antusias belajar mengaji iqro bahkan para orang tua juga sudah mulai mau ikut belajar mengaji karena ada yang mengajari mereka. Sebenarnya umat muslim Desa Metut membutuhkan tokoh agama untuk dapat membimbing jalan yang diridhai Alloh SWT. Umat islam Desa Metut tidak pernah melaksanakan sholat padahal amalan yang pertama dihisab dan tiang agama adalah sholat. Hal tersebut mendorong saya mengajari anak-anak dapat melaksanakan sholat dan membaca al-qur’an. Kami juga membantu kegiatan masyarakat seperti membantu renovasi sekolah, membuat pemisah kelas, dan memperbaiki plafon/langit-langit.
Kegiatan mengaji iqro untuk anak
Kegiatan mengaji Al-Qur’an untuk dewasa
Membantu renovasi sekolah
Proses renovasi sekolah

Habis Terang Terbitlah Gelap & Jaringan Sibuk!

Penerangan yang minim saat malam membuat saya harus membawa senter dari baterai dan Hand Phone (HP). Masyarakat desa menggunakan mesin diesel dan jetsett untuk sumber listrik. Listrik akan menyala dari pukul 18.30-22.30 WITA maka pada jam tersebut saya harus mulai menge-charge HP dan laptop. Listrik tersebut dibiayai dengan cara iuran Rp10.000,- sampai Rp20.000,-/rumah dan tergantung alat elektronik yang digunakan. Hal ini menjadi pengalaman berharga bagi saya untuk mampu bertahan dengan “keterbatasan”. Siswa saya saja dapat bertahan dengan keterbatasan tersebut maka saya harus dapat bertahan dan memotivasi mereka untuk lebih mandiri, kreatif, dan inovatif. Sejak datang di Desa Metut saya tidak pernah menonton televisi dan tidak tahu informasi perkembangan dunia luar. Biasanya menonton televisi merupakan kegiatan rutin namun bagi masyarakat metut, televisi merupakan barang mewah yang diluar jangkauan ekonomi. Hanya orang-orang tertentu saja yang mempunyai televisi di rumahnya. Harapan saya mudah-mudahan segera terwujud “Habis Gelap Terbitlah Terang” untuk akses listrik PLN masuk Kecamatan Malinau Selatan Hulu
Kondisi rumah dinas guru tampak luar
Rumah dinas tampak dalam; dapur
Selain masalah listrik, saya dan teman-teman di Desa Metut terkendala sinyal Hand Phone (HP). Hanya operator tertentu saja yang menerima jangkauan luas yaitu Telkomsel seperti kartu AS dan Simpati. Sinyal HP di Desa Metut hanya terdapat pada daerah tertentu saja.Tempat atau spot sinyal yaitu gunung cinta, gunung pare, gunung rindu. Saya pernah bertanya nama gunung seperti orang pacaran saja dan nama tersebut diambil dari rasa melepas “cinta” pada keluarga dan “rindu” menanyakan kabar sanak-saudara yang jauh. Pengalaman pertama untuk mencari sinyal yaitu gunung pare. Lokasi untuk mendapatkan sinyal HP di Gunung Pare terletak di tepi jalan “logging” (penebangan kayu) dan kami harus menghadap ke jurang untuk mendapatkan sinyal yang diinginkan jika salah melangkah kami terjun bebas ke dasar jurang. Ketika mencari sinyal di Gunung Pare saat malam hari, saya berpapasan/ bertemu truk logging yang ukurannya memenuhi jalan raya maka kami harus menepi ke tepi jalan. Truk logging membawa kayu gelondongan lebih dari 1 meter diameter batangnya.
Spot sinyal Gunung Pare
Spot gunung pare sebagai jalur perlintasan logging

Bapak Ronny mengajak saya, rini, feri untuk mencari sinyal di Gunung Cinta. Spot sinyal gunung cinta lebih ekstrim dari gunung pare yaitu kami harus mencari sinyal naik tebing batu yang curam. Kami harus sabar mengirim kabar ke keluarga di jawa karena sinyal kadang datang dan pergi jika tidak ada sinyal kami harus berpindah tempat dan berhati-hati melangkah jika salah melangkah maka nyawa menjadi taruhannya.
Spot sinyal Gunung Cinta
Menelpon di pinggir tebing batu

Spot sinyal yang terdekat dengan mess yaitu gunung rindu. Gunung rindu hanya dapat ditempuh dengan jalan kaki, harus masuk hutan, naik 2 bukit 1 lembah, dan lama perjalanan kurang lebih 15-30 menit. Setelah sampai di gunung rindu terdapat pondok untuk kami beristirahat. Pondok tersebut dibangun untuk istirahat petani ladang. Perjalanan ke gunung rindu sebenarnya sekaligus berolahraga karena keringat keluar semua dari tubuh. Pemandangan gunung rindu luar biasa indahnya. Saya dapat melihat keindahan hutan yang ada di sekitar Desa Metut.
Posisi spot paling bagus Gunung Rindu
pondok rindu dan posisi paling nyaman untuk istirahat di Gunung Rindu

Selain menggunakan sinyal HP jika ingin berkomunikasi dengan rekan-rekan guru SM-3T di Malinau Kota yaitu menggunakan sinyal wifi. Sinyal wifi hanya terdapat di Kantor Kecamatan Malinau Selatan Hulu. Lama perjalanan 15 menit menggunakan motor jika jalan kaki sekitar 2 jam. Kami selalu bersemangat jika ada yang mengajak ke kantor kecamatan dan biasanya langsung berkemas dan berangkat kadang lupa makan dan mandi.
Posisi nyaman berkomunikasi di pedalaman Kalimantan
Spot sinyal wifi di Kantor Kecamatan Malinau Selatan Hulu

Bahkan kami pernah kecewa jika ternyata sinyal wifi sedang mengalami gangguan maka yang dapat dilakukan hanya duduk dan bemain game HP atau melihat pesan WA rekan-rekan SM3T kiriman sebelumnya. Saya hanya mempunyai “HP Black Battery” jadi tidak ada sinyal wifi dan hanya menggunakan sinyal dari operator. Ketika mereka pulang dari kantor kecamatan maka saya menanyakan kabar rekan-rekan SM3T di Malinau Kota.

Survival Di Sungai Uli
Di Desa Metut bahan makanan tidak menjadi masalah karena semua sudah tersedia di lingkungan sekitar. Sayuran yang mudah dijumpai yaitu daun singkong dan pakis. Saya makan sayur daun singkong dan pakis hampir setiap minggu. Hal tersebut sudah biasa bagi saya di jawa karena singkong merupakan tanaman yang mudah untuk ditanam dan pakis tumbuh subur disekitar hutan Desa Metut. Sayuran tersebut tidak hanya ditanam secara organik namun “super organik” tanpa menggunakan kimia. Hal unik yang saya temukan yaitu cara memasak daun singkong. Di Jawa umumnya daun singkong direbus untuk lalap atau diberi santan (bobor) namun masyarakat desa metut sebelum daun singkong ditumis, daun tersebut ditumbuk sampai hancur terlebih dahulu. Saya hampir tidak mengenali jika sayur tersebut berasal dari daun singkong kecuali setelah merasakannya/memakannya.
Proses memasak daun singkong
Sayur daun singkong siap dihidangkan

Lauk hampir tidak pernah kekurangan yaitu berupa ikan sungai yang banyak jenisnya karena desa metut dikelilingi dan pertemuan antara sungai uli dan sungai malinau. Masyarakat biasanya beburu saat malam hari seperti babi, musang, landak, payau (rusa). Ikan sungai hampir setiap minggu kami makan.
Hasil tangkapan ikan sungai dengan memancing, pukat & menyelam
Mandi sekaligus “diving” di Sungai

Lingkungan yang masih terjaga sehingga ikan cukup banyak dijumpai. Jenis ikan sungai meliputi Ikan Salap, Ikan Gurameh, Ikan Gabus (Snake head), Ikan Parut, Ikan Belut, dan Ikan Baung. Kami tidak akan kekurangan bahan makanan di Hulu.

0 comments:

luvne.com resepkuekeringku.com desainrumahnya.com yayasanbabysitterku.com

Post a Comment