Mancing Mania
Ala MASEHU Di Hulu Sungai Malinau
Aktivitas kami jika hari
libur & tidak ada kegiatan sekolah yaitu kami mengisi dengan jalan-jalan
bersama siswa untuk menambah keakraban, kekeluargaan, & kebersamaan,
seperti piknik, memancing, & berenang di Sungai. Kegiatan tersebut menjadi
hiburan sekaligus liburan bagi kami untuk menghilangkan kejenuhan &
kepenatan dari rutinitas sehari-hari.
Piknik
bersama anak sungai uli
Makan
bersama anak sungai uli
Pada
minggu, 4 Oktober 2015 saya & rini mendapat undangan memancing dari Rian
dan Loren untuk pergi memancing di Hulu Sungai dengan ketinting. Undangan
tersebut tidak kami sia-siakan dan mempersiapkan segala sesuatu untuk
memancing. Ketinting merupakan perahu kecil dengan motor tempel di bagian
belakang. Ketinting menjadi salah satu alat transportasi alternatif masyarakat
Desa Metut melalui sungai. Perasaan naik ketinting pertama kali yaitu
berdebar-debar dan banyak berdoa karena harus melawan arus sungai menuju hulu.
Daerah hulu masih alami & banyak ikan besar sehingga daerah yang baik &
bagus untuk memancing. Di tengah perjalanan kami berhenti di Desa Naha Kramo
Baru untuk menjemput Feri & Nurul. Mereka terkejut dengan kedatangan kami
kemudian kami mengatakan tujuan kedatangan untuk mengajak mereka memancing di
Hulu Sungai. Mereka sangat senang saat kami ajak dan mewajibkan mereka untuk
membawa perlengkapan memasak. Lama perjalanan dari desa Metut ke Naha Kramo
sekitar 15-20 menit. Setelah semua perlengkapan siap maka kami berangkat menuju
hulu untuk memulai pengalaman perjalanan melihat hutan Malinau Selatan Hulu.
Perjalanan terasa menyenangkan ketika harus melewati “giram” (gelombang) sungai
yang deras, besar, & dangkal.
Pengalaman
Pertama naik ketinting menerjang ‘giram’(gelombang)
Menikmati
perjalanan naik ketinting
Koordinasi
antara sopir ketinting di buritan dengan juru batu di haluan untuk mengarahkan
posisi ketinting agar tidak karam. Kami justru sibuk perpegangan pada tepi
ketinting melihat sekitar dan mengamati pergerakan ketinting melawan arus
sungai. Lama perjalanan sekitar 30 menit dari Naha Kramo, akhirnya kami sampai
di spot memancing pertama tetapi kami harus mencari umpan dahulu yaitu cacing.
Cacing menjadi umpan favorit bagi pemancing ikan dan melimpah di tepi sungai.
Terkadang cacing itu dimakan juga oleh pemancing karena frustasi tidak
mendapatkan ikan.
Mencari
cacing untuk umpan
Ketahan
malangan (makan cacing) di hulu sungai
Memancing
ikan sungai, kail harus diberi pemberat agar tidak hanyut mengikuti arus
sungai. Memancing ikan selama 2 jam tidak mendapatkan hasil tangkapan maka kami
putuskan untuk pindah spot memancing kedua yaitu hilir sungai atau Desa Naha
Kramo lama. Keberuntungan akhirnya berpihak pada kami karena mendapatkan tiga
ekor ikan sungai; ikan salap dan baung. Kemudian kami membakar hasil ikan
tangkapan dengan bumbu seadanya setelah ikan matang kami menyantap hidangan
dengan lahap.
Akhir
dari sebuah kesabaran memancing
Makan
siang hasil tangkapan memancing
Akhirnya
perjalanan memacing usai setelah acara makan selesai. Kami membereskan barang
dan alat-alat memancing kemudian bergegas pulang agar tidak terlalu sore sampai
di Desa Metut. Kami mengantarkan Feri dan nurul pulang ke mes Naha Kramo. Kami
pulang ke desa Metut pukul 18.30 WITA kemudian mandi & Ishoma. Akhir
perjalanan memancing yang menyenangkan sekaligus mendebarkan ala Malinau
Air Terjun
Marthin Billa
Pada hari rabu, 14 Oktober
2015 libur tahun baru islam 1437 hijriyah, kami membuat rencana untuk pergi
berwisata tetapi tempat tujuan wisata sudah ditentukan 2 hari sebelumnya yaitu
Obyek Wisata Air Terjun Marthin Billa. Sebelum berangkat kami membuat rencana
pemberangkatan seperti Feri, Nurul, Rini sudah memiliki ‘tebengan” (tumpangan)
kendaraan sepeda motor masing-masing sedangkan saya tidak mempunyai “tebengan”
motor. Ketika saya ditanya oleh teman-teman mengatakan “saya akan boncengan
dengan bapak Ronny ke Marthin Billa” kemudian disambut oleh suara tertawa dari
rekan-rekan semua karena mereka baru sadar bahwa boncengan dengan Bapak Ronny
tidak di belakang tetapi disamping karena menggunakan mobil Mitsubishi Strada 4
WD. Akhirnya hari-hari yang ditunggu tiba juga tetapi cuaca tidak mendukung
karena malam hari sebelumnya diguyur hujan deras sehingga Feri & Nurul
tidak datang dari Desa Naha Kramo Baru. Keinginan besar Bapak Ronny untuk tetap
berwisata akhirnya membulatkan tekad kami untuk berangkat. Kendala yang
dihadapi yaitu penjemput Feri & Nurul. Saat mencari penjemput Iwan bertemu
dengan Bapak Agus Uboh bahwa tetap berangkat ke Marthin Billa yang akhirnya
penjempunya sudah lengkap yaitu Bapak Urbanus & Agus Uboh. Saat menunggu
Feri & Nurul turun hujan sebentar maka kami mulai berfikir jika
pemberangkatan ditunda sementara/ tidak jadi berangkat. Hujan turun selama 25
menit yang membasahi jalan lumpur di Desa Metut. Tetapi kedatangan Feri &
Nurul menambah haru karena mereka harus basah kuyup kehujanan & jaket SM3T Feri
robek karena masuk roda belakang motor di perjalanan. Berdasarkan pengamatan
Bapak Agus & Urbanus hujan turun sekitar Lokasi dan Kampung saja tidak
merata turun hujan. Setelah hujan berhenti kami berangkat menuju obyek wisata
Marthin Billa. Perjalanan menuju obyek wisata sekitar 1 jam. Kami melewati
jalan yang cukup mulus dan lancar tidak ada hambatan. Kami menikmati perjalanan
dengan mengobrol dan bercanda. Kami juga melewati Camp logging untuk menyimpan
kayu. Perjalanan yang menyenangkan tidak terasa telah sampai tempat tujuan.
Masuk obyek wisata Marthin Billa disambut pintu gerbang. Gerbang masuk yang
jalannya sudah aspal sehingga dapat dilalui kendaraan. Mobil hanya dapat masuk
sekitar 50 meter dari gerbang masuk karena terhambat semak belukar yang
menutupi jalan sehingga kami melanjutkan perjalanan dengan jalan kaki. Selama
perjalanan kami harus berhati-hati karena banyak tanaman berduri yang menutupi
jalan.
Perjalanan
menuju air terjun
Kami
menjumpai pondok peristirahatan yang sudah tidak digunakan lagi sehingga
berkesan seperti rumah berhantu & angker. Kami harus menyeberangi sungai
dengan kedalaman air 50 cm karena jembatan untuk menyeberang tinggal kawat baja
penopang. Saat menyeberang saya teringat prakondisi yaitu penyeberangan basah.
Penyeberangan
basah ala SM3T MASEHU
Setelah
melewati sungai kami menelusuri jalan yang terbuat dari kayu ulin dan ditumbuhi
lumut sehingga harus hati-hati berjalan karena licin sekali. Rasa lelah
terbayarkan oleh pemandangan air terjun yang indah dengan ketinggian 75 meter.
Kami langsung mengambil gambar air terjun untuk kenang-kenangan. Air dari air
terjun terasa dingin dan sejuk sekali maka diantara kami sudah tidak sabar
untuk pergi berenang ke bawah air terjun. Saya menyusul berenang sendirian dan
sensasi dibawah air terjun yaitu badan seperti tertusuk jarum karena airnya
terasa dingin sekali saat terkena kulit apalagi badan saya yang kurus kerempeng
jadi semakin terasa tusukannya
Keharmonisan
bersama guru SATAP dibawah air terjun Marthin Billa
Setelah
puas terapi air terjun saya berenang ke seberang untuk mengikuti sesi foto
bersama dengan background air terjun. Kami mencoba beberapa gaya dan banyak
kamera yang digunakan sehingga kami puas dengan hasil foto-fotonya. Setela puas
berfoto kami istirahat dan menyantap bekal yang dibawa dari rumah yaitu nasi,
mie goreng, sayur daun ubi dan terong, keripik pisang, air minum. Makanan
sederhana terasa nikmat sekali karena kebersamaan yang terjalin.
Piknik
bareng guru SATAP
Setelah
makanan sudah habis bersih disantap kemudian kami bergegas pulang karena sudah
sore. Sebelum pulang kami berfoto bersama di depan gerbang masuk Obyek Wisata
Air Terjun Marthin Billa karena ketika datang kami langsung menuju air terjun.
Rasa lelah bercanda dan kegembiraan masih terasa menuju mes. Bapak Ronny ingin
mengantarkan Feri & Nurul ke Naha Kramo Baru untuk mencoba jalan baru
kesana. Kami sempat khawatir saat melewati tanjakan dan mobil tidak kuat
menanjak kemudian mundur kembali untuk mengambil ancang-ancang agar menambah
dorongan. Setelah beberapa kali mencoba akhirnya kami berhasil melewati
tanjakan tersebut. Lama perjalanan menuju Naha Kramo Baru selama 35 menit
menempuh jarak 3 kilometer karena harus melewati 3 bukit dan 2 lembah. Saya
sampai desa Metut sekitar pukul 18.30 WITA dan berakhirlah perjalanan wisata
untuk hari ini
Pintu
gerbang obyek wisata air terjun
“Manakala kerja merupakan
kesenangan maka hidup merupakan kegembiraan & manakala kerja merupakan
kewajiban maka hidup merupakan perbudakan”
Febi & Iwan, Sungai Uli





















0 comments:
Post a Comment