Saturday, March 5, 2016

KESENANGAN MENJADI KEGEMBIRAAN HIDUP DARI MALINAU SELATAN HULU

Mancing Mania Ala MASEHU Di Hulu Sungai Malinau
Aktivitas kami jika hari libur & tidak ada kegiatan sekolah yaitu kami mengisi dengan jalan-jalan bersama siswa untuk menambah keakraban, kekeluargaan, & kebersamaan, seperti piknik, memancing, & berenang di Sungai. Kegiatan tersebut menjadi hiburan sekaligus liburan bagi kami untuk menghilangkan kejenuhan & kepenatan dari rutinitas sehari-hari.
Piknik bersama anak sungai uli
Makan bersama anak sungai uli

Pada minggu, 4 Oktober 2015 saya & rini mendapat undangan memancing dari Rian dan Loren untuk pergi memancing di Hulu Sungai dengan ketinting. Undangan tersebut tidak kami sia-siakan dan mempersiapkan segala sesuatu untuk memancing. Ketinting merupakan perahu kecil dengan motor tempel di bagian belakang. Ketinting menjadi salah satu alat transportasi alternatif masyarakat Desa Metut melalui sungai. Perasaan naik ketinting pertama kali yaitu berdebar-debar dan banyak berdoa karena harus melawan arus sungai menuju hulu. Daerah hulu masih alami & banyak ikan besar sehingga daerah yang baik & bagus untuk memancing. Di tengah perjalanan kami berhenti di Desa Naha Kramo Baru untuk menjemput Feri & Nurul. Mereka terkejut dengan kedatangan kami kemudian kami mengatakan tujuan kedatangan untuk mengajak mereka memancing di Hulu Sungai. Mereka sangat senang saat kami ajak dan mewajibkan mereka untuk membawa perlengkapan memasak. Lama perjalanan dari desa Metut ke Naha Kramo sekitar 15-20 menit. Setelah semua perlengkapan siap maka kami berangkat menuju hulu untuk memulai pengalaman perjalanan melihat hutan Malinau Selatan Hulu. Perjalanan terasa menyenangkan ketika harus melewati “giram” (gelombang) sungai yang deras, besar, & dangkal.
Pengalaman Pertama naik ketinting menerjang ‘giram’(gelombang)
Menikmati perjalanan naik ketinting

Koordinasi antara sopir ketinting di buritan dengan juru batu di haluan untuk mengarahkan posisi ketinting agar tidak karam. Kami justru sibuk perpegangan pada tepi ketinting melihat sekitar dan mengamati pergerakan ketinting melawan arus sungai. Lama perjalanan sekitar 30 menit dari Naha Kramo, akhirnya kami sampai di spot memancing pertama tetapi kami harus mencari umpan dahulu yaitu cacing. Cacing menjadi umpan favorit bagi pemancing ikan dan melimpah di tepi sungai. Terkadang cacing itu dimakan juga oleh pemancing karena frustasi tidak mendapatkan ikan.
Mencari cacing untuk umpan
Ketahan malangan (makan cacing) di hulu sungai

Memancing ikan sungai, kail harus diberi pemberat agar tidak hanyut mengikuti arus sungai. Memancing ikan selama 2 jam tidak mendapatkan hasil tangkapan maka kami putuskan untuk pindah spot memancing kedua yaitu hilir sungai atau Desa Naha Kramo lama. Keberuntungan akhirnya berpihak pada kami karena mendapatkan tiga ekor ikan sungai; ikan salap dan baung. Kemudian kami membakar hasil ikan tangkapan dengan bumbu seadanya setelah ikan matang kami menyantap hidangan dengan lahap.
Akhir dari sebuah kesabaran memancing
Makan siang hasil tangkapan memancing

Akhirnya perjalanan memacing usai setelah acara makan selesai. Kami membereskan barang dan alat-alat memancing kemudian bergegas pulang agar tidak terlalu sore sampai di Desa Metut. Kami mengantarkan Feri dan nurul pulang ke mes Naha Kramo. Kami pulang ke desa Metut pukul 18.30 WITA kemudian mandi & Ishoma. Akhir perjalanan memancing yang menyenangkan sekaligus mendebarkan ala Malinau

Air Terjun Marthin Billa
Pada hari rabu, 14 Oktober 2015 libur tahun baru islam 1437 hijriyah, kami membuat rencana untuk pergi berwisata tetapi tempat tujuan wisata sudah ditentukan 2 hari sebelumnya yaitu Obyek Wisata Air Terjun Marthin Billa. Sebelum berangkat kami membuat rencana pemberangkatan seperti Feri, Nurul, Rini sudah memiliki ‘tebengan” (tumpangan) kendaraan sepeda motor masing-masing sedangkan saya tidak mempunyai “tebengan” motor. Ketika saya ditanya oleh teman-teman mengatakan “saya akan boncengan dengan bapak Ronny ke Marthin Billa” kemudian disambut oleh suara tertawa dari rekan-rekan semua karena mereka baru sadar bahwa boncengan dengan Bapak Ronny tidak di belakang tetapi disamping karena menggunakan mobil Mitsubishi Strada 4 WD. Akhirnya hari-hari yang ditunggu tiba juga tetapi cuaca tidak mendukung karena malam hari sebelumnya diguyur hujan deras sehingga Feri & Nurul tidak datang dari Desa Naha Kramo Baru. Keinginan besar Bapak Ronny untuk tetap berwisata akhirnya membulatkan tekad kami untuk berangkat. Kendala yang dihadapi yaitu penjemput Feri & Nurul. Saat mencari penjemput Iwan bertemu dengan Bapak Agus Uboh bahwa tetap berangkat ke Marthin Billa yang akhirnya penjempunya sudah lengkap yaitu Bapak Urbanus & Agus Uboh. Saat menunggu Feri & Nurul turun hujan sebentar maka kami mulai berfikir jika pemberangkatan ditunda sementara/ tidak jadi berangkat. Hujan turun selama 25 menit yang membasahi jalan lumpur di Desa Metut. Tetapi kedatangan Feri & Nurul menambah haru karena mereka harus basah kuyup kehujanan & jaket SM3T Feri robek karena masuk roda belakang motor di perjalanan. Berdasarkan pengamatan Bapak Agus & Urbanus hujan turun sekitar Lokasi dan Kampung saja tidak merata turun hujan. Setelah hujan berhenti kami berangkat menuju obyek wisata Marthin Billa. Perjalanan menuju obyek wisata sekitar 1 jam. Kami melewati jalan yang cukup mulus dan lancar tidak ada hambatan. Kami menikmati perjalanan dengan mengobrol dan bercanda. Kami juga melewati Camp logging untuk menyimpan kayu. Perjalanan yang menyenangkan tidak terasa telah sampai tempat tujuan. Masuk obyek wisata Marthin Billa disambut pintu gerbang. Gerbang masuk yang jalannya sudah aspal sehingga dapat dilalui kendaraan. Mobil hanya dapat masuk sekitar 50 meter dari gerbang masuk karena terhambat semak belukar yang menutupi jalan sehingga kami melanjutkan perjalanan dengan jalan kaki. Selama perjalanan kami harus berhati-hati karena banyak tanaman berduri yang menutupi jalan.
Perjalanan menuju air terjun

Kami menjumpai pondok peristirahatan yang sudah tidak digunakan lagi sehingga berkesan seperti rumah berhantu & angker. Kami harus menyeberangi sungai dengan kedalaman air 50 cm karena jembatan untuk menyeberang tinggal kawat baja penopang. Saat menyeberang saya teringat prakondisi yaitu penyeberangan basah.

Penyeberangan basah ala SM3T MASEHU
Setelah melewati sungai kami menelusuri jalan yang terbuat dari kayu ulin dan ditumbuhi lumut sehingga harus hati-hati berjalan karena licin sekali. Rasa lelah terbayarkan oleh pemandangan air terjun yang indah dengan ketinggian 75 meter. Kami langsung mengambil gambar air terjun untuk kenang-kenangan. Air dari air terjun terasa dingin dan sejuk sekali maka diantara kami sudah tidak sabar untuk pergi berenang ke bawah air terjun. Saya menyusul berenang sendirian dan sensasi dibawah air terjun yaitu badan seperti tertusuk jarum karena airnya terasa dingin sekali saat terkena kulit apalagi badan saya yang kurus kerempeng jadi semakin terasa tusukannya
Keharmonisan bersama guru SATAP dibawah air terjun Marthin Billa

Setelah puas terapi air terjun saya berenang ke seberang untuk mengikuti sesi foto bersama dengan background air terjun. Kami mencoba beberapa gaya dan banyak kamera yang digunakan sehingga kami puas dengan hasil foto-fotonya. Setela puas berfoto kami istirahat dan menyantap bekal yang dibawa dari rumah yaitu nasi, mie goreng, sayur daun ubi dan terong, keripik pisang, air minum. Makanan sederhana terasa nikmat sekali karena kebersamaan yang terjalin.
Piknik bareng guru SATAP
Setelah makanan sudah habis bersih disantap kemudian kami bergegas pulang karena sudah sore. Sebelum pulang kami berfoto bersama di depan gerbang masuk Obyek Wisata Air Terjun Marthin Billa karena ketika datang kami langsung menuju air terjun. Rasa lelah bercanda dan kegembiraan masih terasa menuju mes. Bapak Ronny ingin mengantarkan Feri & Nurul ke Naha Kramo Baru untuk mencoba jalan baru kesana. Kami sempat khawatir saat melewati tanjakan dan mobil tidak kuat menanjak kemudian mundur kembali untuk mengambil ancang-ancang agar menambah dorongan. Setelah beberapa kali mencoba akhirnya kami berhasil melewati tanjakan tersebut. Lama perjalanan menuju Naha Kramo Baru selama 35 menit menempuh jarak 3 kilometer karena harus melewati 3 bukit dan 2 lembah. Saya sampai desa Metut sekitar pukul 18.30 WITA dan berakhirlah perjalanan wisata untuk hari ini
Pintu gerbang obyek wisata air terjun

“Manakala kerja merupakan kesenangan maka hidup merupakan kegembiraan & manakala kerja merupakan kewajiban maka hidup merupakan perbudakan”

Febi & Iwan, Sungai Uli

0 comments:

luvne.com resepkuekeringku.com desainrumahnya.com yayasanbabysitterku.com

Post a Comment