foto bersama koordinator pusat SM-3T dan pemimpin AAU

awal prakondisi di AAU

kegiatan prakondisi di AAU

at Malinau

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Saturday, January 23, 2016

Perjalanan ke Long Titi



Hari Minggu tanggal 23 Agustus 2015 setelah sarapan pagi di MC Hotel, kami meuju ke tempat Dinas Bupati Malinau untuk mengikuti Upacara Penerimaan dan Pelepasan Guru SM-3T Angkatan V dan Angkatan IV Kabupaten Malinau. Acara tersebut dibuka oleh Wakil Bupati Malinau karena Pak Bupati berhalangan hadir ada acara di Tarakan. Pak Brata pun memberikan pengumuman yang berupa pembagian daerah penempatan yang semalam belum disebutkan secara keseluruhan. Di akhir acara, kami diminta untuk berkoordinasi dengan kepala sekolah masing-masing membahas pemberangkatan ke sekolah pengabdian. Kami berdua (Boby & Doni) bertemu dengan Pak Markus Apon selaku Kepala Sekolah SDN 002 Sungai Tubu Desa Long Titi. Meskipun beliau sudah berumur 56 tahun namun kelihatannya masih sehat seperti umuran 40 tahun yang memngingatkan saya kepada mbah kakung di Jawa. Lama kami berbincang-bincang lalu kami berfoto dengan Pak Sudarmaji dan Pak Brata untuk dimasukkan ke laporan khusus karena Desa Long Titi merupakan daerah yang istimewa katanya dan pertama kalinya mendapatkan peserta SM-3T di Angkatan V ini. Acara selesai, kami pun bergegas mengambil barang bawaan yang masih di MC Hotel untuk diangkut menggunakan angkutan kota menuju ke rumah Pak Markus yang ada di seberang, perjalanan kurang lebih 10 menit. Di pertengahan jalan, kami berhenti sejenak untuk mengambil uang di ATM BNI sebagai uang saku kami selama di Long Titi karena disana tidak ada ATM BNI. Sesampainya di rumah Pak Markus, kami turun dari angkutan kota membayar uang 50 ribu untuk 2 orang. Kami pun beristirahat sejenk untuk melepas lelah. Ternyata keadaan di rumah sungguh panas tetapi setelah 3 hari disana kami sudah terbiasa dengan keadaan itu. Saking panasnya, kami akhirnya membeli minuman di warung depan rumah sekaligus makanan ringan. Malam hari pertama kami disana, kami merasa kelaparan hingga rela jalan kaki sekitar 15 menit mencari penjual makanan sampai ke dekat jembatan Malinau Seberang yang akhirnya ketemu juga dengan Nasi Goreng yang ternyata orang Jawa juga asli Surabaya. Kata Pak Markus di SD kami ada juga orang Jawa yang berasal dari Solo baru jadi CPNS sekitar 1 tahun lebih di Malinau dan kami pun dikenalkan dengan Pak Hasan (Guru CPNS dari Solo tersebut) dan berbincang-bincang banyak hingga kami akrab sampai pemberangkatan ke Desa Long Titi. Di rumah Pak Markus kami tinggal selama 5 hari disana karena harus menunggu jemputan dari Long Titi. 2 hari menjelang keberangkatan ke Long Titi, kami pun berbelanja ke pasar untuk membeli sembako dan perlengkapan yang perlu kami bawa.
Hari Rabu tanggal 26 Agustus 2015 tibalah saatnya pemberangkatan menuju daerah pengabdian yaitu SDN 002 Sungai Tubu Desa Long Titi. Kami berdua siap-siap berangkat dengan mengenakan kaos, celana kolor pendek, kaos kaki bola, sepatu blabang BOWLING, topi SM-3T dan pelampung dari UNY. Sekilas kami lihat penampilan saat itu terasa orang aneh yang mau ke hutan padahal baru naik perahu ketinting...hehee. Sebelum berangkat, kami pun mengangkat barang bawaan sebanyak masing-masing 2 tas ditambah bahan makanan sebagai persiapan kami disana seperti mie instan, sembako, piring dll. Pak Kepsek berkata kepada kami kalo membawa barang bawaan ke Long Titi paling tidak bawa baju dinas batik dan kaos secukupnya saja tidak perlu bawa sepatu fantovel serta seragam pramuka karena keadaan disana tidak seperti di kota dan tidak ada pramuka. Tetapi karena kami masih takut kalo saja kekurangan baju dll jadi kami bawa 2 tas sedangkan barang lainnya 1 tas dan laptop dititipkan di rumah Pak Markus. Barang bawaan yang kami bawa diangkut menggunakan motor berdua bolak-balik menuju ke tepi sungai hingga 4 kali karena membawa barang banyak. Badan terasa capek sekali membawa barang seberat itu dan saking banyaknya.

Kami siap-siap berangkat perjalanan hari pertama menuju Koala Rian setelah semua barang bawaan tertata rapi di pinggir sungai dibantu oleh guru-guru Long Titi seperti Pak Pendi, Pak Yusten dan Pak Markus serta Pak Lay sebagi mentoris ketinting. Satu kapal ketinting muatannya maksimal 6 orang. Saat itu kami hanya 5 orang karena barang bawaannya banyak. Ada Saya, Doni, Pak Markus, Pak Yusten dan Pak Hasan. Akan tetapi Pak Hasan dijemput di tengah-tengah perjalanan kami karena rumah beliau di atas sungai melewati jalur air perahu ketinting. Jadilah kami berangkat berlima orang. Pertama kalinya naik ketinting, kami merasa senang karena begitu asyiknya naik ketinting melewati sungai yang panjang. Awalnya kami berfoto-foto ria saat naik ketinting dan bahkan membuat video lagu “Tinggalkan Ayah Tinggalkan Ibu” diatas perahu. Sungguh menyentuh kalbu dalamnya lagu itu sampai-sampai kami teringat keluarga di rumah.
            Setelah beberapa lama kemudian karena sering terkena angin, kami pun mulai mengantuk. Doni dulu yang pertama kali tertidur baru setelah dia bangun saya pun ikut mengantuk. Kami bergantian tertidur karena tempat duduknya sempit berdesakan. Saat itu saya sedang mainan HP dan ber-sms ria tetapi ketika memasuki lorong jembatan yang kedua tiba-tiba sinyal pun hilang dari peredaran dan dari situlah kami mulai kehilangan sinyal dan tidak bisa lagi berkomunikasi menggunakan HP. Dipertengahan jalan mulai banyak arus sungai yang deras dan ketinting kami pun mulai melawan derasnya arus sungai. Hampir setiap 10 menit sekali kami melewati derasnya aliran sungai dengan dibantu menggunakan dayung oleh Pak Yusten serta bambu oleh Pak Hasan untuk mempermudah jalannya ketinting di sungai. Namun tiba-tiba di depan kami, arus sungai terlalu deras karena banyak batu-batu besar. Sempat kami semua turun dari perahu kurang lebih sebanyak 6 kali dan melompat-lompat diatas batu di tepi sungai dengan membawa barang-barang yang ada di perahu. Hal itu dilakukan karena untuk meminimalisir terjadinya karam yang terjadi saat arus sungai yang sangat deras jadi perahu tersebut hanya di kendarai oleh Pak Lay selaku mentoris dan dibantu Pak Yusten untuk mendorong perahu di depan menggunakan dayung. Waktu pertama kali turun dari ketinting, saya dan Doni pun kaget karena harus naik batu seperti panjat tebing sambil membawa barang kami masing-masing yang super berat. Sungguh melelahkan dan membuat pundak kami pegal-pegal semua. Waktu tengah hari sekitar pukul 12.00 WITA, kami semua memutuskan untuk makan siang karena mulai kelaparan dan istirahat sejenak untuk melepas lelah di tepi sungai yang ada mata airnya. Kami pun cuci muka dengan mata air tersebut hingga terasa segar lalu saya dan Doni memutuskan untuk sholat dhuhur diatas batu karena perjalanan masih lama sampai sore dan waktu istirahat pun juga masih lama. Kami menggunakan bantuan kompas untuk menentukan arah kiblat. Setelah kami selesai sholat dan bersih-bersih badan, kami pun naik perahu lagi untuk melanjutkan perjalanan lewat arus sungai yang deras. Selang beberapa menit kemudian, kami turun lagi dari perahu dan mulai berjalan kaki melompat-lompat diatas batu dengan membawa barang-barang, berat sekali hingga kami kelelahan. Kejadian itu terjadi sebayak 6 kali lebih dan yang paling tidak disangka saat harus menghindari derasnya air sungai. Kami pun turun dari perahu kecuali saya yang disuruh duduk oleh Pak Markus di tengah untuk menjaga keseimbangan perahu, sedangkan yang lainnya menarik perahu sampai tengah sungai yang lebih dalam. Setelah berhasil menarik perahu, kami melanjutkan perjalanan ke tempat tujuan hari pertama yaitu Desa Kuala Rian.
Alhamdulillah akhirnya kami sampai juga di desa tersebut pada pukul 17.30 WITA dengan selamat dan keadaan basah karena terkena gebyuran air selama perjalanan. Perjalanan selama satu hari ini cukup membuat kami kelelahan dan segera ingin mandi. Setelah mandi terus sholat ashar dan dilanjut makan sore dengan lauk mie rebus dan ikan asin dari Pak Hasan dan Pak Yusten. Selesai makan, kami siap-siap tidur karena kelelahan dalam keadaan gelap karena tidak ada listrik tetapi kami memakai lampu senter. Saat kami mau tidur ternyata ada kabar yang kurang enak bahwa tidak ada orang di Desa Kuala Rian yang membawakan barang-barang kami esok pagi, jadi kami pun bangun untuk memilah barang-barang yang akan dibawa. Dari barang yang kami bawa hanya boleh membawa 1 tas gendong itu pun isinya hanya baju batik 3 stel, kaos secukupnya dan sepatu cat serta perlengkapan lain yang dibutuhkan selama 4 bulan. Kami merasa agak kesal waktu disuruh packing barang disaat keadaan gelap malam dan terpaksa harus memilah-milah barang yang penting-penting saja. Beberapa menit kemudian akhirnya selesai juga packing barangnya untuk dibawa menggunakan tas gendong. Karena merasa kecapean, kami tertidur untuk memulihkan tenaga buat besok pagi jalan kaki seharian ke Desa Rian Tubu atau sering disebut daerah Long Tepuh.
            Tibalah hari kedua kami melakukan perjalanan dari Desa Kuala Rian menuju ke Long Tepuh dengan berjalan kaki tanpa mandi terlebih dahulu karena bisa mandi nanti saat diperjalanan melewati anak sungai kata Pak Hasan. Kami persiapkan untuk sarapan pagi dulu yang banyak agar nantinya kuat sampai tujuan dan tidak lupa kami pun di suruh membawa bekal nasi dan minuman botol untuk bekal istirahat siang di tengah perjalanan. Setelah semuanya siap, mulailah kami berjalan kaki menuju Long Tepuh. Di perjalanan ternyata tidak sesuai dengan apa yang kami bayangkan. Semula kami kira hanya melewati hutan yang datar-datar saja tetapi kenyataannya seperti panjat tebing menaiki bebatuan, melewati anak sungai, menyeberang sungai, naik gunung dan turun gunung. Itulah medan yang kami lalui di hari kedua, yang membuat kami tidak kuat dan mudah capek itu karena harus menggendong tas yang isinya satu tas penuh tanpa ada ruang yang tersisa. Kami beristirahat sejenak di pertengahan jalan yang hanya 3 kali istirahat, itu pun hanya sebentar tidak ada 5 menit hingga membuat saya hampir tepar karena tidak kuat membawa barang seberat itu di punggung. Saya pun tiduran diatas bebatuan dan memejamkan mata karena terlalu capek. Sambil istirahat melepas lelah, Pak Yusten dan Pak Markus membantu menjahitkan tas kami yang gendongannya hampir terlepas. Setelah selesai menjahit, kami mulai melanjutkan perjalanan menuju Long Tepuh. Ditengah perjalanan, kami beristirahat untuk makan siang di tempat istirahat khusus (pondok) pejalan kaki yang melewati hutan menuju Long Tepuh. Saat makan siang kami langsung makan seadanya nasi dan kecap dengan lahapnya karena kelaparan dan butuh energi banyak. Usai maka siang, medan yang dilalui selanjutnya adalah menaiki 2 puncak gunung hingga ke lereng gunung yang membuat kami kelelahan ditambah dengan gendongan kami yang sangatlah berat itu. Kami sampai di Long Tepuh sekitar pukul 14.00 WITA. Sesampainya di Long Tepuh, kami langsung ganti baju karena basah kuyup menyeberangi sungai dan istirahat sejenak kemudian mandi di sungai. Sorenya bertemu dengan anak-anak di desa itu dan mengajak kami bermain bola bersama. Kami menginap di tempat Pak Haryanto salah satu Guru PNS di SD N 003 Sungai Tubu.
          Di hari ketiga perjalanan menuju ke Long Titi tempat tujuan kami diawali dengan berjalan kaki juga. Paginya kami sarapan terlebih dahulu dengan daging rusa/kijang yang diberi oleh Pak Yusten. Semula kami tidak tahu itu daging apa tapi rasanya memang enak seperti daging kambing. Namun setelah makanannya habis, kami baru diberi tahu oleh Pak Hasan kalau tadi itu adalah daging rusa. Kami hanya bisa pasrah saja sama Allah SWT karena takut daging itu haram karena tidak mengucapkan kalimat takbir saat menyembelih. Sejak saat itu, kami berjanji tidak akan mau makan daging-daging hewan kecuali ikan. Kami berangkat dari Long Tepuh sekitar pukul 08.00 WITA. Sebelum berangkat saya diberi tongkat oleh Pak Markus untuk membantu saat perjalanan. Ternyata benar tongkat itu sangat membantu saya dalam berjalan terutama saat menyeberangi sungai. Di perjalanan kami disambut hangat oleh gunung-gunung yang siap kami panjat. Betapa lelahnya hari ketiga ini karena harus memanjat gunung yang benar-benar tinggi sampai ada 4 gunung yang harus kami lewati. Di hari ketiga ini, kami hanya membawa tas yang isinya makanan, minuman dan baju ganti saja lebih ringan daripada hari kedua karena di hari ketiga ini kami dijanjikan barang yang kami bawa kemarin akan dibawakan oleh orang dayak sampai Desa Long Titi. Padahal barang bawaan kami pun banyak tetapi mereka berdua orang dayak yang bernama acok dan ajo sungguh kuat. Badan mereka terlihat otot semua seperti atlet yang sering berolahraga, mungkin karena mereka sering mengantar barang dan bolak-balik dari desa satu ke desa lain. Ketika kami baru sampai ditengah perjalanan, mereka berdua sudah mengantar barang ke mess Long Titi dan mereka sudah sampai dihadapan kami. Kami pun memberikan jasa angkut barang kepada mereka dan mengucapkan terimakasih. Di tengah perjalanan, kami juga melewati beberapa anak sungai dan menyeberangi sungai seperti di hari kedua kemarin. Namun dihari ketiga ini  kami hanya beristirahat 3 kali di pinggiran anak sungai untuk melepas lelah. Seperti biasa, saya pun kelelahan dan berjalan paling belakang sendiri bersama Pak Markus. Sedangkan Doni, Pak Hasan dan Pak Yusten sudah berjalan jauh namun selalu menunggu kami disetiap anak sungai untuk beristirahat. Beberapa lama kemudian kami pun mencapai setengah perjalanan untuk makan siang di tepi anak sungai. Setelah makan siang, kami diminta untuk meminum air dari anak sungai Titi yang konon kalau orang yang baru masuk daerah Sungai Titi harus meminum air sungai minimal 2 kali tegukan. Akhirnya kami berdua pun mencoba minum dan rasanya lumayan segar karena mungkin juga lagi kehausan... hehehe. Tak lama kami pun kembali berjalan kaki yang katanya sebentar lagi sampai ternyata kami harus melewati jalan bonus yaitu 2 kali naik-turun gunung juga menyeberangi sungai yang deras. Saat diperjalanan saya kembali jalan dibelakang bersama Pak Markus, namun beliau agak jauh di depan saya. Saat melewati hutan, saya terkena lecet-lecet di selangkangan kaki yang lebih parahnya kedua kaki terkena lecet. Aduuhhh.. saya pun mengeluh kesakitan dan merasa sudah sulit untuk berjalan lagi. Kaki terasa sakit ketika harus melewati dan menyeberangi sungai yang deras terkena air yang terus-menerus sampai akhirnya saya mendekati Pak Markus. Setelah melewati anak sungai, beliau bilang lecet-lecet itu karena gesekan celana yang saya pakai itu ¾ sehingga tergesek-gesek kulitnya. Celana pendek saya basah semua karena kemarin juga basah kuyup menyeberangi sungai. Saran Pak Markus saya harus lepas celana dan hanya memakai CD. Akhirnya saya pun melepaskan celana saya yang tinggal CD saja. Sepanjang perjalanan saya menggunakan CD melewati hutan-hutan yang daunnya rimbun hingga merasa geli disepanjang paha kaki karena terkena dedaunan di hutan. Belum lagi ditambah dengan melewati sungai yang deras beberapa kali hingga terasa perih. Aduuhh... rasanya seperti sudah tidak bisa jalan lagi untuk menyeberangi 2 sungai yang airnya deras sekali. Sambil tertatih-tatih saya pun menyeberangi sungai yang panjang dan akhirnya berhasil juga. Selama perjalanan jalurnya pun sama mulai dari naik-turun gunung – melewati anak sungai – menyeberangi sungai yang deras – masuk hutan – turun menyeberangi sungai lagi dan begitu seterusnya. Setelah berhasil menyeberangi sungai, saya dan Pak Markus pun masuk hutan dan kembali naik gunung sampai saya merasa sudah tidak kuat lagi dan pasrah karena tertinggal jauh dari Pak Markus yang tadinya di depan saya lama kelamaan tak tahu dimana. Pikiran saya sudah lelah sampai akhirnya saya beristirahat di tengah hutan tepatnya di puncak gunung yang terlihat sungai yang saya lewati tadi. Saya putuskan untuk tidur sejenak disitu karena sudah sangat lelah dan tidak kuat berjalan naik lagi. Saya pun tertidur sambil duduk di bawah pohon yang rindang dan nyaman untuk beristirahat. Sekitar 15 menit saya bangun dan merasa sudah fit kembali untuk berjalan naik gunung tanpa merasa lelah. Sudah tidak ada lagi perasaan gundah / pun gelisah karena saya sudah pasrah dengan keadaan saat itu. Yang bisa saya lakukan hanya berjalan melewati hutan – menyeberang sungai – melewati anak sungai sendiri. Ada setengah jam lebih saya melewati berbagai medan itu sendirian saking lelahnya pikiran, akhirnya saya hanya mengandalkan pikiran bawah sadarku yang terus mengikuti jalan sungai di bawah hutan. Hampir saja saya terpengaruh dengan suara-suara yang ada di tengah-tengah hutan yang bawahnya anak sungai yang panjang. Saat itu yang terdengar suara wanita, laki-laki tua dan suara yang menggema menyebut nama saya, namun saya tidak hiraukan itu dan tetap berjalan mengikuti alur sambil berdoa agar diberi petunjuk jalan kepada Sang Ilahi dan akhirnya saya pun lihat jejak kaki di batu. Meskipun hanya 1 jejak kaki yang saya lihat tapi begitu sangat bersyukur karena ada petunjuk yang datang. Saya berjalan terus sendirian di sepanjang anak sungai bawah hutan. Saya kira akan sampai sebentar lagi tetapi saya harus menyeberang sungai satu lagi. Saya pun terus berdoa sepanjang jalan yang saya lewati agar ada petunjuk dari Allah SWT. Akhirnya doa pun terjawab, saat saya menyeberangi sungai ditolong oleh seorang bapak yang bernama Pak Juni. Pak Juni dikenal baik hati dan orang tertua di Desa Long Titi ini. Saya juga diantar oleh Pak Juni dari seberang sungai menuju ke tempat mess dekat sekolah SD N 002 Sungai Tubu Desa Long Titi. Tidak lupa saya ucapkan terima kasih banyak kepada Pak Juni karena sudah menolong dan mengantar saya sampai ke lokasi sekolah. Alhamdulillah saya pun mengucap syukur yang tiada tara karena telah diberi petunjuk jalan berupa jejak kaki dan orang yang membantu saya menyeberangi sungai yang sangat deras.

THE END
Doni Eko Nurcahyo & Boby Firma, Long Titi