foto bersama koordinator pusat SM-3T dan pemimpin AAU

awal prakondisi di AAU

kegiatan prakondisi di AAU

at Malinau

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Monday, February 1, 2016

JEJAK PERTAMA MENUJU MALINAU-KALTARA




Pemberangkatan SM3T Angkatan V tahun 2015 mulai 19-22 Agustus 2015. Hari Kamis, 20 Agustus 2015 adalah Hari pemberangkatan penempatan Kabupaten Malinau Provinsi Kalimantan Utara. Sebelum hari pemberangkatan kami menyiapkan “amunisi” meliputi obat-obatan, pakaian, perlengkapan mandi & cuci. Peserta SM3T Angkatan V pemberangkatan daerah penempatan Malinau direncanakan pukul 14.00. Saya berkumpul di Audit UNY untuk registrasi dan upacara penglepasan peserta SM3T Angkatan V. Banyak anggota keluarga peserta SM3T mengantar pemberangkatan kami. Saya diantar seorang diri oleh Kakak tercinta bernama Eka Priyaningsih. Orang Tua saya tidak bisa mengantar karena sakit. Upacara penglepasan pun dimulai, kami diberi pengarahan oleh Bapak Moch. Slamet berdasarkan pengalaman beliau di Malinau. Kami menyanyikan “tinggalkan ayah tinggalkan ibu” untuk penyemangat keberangakatan kami. Setelah upacara penglepasan selesai kami diijinkan oleh panitia untuk memohon doa restu kepada orang tua untuk menunaikan tugas mengabdi untuk bangsa dan negara mencerdaskan anak indonesia di daerah terdepan, terluar, dan tertinggal. Isak-tangis mengiringi pemberangkatan kami karena tidak akan berjumpa dengan keluarga tercinta selama 1 tahun kedepan. Saya hanya bisa melihat kesedihan ketika pemberangkatan & membuat saya merasa rindu kepada orang tua yang pada hari itu tidak bisa mengantar keberangkatan ke Malinau.





Suasana sebelum pemberangkatan ke Malinau di UNY

Siap untuk Pemberangkatan ke Malinau
(Dari Kiri: Refa, Aim, Feby, Hayati)



Pada Kamis, 20 Agustus 2015 pukul 17.00 kami tiba di Bandara Internasional Adi Sucipto Yogyakarta. Saat di Bandara kami kedatangan tamu istimewa yaitu Pelatih Tri Harjono yang terkenal dengan “Minimal” sambil mengacungkan jari kelingking. Kami awalnya tidak mengenali beliau karena memakai seragam dinas AU. Pelatih Tri memberikan motivasi dan pembekalan kepada kami semua untuk selalu semangat dalam menjalani tugas. Pukul 19.00 kami on boarding pesawat Garuda Indonesia (GI) GA665 penerbangan yogyakarta menuju balikpapan. Kami minta doa dan bersalaman dengan pelatih Tri Harjono saat menuju pesawat GI.  Pengalaman saya naik pesawat GI berdebar-debar rasanya karena baru pertama kali naik pesawat dan saat pesawat take off detak jantung berdebar kencang sekali. Di pesawat kami mendapatkan pelayanan yang baik seperti makan malam, dan kudapan. Saya duduk nomor kursi 21C yang kebetulan posisi dekat dengan jendela sehingga dapat melihat gemerlap lampu kota Yogyakarta di malam hari. Pukul 21.30 kami tiba di bandara Sultan Aji Muhammad Sulaiman Sepinggan Kota Balikpapan. Lama perjalanan Jogja menuju Balikpapan yaitu 1,5 jam. Perbedaan selisih waktu Balikpapan dengan Yogyakarta yaitu 1 jam karena masuk wilayah waktu indonesia tengah (WITA). Setelah mengecek barang bawaan kami selanjutnya menuju hotel Athar. Saya mendapatkan kamar no. 210 lantai 2 dengan teman sekamar Adhi asal Kebumen. Saya merasakan kenyamanan dan pengalaman yang menyenangkan selama menginap di hotel tersebut.












Tiba di bandara Sultan Aji Muhammad Sulaiman Sepinggan Kota Balikpapan.





Kondisi dan Fasilitas Penginapan




Hari Jum’at, 21 Agustus 2015 pukul 05.00, kami bangun pagi untuk persiapan mandi dan beres-beres tas kemudian makan pagi. Kami berangkat ke bandara pukul 07.00 dan mengecek koper kembali untuk masuk bagasi pesawat. Kami melanjutkan perjalanan menuju Tarakan menggunakan maskapai Batik Air yang on boarding pukul 09.15. Selama penerbangan, saya mengambil gambar atau foto saat pesawat berada diatas awan. Pelayanan maskapai Batik Air nyaman dan selama penerbangan kami mendapat kudapan/ snack. Lama penerbangan menuju tarakan yaitu 1 jam. Saat tiba di bandara tarakan, kami disambut oleh bapak Fx. Brata sebagai Ka.sie bidang pendidikan Kabupaten Malinau. Kami langsung diberangkatkan ke Pelabuhan Tekidung I untuk pemesanan tiket perahu speedboat menuju kabupaten malinau menggunakan taksi. Taksi yang digunakan yaitu mobil avanza bukan dari jenis mobil sedan mazda. Pukul 12.00 kami tiba di pelabuhan kemudian kami semua makan siang. Setelah selesai makan siang, kami berangkat menuju Kabupaten Malinau menggunakan perahu speedboat. Lama perjalanan menuju kabupaten malinau yaitu 3,5 jam. Kami melalui perjalanan sungai dan melihat pohon-pohon yang besar di tepi sungai. Pukul 16.00 Tiba di pelabuhan Kabupaten Malinau, Kami langsung menuju MC hotel untuk beristirahat, mandi, mengecek perlengkapan. Malam harinya kami mempunyai acara pertemuan dengan Guru SM3T angkatan IV tahun 2014 di Ruang pertemuan MC Hotel. Pada acara tersebut kami membahas pembagian daerah penempatan di kabupaten malinau beserta bertukar pengalaman, Saya mendapatkan penempatan di SMPN 2 Malinau Selatan Hulu di Desa Metut dan dibarengi oleh tepuk tangan para peserta SM3T Angkatan IV. Saya penasaran dan rasa ingin tahu yang besar seperti apa tempat pengabdian untuk 1 tahun kedepan.








Petemuan Guru SM3T IV dengan Guru SM3T V di MC Hotel





Acara Penerimaan Guru SM3T angkatan V dan Penglepasan Guru SM3T angakatan IV di Kantor Bupati Kabupaten Malinau.










Tiba di pelabuhan Kabupaten Malinau.




Hari Sabtu, 22 Agustus 2015 pukul 09.00 kami ada acara Penerimaan Guru SM3T angkatan V dan Penglepasan Guru SM3T angakatan IV di Kantor Bupati Kabupaten Malinau. Pada acara tesebut kami mendapatkan SK dari Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (DISDIKPORA) Kabupaten Malinau. Saya dan Rini Sulastyaningsih (Rini) langsung dijemput oleh Bapak Ronny Parerung Saalino, S.Pd. sebagai Kepala SMPN 2 Malinau Selatan Hulu. Saya mengabdi dengan Feri Rokhyani Thohid (Feri), Nurul Adhityanti Putri (Nurul), Yohanes Ria Kurniawan (Iwan) di SDN 2 Malinau Selatan Hulu. Mereka dijemput oleh Bapak Markus Lungung, S.Pd. sebagai Kepala SDN 2 Malinau Selatan Hulu. Pada hari itu juga kami harus check out dari MC hotel. Kami pergi dari kantor bupati bersama Bapak Ronny menuju rumah beliau untuk menginap selama semalam.
Hari Minggu, 23 Agustus 2015 pukul 09.00 Perjalanan menuju malinau selatan hulu menjadi pengalaman yang sangat mendebarkan dan mengesankan. Saya berangkat dengan keempat teman SM3T angkatan V tahun 2015 yang sekolah penempatan di Malinau Selatan Hulu. Saya berangkat dari malinau kota pukul 09.00 kemudian sampai di malinau selatan hulu pukul 15.30 sehingga lama perjalanan sekitar 5 jam melalui jalur darat. Selama perjalanan kami membayangkan bagaimana keadaan tempat pengabdian untuk satu tahun kedepan karena selama perjalanan kami melihat hutan dan jalan masih dari tanah. Saat sampai ditempat tujuan yaitu Malinau Selatan Hulu, kami disambut oleh guru serta pegawai kecamatan yang kebetulan sedang ada pertandingan sepakbola dan voli untuk memperingati hari kemerdekaan RI ke-70. Kami berkenalan dengan keluarga Bapak Urbanus Ishak yang akan menampung kami selama setahun kedepan. Bapak Banus biasa kami menyapa beliau bekerja sebagai pegawai honor kecamatan malinau selatan hulu. Istri beliau bernama Ibu Ike Diana Wati adalah seorang guru SDN 02 Malinau Selatan Hulu. Ada seorang guru bernama Eva Timba dari Toraja yang satu mess dengan kami. Ibu Ike & Eva biasa kami memanggilnya untuk lebih akrab lagi sering menceritakan kepada kami sebagai pendatang pengalaman pertama saat datang ke Malinau Selatan Hulu. Banyak cerita lucu Ibu Ike & Eva tentang keadaan sosial-ekonomi masyarakat Malinau Selatan Hulu.




Perjalanan menuju desa Metut- Kec. Malinau Selatan Hulu





Kondisi jalan menuju Desa Metut:
   Kendaraan banyak yang “karam” oleh “giram”
lumpur



Desa tempat tinggal kami bernama Desa Metut, berarti banjir atau bocor. Desa Metut di kelilingi perbukitan dan sungai. Sungai yang terkenal yaitu Sungai Uli dan Sungai Malinau. Desa Metut mayoritas beragama Katolik. Suku mayoritas yaitu suku Dayak Punan. Suku Dayak Punan merupakan suku pribumi kalimantan utara yang masih tertinggal. 









Keadaan Desa Metut.





Wilayah desa Metut.








Awalnya Dayak Punan tidak mempunyai rumah karena mereka hidup berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya (Nomaden) di Hutan. Namun suatu tokoh masyarakat mengajak mereka hidup menetap di suatu wilayah. Mereka akhirnya memilih Sungai Uli untuk dibuat daerah pemukiman penduduk. Suku tersebut bermata pencaharian berladang, berburu, nelayan, dan bertani. Pekerjaan itu mereka lakukan secara turun menurun. Pola pikir mereka masih mengandalkan hasil hutan atau alam di sekitar tempat tinggal. Hasil hutan yang lama kelamaan semakin berkurang dan menurun menyebabkan mereka harus pergi dari Desa Metut. Desa Metut dipimpin oleh Bapak Daud Laing sebagai kepala desa. Kami mendapatkan pengarahan dari beliau untuk menunaikan tugas dengan sebaik-baiknya dan dapat menjadi contoh yang baik khususnya bagi peserta didik dan bagi masyarakat sekitar.


 Tri Feby Adinsyah & Yohanes Kurniawan