Pemberangkatan SM3T Angkatan V tahun 2015 mulai 19-22 Agustus 2015. Hari Kamis, 20 Agustus 2015 adalah Hari pemberangkatan penempatan Kabupaten Malinau Provinsi Kalimantan Utara. Sebelum hari pemberangkatan kami menyiapkan “amunisi” meliputi obat-obatan, pakaian, perlengkapan mandi & cuci. Peserta SM3T Angkatan V pemberangkatan daerah penempatan Malinau direncanakan pukul 14.00. Saya berkumpul di Audit UNY untuk registrasi dan upacara penglepasan peserta SM3T Angkatan V. Banyak anggota keluarga peserta SM3T mengantar pemberangkatan kami. Saya diantar seorang diri oleh Kakak tercinta bernama Eka Priyaningsih. Orang Tua saya tidak bisa mengantar karena sakit. Upacara penglepasan pun dimulai, kami diberi pengarahan oleh Bapak Moch. Slamet berdasarkan pengalaman beliau di Malinau. Kami menyanyikan “tinggalkan ayah tinggalkan ibu” untuk penyemangat keberangakatan kami. Setelah upacara penglepasan selesai kami diijinkan oleh panitia untuk memohon doa restu kepada orang tua untuk menunaikan tugas mengabdi untuk bangsa dan negara mencerdaskan anak indonesia di daerah terdepan, terluar, dan tertinggal. Isak-tangis mengiringi pemberangkatan kami karena tidak akan berjumpa dengan keluarga tercinta selama 1 tahun kedepan. Saya hanya bisa melihat kesedihan ketika pemberangkatan & membuat saya merasa rindu kepada orang tua yang pada hari itu tidak bisa mengantar keberangkatan ke Malinau.
|
Suasana sebelum pemberangkatan ke Malinau di
UNY
Siap untuk Pemberangkatan ke Malinau
(Dari Kiri: Refa, Aim, Feby, Hayati)
|
Pada Kamis, 20
Agustus 2015 pukul 17.00 kami tiba di Bandara Internasional Adi Sucipto
Yogyakarta. Saat di Bandara kami kedatangan tamu istimewa yaitu Pelatih Tri
Harjono yang terkenal dengan “Minimal” sambil mengacungkan jari kelingking.
Kami awalnya tidak mengenali beliau karena memakai seragam dinas AU. Pelatih Tri
memberikan motivasi dan pembekalan kepada kami semua untuk selalu semangat
dalam menjalani tugas. Pukul 19.00 kami on boarding pesawat Garuda Indonesia
(GI) GA665 penerbangan yogyakarta menuju balikpapan. Kami minta doa dan
bersalaman dengan pelatih Tri Harjono saat menuju pesawat GI. Pengalaman saya naik pesawat GI berdebar-debar
rasanya karena baru pertama kali naik pesawat dan saat pesawat take off detak
jantung berdebar kencang sekali. Di pesawat kami mendapatkan pelayanan yang
baik seperti makan malam, dan kudapan. Saya duduk nomor kursi 21C yang
kebetulan posisi dekat dengan jendela sehingga dapat melihat gemerlap lampu
kota Yogyakarta di malam hari. Pukul 21.30 kami tiba di bandara Sultan Aji
Muhammad Sulaiman Sepinggan Kota Balikpapan. Lama perjalanan Jogja menuju
Balikpapan yaitu 1,5 jam. Perbedaan selisih waktu Balikpapan dengan Yogyakarta
yaitu 1 jam karena masuk wilayah waktu indonesia tengah (WITA). Setelah
mengecek barang bawaan kami selanjutnya menuju hotel Athar. Saya mendapatkan
kamar no. 210 lantai 2 dengan teman sekamar Adhi asal Kebumen. Saya merasakan
kenyamanan dan pengalaman yang menyenangkan selama menginap di hotel tersebut.
|
Tiba di bandara Sultan Aji Muhammad
Sulaiman Sepinggan Kota Balikpapan.
|
|
Kondisi dan Fasilitas Penginapan
|
Hari Jum’at, 21
Agustus 2015 pukul 05.00, kami bangun pagi untuk persiapan mandi dan beres-beres
tas kemudian makan pagi. Kami berangkat ke bandara pukul 07.00 dan mengecek
koper kembali untuk masuk bagasi pesawat. Kami melanjutkan perjalanan menuju
Tarakan menggunakan maskapai Batik Air yang on boarding pukul 09.15. Selama
penerbangan, saya mengambil gambar atau foto saat pesawat berada diatas awan.
Pelayanan maskapai Batik Air nyaman dan selama penerbangan kami mendapat
kudapan/ snack. Lama penerbangan menuju tarakan yaitu 1 jam. Saat tiba di
bandara tarakan, kami disambut oleh bapak Fx. Brata sebagai Ka.sie bidang
pendidikan Kabupaten Malinau. Kami langsung diberangkatkan ke Pelabuhan
Tekidung I untuk pemesanan tiket perahu speedboat menuju kabupaten malinau
menggunakan taksi. Taksi yang digunakan yaitu mobil avanza bukan dari jenis
mobil sedan mazda. Pukul 12.00 kami tiba di pelabuhan kemudian kami semua makan
siang. Setelah selesai makan siang, kami berangkat menuju Kabupaten Malinau
menggunakan perahu speedboat. Lama perjalanan menuju kabupaten malinau yaitu
3,5 jam. Kami melalui perjalanan sungai dan melihat pohon-pohon yang besar di
tepi sungai. Pukul 16.00 Tiba di pelabuhan Kabupaten Malinau, Kami langsung
menuju MC hotel untuk beristirahat, mandi, mengecek perlengkapan. Malam harinya
kami mempunyai acara pertemuan dengan Guru SM3T angkatan IV tahun 2014 di Ruang
pertemuan MC Hotel. Pada acara tersebut kami membahas pembagian daerah
penempatan di kabupaten malinau beserta bertukar pengalaman, Saya mendapatkan
penempatan di SMPN 2 Malinau Selatan Hulu di Desa Metut dan dibarengi oleh
tepuk tangan para peserta SM3T Angkatan IV. Saya penasaran dan rasa ingin tahu
yang besar seperti apa tempat pengabdian untuk 1 tahun kedepan.
|
|
|
|
Hari Sabtu, 22
Agustus 2015 pukul 09.00 kami ada acara Penerimaan Guru SM3T angkatan V dan
Penglepasan Guru SM3T angakatan IV di Kantor Bupati Kabupaten Malinau. Pada
acara tesebut kami mendapatkan SK dari Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga
(DISDIKPORA) Kabupaten Malinau. Saya dan Rini Sulastyaningsih (Rini) langsung
dijemput oleh Bapak Ronny Parerung Saalino, S.Pd. sebagai Kepala SMPN 2 Malinau
Selatan Hulu. Saya mengabdi dengan Feri Rokhyani Thohid (Feri), Nurul
Adhityanti Putri (Nurul), Yohanes Ria Kurniawan (Iwan) di SDN 2 Malinau Selatan
Hulu. Mereka dijemput oleh Bapak Markus Lungung, S.Pd. sebagai Kepala SDN 2
Malinau Selatan Hulu. Pada hari itu juga kami harus check out dari MC hotel.
Kami pergi dari kantor bupati bersama Bapak Ronny menuju rumah beliau untuk
menginap selama semalam.
Hari Minggu, 23
Agustus 2015 pukul 09.00 Perjalanan menuju malinau selatan hulu menjadi
pengalaman yang sangat mendebarkan dan mengesankan. Saya berangkat dengan
keempat teman SM3T angkatan V tahun 2015 yang sekolah penempatan di Malinau
Selatan Hulu. Saya berangkat dari malinau kota pukul 09.00 kemudian sampai di
malinau selatan hulu pukul 15.30 sehingga lama perjalanan sekitar 5 jam melalui
jalur darat. Selama perjalanan kami membayangkan bagaimana keadaan tempat
pengabdian untuk satu tahun kedepan karena selama perjalanan kami melihat hutan
dan jalan masih dari tanah. Saat sampai ditempat tujuan yaitu Malinau Selatan
Hulu, kami disambut oleh guru serta pegawai kecamatan yang kebetulan sedang ada
pertandingan sepakbola dan voli untuk memperingati hari kemerdekaan RI ke-70.
Kami berkenalan dengan keluarga Bapak Urbanus Ishak yang akan menampung kami
selama setahun kedepan. Bapak Banus biasa kami menyapa beliau bekerja sebagai
pegawai honor kecamatan malinau selatan hulu. Istri beliau bernama Ibu Ike
Diana Wati adalah seorang guru SDN 02 Malinau Selatan Hulu. Ada seorang guru
bernama Eva Timba dari Toraja yang satu mess dengan kami. Ibu Ike & Eva
biasa kami memanggilnya untuk lebih akrab lagi sering menceritakan kepada kami
sebagai pendatang pengalaman pertama saat datang ke Malinau Selatan Hulu.
Banyak cerita lucu Ibu Ike & Eva tentang keadaan sosial-ekonomi masyarakat
Malinau Selatan Hulu.
|
Perjalanan menuju desa Metut- Kec.
Malinau Selatan Hulu
|
Kondisi jalan menuju Desa Metut:
Kendaraan
banyak yang “karam” oleh “giram”
lumpur |
Desa tempat
tinggal kami bernama Desa Metut, berarti banjir atau bocor. Desa Metut di
kelilingi perbukitan dan sungai. Sungai yang terkenal yaitu Sungai Uli dan
Sungai Malinau. Desa Metut mayoritas beragama Katolik. Suku mayoritas yaitu
suku Dayak Punan. Suku Dayak Punan merupakan suku pribumi kalimantan utara yang
masih tertinggal.
|
|
Awalnya Dayak Punan tidak
mempunyai rumah karena mereka hidup berpindah dari satu tempat ke tempat
lainnya (Nomaden) di Hutan. Namun suatu tokoh masyarakat mengajak mereka hidup
menetap di suatu wilayah. Mereka akhirnya memilih Sungai Uli untuk dibuat
daerah pemukiman penduduk. Suku tersebut bermata pencaharian berladang,
berburu, nelayan, dan bertani. Pekerjaan itu mereka lakukan secara turun
menurun. Pola pikir mereka masih mengandalkan hasil hutan atau alam di sekitar
tempat tinggal. Hasil hutan yang lama kelamaan semakin berkurang dan menurun
menyebabkan mereka harus pergi dari Desa Metut. Desa Metut dipimpin oleh Bapak
Daud Laing sebagai kepala desa. Kami mendapatkan pengarahan dari beliau untuk
menunaikan tugas dengan sebaik-baiknya dan dapat menjadi contoh yang baik
khususnya bagi peserta didik dan bagi masyarakat sekitar.
Tri Feby Adinsyah & Yohanes Kurniawan






















