foto bersama koordinator pusat SM-3T dan pemimpin AAU

awal prakondisi di AAU

kegiatan prakondisi di AAU

at Malinau

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Saturday, March 5, 2016

LONG RANAU, SEBUAH DESA DI HULU SUNGAI

Sabtu, 22 Agustus 2015 menjadi awal takdir bagi kami bertiga (Adhi, Refangga, Sevtyan). Kami semua dikumpulkan di kantor bupati untuk mendengarkan pengumuman penempatan penugasan di kabupaten Malinau, Kalimantan Utara. Peserta SM3T yang ditempatkan di kabupaten Malinau berjumlah 69 orang yang nantinya akan disebar ke seluruh penjuru kabupaten Malinau. Program SM3T (Sarjana Mengajar di Daerah Terdepan, Terluar, Tertinggal) mengantarkan kami bertiga ke desa nan jauh di sana, salah satu desa terluar dan salah satu desa yang paling sulit dijangkau/ditembus yang ada di Malinau. Karena harus ditempuh dua hari perjalanan (darat dan air).
Pagi hari sekitar pukul 8.00 WITA di depan rumah Pak Markus sudah terparkir mobil strada warna putih. Itu tandanya perjalanan kami ke Long Ranau dimulai, perjalanan yang sangat panjang dan melelahkan. Kami bergegas mengemasi barang kami untuk diangkut ke dalam mobil. Sekitar pukul 8.45 WITA kami mulai berangkat. Kami langsung disuguhi jalan yang tidak bersahabat; jalan yang berliku-liku tidak beraspal ditambah dengan banyaknya debu karena lalu lalang kendaraan proyek pengangkut batu bara (howling). Walaupun begitu perjalanan kami disuguhi dengan pemandangan hutan asli Kalimantan yang biasanya kami lihat di TV pada acara-acara documenter yang menyajikan keindahan alam Indonesia. Ditengah perjalanan ada bapak paruh baya yang membawa sembako dan ingin menumpang mobil kami. Bapak itu pun naik ke mobil kami. Perlu diingat bahwa numpang-menumpang di sini adalah hal biasa karena jarang-jarang ada mobil lewat karena medan yang sulit. Beberapa saat kemudian ada anak sekitar usia SMP ingin menumpang ke desa Long Pada, sopir kami pun mempersilakan untuk naik.
Perjalanan yang lebih memacu adrenalin kami pun dimulai. Jalan berkelok dan di samping kanan-kirinya terdapat jurang membuat kami was-was dan tak henti-hentinya berdoa. Saya dan Adhi duduk di belakang (di luar). Sedangkan Refa duduk di dalam di samping sopir. Pantat dan pungung saya sakit sekali karena berkali-kali terbentur besi mobil. Baru pertama kali saya melihat pohon-pohon begitu besar yang tingginya puluhan meter dan lebarnya kira-kira butuh 3 – 4 orang untuk memeluknya. Oh iya, selain kami naik mobil, ada Pak Eris yang naik motor. Saya tidak bisa membayangkan motor Revo 110cc yang dinaiki Pak Eris bisa menaklukan medan yang menurut saya sangat ekstrim. Di tengah perjalanan kami istirahat sejenak di tepi sungai untuk makan siang, sungguh sangat nikmat makan siang di tepi sungai di hutan. Selepas makan siang, kami melanjutkan perjalanan dan perjalanan darat kami berhenti di Long Avang. Long Avang bukanlah sebuah desa melainkan sebuah pos pemberhentian atau pos untuk transit sejenak. Di sini hanya ada dua rumah di tepi sungai. Kami bertemu dengan pemilik rumah dan bersalaman dengan mereka semua.
Rute Perjalanan Darat menuju Long Ranau

Waktu menunjukkan pukul 14.00 WITA kami memutuskan untuk sholat, sembari kami sholat Pak Mathius mencarikan kami ketinting (perahu). Tidak lama kemudian Pak Mathius pun datang dengan ketintingnya, kami pun menaikan semua barang-barang kami ke dalam ketinting. Kami sempat ragu apakah dengan barang-barang kami yang super berat ini tidak akan membuat ketinting tenggelam. Baru beberapa menit kami menaiki ketinting hal yang tidak diinginkan terjadi. Perahu kami hampir karam karena air sungai banyak yang masuk ke dalam perahu. Kami pun langsung menurunkan barang-barang kami ke tepi sungai. Kemudian Pak Eris dan satu juru batu ketinting berangkat ke desa Long Pada untuk melanjutkan perjalanan dan mengirimkan bantuan pada kami. Menurut penuturan Pak Mathius perahu yang kami naiki memang perahu tua yang sudah agak rapuh. Jadi wajar saja jika banyak air yang masuk ke perahu kami. Kami menunggu bantuan sekitar dua jam dari jam 15.00 – 17.00 . Kami dijemput dengan ketinting yang cukup besar dan perjalanan air kami pun dimulai. Kami kembali disuguhi panorama yang mungkin hanya bisa dilihat dalam film-film, naik perahu membelah hutan Kalimantan yang masih perawan dan asri merupakan pengalaman yang tidak semua orang bisa mengalaminya. Setelah beberapa saat kami naik perahu, kami dihadapkan pada situasi yang belum pernah kami alami sebelumnya. Kami bertemu dengan yang namanya “giram” atau jeram. Perlu diketahui bahwa perjalanan kami melawan arus sungai karena desa Long Ranau berada di hulu sungai. Seketika wajah kami bertiga berubah menjadi pusat pasi karena kami takut perahu yang kami naiki karam menghantam batu. Apalagi saat kemarau seperti ini debit air sungai kecil. Jadi butuh energi super ekstra untuk mengemudikan ketinting yang kami naiki. Ketinting yang kami naiki dikemudikan oleh 3 orang, dua orang menjadi juru batu yang berada di depan sedangkan satu lagi berada di belakang sebagai motoris. Perlu diketahui bahwa ketiganya masih duduk di bangku SMP. Itu yang membuat saya terkagum-kagum dengan keberanian anak-anak suku Dayak. Perjalanan air kami tidaklah mulus, ada kalanya saat bertemu dengan jeram yang mengerikan para penumpang harus turun dari ketinting dan berjalan puluhan bahkan ratusan meter di tepian sungai dan bahkan harus berjalan menembus hutan sembari menunggu ketintingnya ditarik menuju ke bagian sungai yang aman untuk dinaiki. Alhasil celana kami basah kuyup semua ditambah ternyata kami bertiga salah kostum karena kami bertiga memakai celana jeans sehingga langkah kami menjadi sangat berat ditambah dengan jaket dan pelampung membuat badan ini sangat panas. Kalau dihitung-hitung kami turun dari ketinting sekitak lebih dari 10 kali.
Persiapan Perjalanan menyusuri Sungai Menuju Long Ranau

Hari pun semakin sore dan gelap, perjalanan kami tak kunjung sampai di desa Long Pada tempat kami bermalam malam ini. Menaiki ketinting di malam hari bisa dibilang sangat berbahaya dan berisiko karena minimnya pencahayaan dan jarak pandang yang pendek membuat kapal rawan menabrak bebatuan dan skenario terburuknya kapal bisa karam. Untung saja senter handphone saya masih bisa menyala untuk menerangi jalan kami saat harus berjalan di bebatuan-bebatuan sungai yang besar dan menembus hutan. Badan kami pun semakin lemas ditambah hawa dingin yang menusuk tulang, ingin rasanya kami segera sampai di desa Long Pada. Selama perjalanan kami bertiga terus merenung, kami sudah tidak bisa bercanda seperti halnya tadi siang. Saya terus berpikir sebenarnya saya jauh-jauh datang kesini untuk apa ? Mengapa ada orang yang mau dan sanggup hidup di hulu sungai yang jauh dari keramaian dan terisolir dari daerah lain ? Seberapa jauh lagi jalan yang harus kami tempuh untuk sampai ke desa tempat tugas kami ? Dosa apa yang saya lakukan di masa lalu sampai-sampai saya harus mengalami hal-hal yang tidak mengenakan ? Banyak sekali pertanyaan-pertanyaan aneh yang berkecambuk di kepala saya. Kami tidak henti-hentinya komat-kamit berdoa kepada Yang Maha Kuasa agar kami diberi keselamatan. Lalu terlihat ada sorotan lampu dari kejauhan, ternyata itu adalah ketinting milik seseorang yang sedang mencari ikan di sungai. Saya dan Refa naik ke ketinting yang baru dan Adhi tetap di ketinting yang lama. Ketinting yang baru saya naiki memiliki senter jarak jauh dan berjalan di depan untuk membuka jalan karena ketinting yang sebelumnya saya naiki tidak membawa senter. Kami pun terus berdoa agar diberi keselamatan sampai tujuan. Jantung kami slalu berdebar-debar jika melihat jeram karena selalu dihantui oleh pikiran-pikiran jikalau ketinting akan karam. Sama sekali belum pernah terpikirkan oleh kami akan menempuh perjalanan sesulit ini. Doa kami pun terjawab sudah, sekitar pukul 20.30 WITA kami sampai di desa Long Pada. Kami memasukkan barang-barang di salah satu rumah dan kami bermalam di rumah yang lain milik salah satu guru di SD 001 Long Pada. Kami pun langsung bergegas mandi karena bau kami sudah tidak karuan. Di sini kami bertemu dengan dua orang alumni SM3T yang berasal dari Samarinda. Mereka berdua tidak mengikuti PPG karena sudah lolos CPNS. Kami disuguhi kopi hangat oleh Pak Eris yang sudah lebih dulu sampai di desa Long Pada. Yaaa, lumayan untuk mengusir hawa dingin di tubuh ini. Kami baru bisa tertidur pukul 00.00 WITA. Malam hari di sini sungguh sangat dingin sampai-sampai kami bertiga harus memakai pakaian dan celana yang serba panjang. Kami bersyukur akhirnya bisa merebahkan badan setelah seharian bergelut dengan medan yang melelahkan jiwa dan raga walaupun hanya beralaskan tikar yang terbuat dari bambu.
Saat kami bangun pagi badan kami terasa pegal semua. Kami pun bersiap melanjutkan perjalanan dihari kedua. Perjalanan hari kedua dari desa Long Pada menuju desa Long Ranau kembali ditempuh menggunakan ketinting. Menurut informasi yang didapat, perjalanan hari kedua lebih berat dari pada hari pertama karena jeram/giram yang dilalui lebih ekstrim. Kami berangkat sekitar pukul 09.00 WITA. Seperti biasa kami harus sering turun dari ketinting dan berjalan di tepian sungai bahkan terkadang harus menembus hutan sembari menunggu ketintingnya ditarik oleh warga desa Long Ranau yang sengaja datang untuk membantu kami. Bisa dibilang ketinting hanya digunakan untuk menaruh barang-barang kami karena kami lebih banyak berjalan kaki dari pada naik ketinting. Setiap kali kami berjalan menembus hutan, tubuh kami selalu dihinggapi pacet (lintah). Ada yang hinggap di kaki ada pula yang masuk ke dalam baju kami. Tengah hari kami beristirahat untuk makan siang, kami disuguhi ikan bakar hasil menyelam penduduk lokal. Disinilah kami kagum dengan orang Dayak, kagum dengan keberanian dan keramahannya. Setelah selesai beristirahat kami melanjutkan perjalanan dan lagi-lagi harus turun dari ketinting dan berjalan kaki. Rasanya sudah tak terhitung berapa pacet (lintah) yang hinggap di tubuh kami. Kami sungguh lelah sekali berjalan kaki, rasanya kami sudah dehidrasi. Kami sudah kehabisan air minum yang kami bawa, mau tidak mau kami harus meminum air dari mata air dan terkadang dari air sungai yang mengalir. Dengan kaki diseret-seret serta kaki yang lecet kami paksa tubuh kami yang lelah ini untuk terus maju berjalan ke depan.
Kerjasama Menarik Ketinting untuk melewati Giram

Akhirnya sekitar pukul 18.30 WITA kami sampai di desa Long Ranau tempat pengabdian kami selama satu tahun. Sungguh perjalanan dua hari yang melelahkan. Sesampainya di desa Long Ranau kami disambut hangat sekali oleh warga setempat. Baik tua, muda, anak-anak, semuanya datang menyalami kami bertiga. Seolah-olah kami bertiga sangat dinantikan dan diharapkan oleh mereka semua. Desa Long Ranau merupakan desa yang sangat kecil tersembunyi di tengah-tengah hutan dan dikelilingi sungai, mungkin bisa dibilang mirip dengan Nusakambangan. Di sini hanya terdapat ±30 rumah saja dan jumlah penduduknya sekitar 200 jiwa saja. Desa Long Ranau dihuni oleh suku Dayak Punan, masyarakat Dayak Punan di sini mata pencahariannya adalah berburu dan mengandalkan hasil hutan. Jadi bisa dibayangkan masih sangat sederhananya masyarakat di sini. Karena lokasi desa Long Ranau yang terpencil dan sulit dijangkau menjadikan masyarakatnya kurang informasi akan dunia luar. Ini menjadi salah satu kesulitan kami di sini dalam mengajar anak-anak di sini. Seolah-olah apa yang kami ucapkan merupakan hal yang baru bagi mereka padahal hal diucapkan merupakan hal yang umum bagi masyarakat di luar sana. Saya pernah menyuruh mereka untuk menunjukkan dimana pulau Kalimantan namun tidak satu pun dari mereka yang tahu dimana pulau mereka tinggal. Karena informasi yang sangat kurang inilah yang menjadikan wawasan kebangsaan mereka sangat kurang. Lagi, pernah suatu ketika waktu itu pelajaran IPS dan saya menjelaskan mengenai kenampakan alam yang ada di Indonesia. Saya menjelaskan mengenai pantai waktu itu. Ketika saya bertanya pada mereka,”Apakah kalian tahu pantai itu seperti apa ?” lagi-lagi tidak ada satu pun dari mereka yang tahu atau pernah melihat bagaimana bentuk pantai itu. Di satu sisi ini merupakan hal yang lucu dan patut untuk ditertawakan. Namun di sisi lain ini merupakan sebuah ironi, tamparan, sekaligus sindiran bagi kita semua. Apa yang sudah kita perbuat untuk mereka ? Apa yang sudah kita lakukan agar mereka terbebas dari keterpurukan yang mereka alami ? Mereka tetaplah saudara kita, saudara yang belum kita kenal. Janganlah kita biarkan jurang ketimpangan ini semakin membesar. Karena siapa tahu kelak orang-orang penting kelak dilahirkan dari desa Long Ranau atau desa-desa di pedalaman Kalimantan.
Peserta SM-3T tiba di penempatan Long Ranau

Di sini hanya terdapat satu sekolah saja yaitu SDN 004 Sungai Tubu. SD ini bisa dibilang baru jika dibandingkan dengan SD lain yang ada di kecamatan Sungai Tubu. Sebelum SD ini berdiri anak-anak dari desa Long Ranau harus bersekolah di ibukota kecamatan yaitu di desa Long Pada. Sebelum SDN 004 berdiri minat anak-anak untuk bersekolah bisa dibilang rendah. Ini dikarenakan jarak dari Long Pada ke Long Ranau cukup jauh. Ini juga mengakibatkan banyak anak di sini sebenarnya jika dilihat dari usianya sudah bukan usia SD lagi. Banyak dari mereka yang seharusnya sudah SMP bahkan SMA tapi justru masih berkutat di bangku SD. Mereka juga belum bisa membaca dengan lancar karena minimnya bahan bacaan yang ada di sekolah dan di desa. Yang saya salut dari mereka adalah semangat mereka untuk belajar sangat tinggi. Selama 5 bulan kami mengajar di sini jarang sekali kami menjumpai siswa absen masuk sekolah. Selain itu mereka datang ke sekolah dengan kondisi yang bermacam-macam, banyak dari mereka yang tidak memakai sepatu dan seragam. Kalau kami tidak begitu memperdulikan hal itu karena yang terpenting adalah niat baik mereka untuk berangkat ke sekolah.
Foto bersama seluruh siswa di Long Ranau

Sekolah tempat kami mengajar bisa dibilang masih sangat memprihatinkan. Sekolah kami berbentuk rumah panggung dimana dalam ruangan tersebut dibagi menjadi 6 kelas dimana setiap kelas disekat menggunakan seng. Bisa dibayangkan kesulitan yang dihadapi dengan kondisi kelas seperti itu, jika satu kelas sedang dijelaskan maka kelas yang lain juga mendengar suara dari kelas sebelahnya. Lalu tiap kelas tidak memiliki pintu dan ini menjadikan anak-anak bebas keluar masuk seenaknya saat pelajaran. Hal ini yang membuat kami sering memarahi mereka karena sering keluar masuk kelas seenaknya. Fasilitas penunjang pembelajaran di sini juga sangatlah minim, hanya ada white board, spidol, penghapus. Hanya itu saja.
Kondisi Kelas di SD

Tenaga pengajar di sini masih kurang. Di sini total terdapat 6 guru yang terdiri dari 3 guru honorer, 1 guru kontrak, dan 2 guru PNS. Semua guru honorer dan kontrak di sini hanya lulusan SMA dan baru pertama kali mengajar. Dua guru PNS-nya pun masih menyelesaikan studinya untuk mendapatkan gelar Sarjana. Otomatis dua guru PNS-nya harus berada di kota untuk kuliah dan tidak bisa mengajar sampai mendapatkan gelar Sarjananya. Alhasil hanya empat guru saja yang stand by di hulu sana. Untung saja tahun ini desa Long Ranau mendapatkan jatah tiga guru, setidaknya ini bisa sementara mengatasi permasalahan kekurangan guru di Long Ranau. Kami berharap tahun depan desa Long Ranau bisa mendapatkan jatah guru SM3T lagi.


Kegiatan Belajar Mengajar di SD long Ranau

Selama kurang lebih lima bulan hidup di tengah-tengah penduduk Long Ranau saya belajar banyak hal. Saya belajar bagaimana hidup dalam kesederhanaan dan keterbatasan. Bagaimana tidak ? Desa Long Ranau belum dialiri listrik, sebenarnya ada beberapa rumah yang memiliki genset , yang mana genset tergantung dari ada atau tidaknya minyak. Listrik rumah kami dialiri listrik dua hari sekali dan hanya selama 2 jam saja. Terkadang jika listrik sedang tidak dialiri listrik, kami bergerilya ke rumah warga yang listriknya menyala untuk sekadar mengisi ulang handphone kami agar kami bisa sekadar mendengarkan musik siang harinya. Begitu juga dengan sinyal, tidak ada sinyal sedikitpun di seluruh kecamatan Sungai Tubu. Jadi kami sama sekali tidak bisa mengubungi orangtua kami di rumah. Alat komunikasi satu-satunya yang digunakan di desa ini adalah radio angin. Radio ini menghubungkan desa-desa yang ada di sekitar desa Long Ranau. Bisa dibayangkan kehidupan kami seperti mundur dari peradaban, rasanya seperti kembali ke tahun 1950an.
Masyarakat desa Long Ranau termasuk masyarakat yang masih tradisional. Bukan tradisional dalam hal teknologi atau masih berpakaian dengan daun-daun, dsb. Namun tradisional dalam hal pola pikir (mindset) nya. Ketika ada warga yang mendapatkan hasil buruan berupa babi hutan, rusa atau kancil maka hasil buruan itu akan dibagikan rata ke setiap kepala keluarga. Ini menyiratkan rasa gotong royong yang masih dijunjung tinggi oleh masyarakat desa Long Ranau. Gotong royong yang tinggi merupakan salah satu ciri masyarakat yang masih tradisional. Penduduk desa Long Ranau mendapatkan pendapatannya dari dana desa, jadi setiap kepala keluarga mendapatkan sejumlah uang yang dibagikan secara rata. Karena penduduk desa Long Ranau tidak terlalu banyak maka hal ini bisa dilakukan. Ketika saya bertanya pada mereka apakah mereka tidak ingin merubah nasib mereka dengan keluar dari desa lalu bekerja di kota untuk mendapatkan penghasilan tambahan. Mereka mengatakan bahwa ini tanah leluhur mereka jadi mereka harus menjaga dan merawatnya. Salah satu warga mengatakan pada saya bahwa “kita yang kuat wajib menanggung mereka yang lemah, begitu pula kita tidak boleh mencari kesenangan untuk diri sendiri, kita harus mencari kesenangan untuk kita bersama. Seperti Tuhan Yesus yang rela berkorban untuk umat-Nya”. Ditambah dengan tingkat pendidikan yang mereka miliki tidak banyak pekerjaan yang bisa mereka lakukan. Lalu “label” yang sudah melekat pada masyarakat Dayak Punan menjadikan mereka malu dan minder dengan kedadaan mereka. Perlu diketahui bahwa masyarakat umum mengangap bahwa suku Dayak Punan merupakan suku yang paling primitif, yang identik dengan tingkat pendidikan yang rendah, tingkat sanitasi yang rendah, penampilan yang bisa dibilang kampungan dan suka meminta barang-barang yang kita miliki. Pandangan-pandangan seperti inilah yang menjadikan anak-anak suku Punan rendah diri dan berkecil hati. Selama kurang lebih 5 bulan penulis hidup ditengah-tengah mereka, anggapan-anggapan negatif tentang suku Punan tidak sepenuhnya terbukti. Mereka sangat baik pada kami, kami begitu dijaga dengan baik oleh mereka. Saat kami jauh dari orangtua kami, merekalah yang merawat dan menjaga kami. Saat kami kesulitan tanpa kami harus mengutarakan pada mereka, mereka dengan sigapnya membantu kami. Mereka sangat peka dengan keadaan yang ada. Memang betul suku Punan di desa Long Ranau bisa dibilang masih tertinggal jika dibandingkan dengan suku yang lain. Namun untuk masalah sanitasi, penampilan, dll bisa dibilang sudah cukup bagus jika dibandingkan dengan 5 atau 10 tahun yang lalu.
Selama saya hidup ditengah-tengah mereka, saya melihat banyak dari mereka yang masih kurang beruntung. Ini yang membuat saya lebih bersyukur dengan hidup yang sudah diberikan Tuhan kepada saya. Rasanya sekarang saya sudah tidak punya alasan untuk mengeluh dengan hidup yang saya jalani karena saya jauh lebih beruntung jika dibandingkan dengan mereka. Lalu sisi kemanusiaan saya terusik melihat banyak dari anak-anak di sana yang hanya memiliki tiga helai pakaian saja untuk dikenakan. Mereka tetap mengenakan pakaian yang lusuh karena hanya itu saja pakaian yang mereka punya. Ada pula anak usia balita usia satu atau dua tahun yang tidak mengenakan pakaian. Inilah realita mereka yang hidup di hulu sungai, mereka yang terhempas dari hiruk pikunya keramaian di kota, mereka yang hidup di tengah keterbatasan dan kekurangan. Mereka yang tetap bisa hidup dengan bahagia di tengah-tengah kesunyian hutan Kalimantan. Harapan mereka sederhana, mereka hanya ingin tetap hidup bersama-sama dengan semangat gotong royongnya melewati tahun demi tahun ke depan. Memang tidak salah jika mengejar kebahagiaan pribadi karena itu merupakan hak setiap manusia. Namun tidakah etis jika kita mengejar kebahagiaan pribadi sedangkan ada saudara di samping kita yang untuk memenuhi kebutuhan dasarnya saja masih kesulitan. Desa Long Ranau mengajarkan saya banyak hal, saya melihat sebuah masyarakat yang sudah tidak pernah akan saya lihat lagi di luar sana, di Jawa terutama. Sebuah masyarakat yang bagi banyak orang bisa dikatakan “utopis”. Boleh saja mereka yang di luar sana mengatakan penduduk suku Punan primitif dan terbelakang namun ada hal yang membuat masyarakat suku Punan lebih baik dari mereka, yaitu sisi kemanusiaan, kesederhanaan, dan kebersamaan yang bagi sebagian masyarakat di luar sana sudah lama ditinggalkan karena pengaruh budaya materialistik. Masyarakat desa Long Ranau bisa dijadikan contoh untuk kita semua bahwasanya walaupun kita hidup ditengah kekurangan namun kita tidak boleh kehilangan kepedualian dan kemanusiaan terhadap sesama. Desa Long Ranau merupakan masyarakat yang ideal dan sesuai dengan budaya bangsa Indonesia yang menjunjung nilai-nilai Pancasila, sebuah masyarakat yang diharapkan bisa menjadi role model  bagi masyarakat Indonesia yang sudah digerus oleh arus globalisasi. Saat ini fokus pendidikan kita sudah beralih dari penguatan layanan pendidikan (ketersediaan, keterjangkauan, kualitas, kesetaraan dan kepastian/keterjaminan) menjadi pendidikan yang memiliki daya saing regional. Sudah ramai orang di luar sana membicarakan soal MEA (Masyarakat Ekonomi ASEAN), namun mereka yang di pedalaman tidak mengetahui apa itu MEA. Mereka tetap melanjutkan hidup seperti biasanya. Disaat negara-negara tetangga sudah mulai mengekspor tenaga kerjanya yang terampil, kita masih berkutat pada pemerataan dan meningkatkan keterjangkauan pendidikan. Memang peningkatan kualitas pendidikan tidak hanya dipengaruhi oleh satu faktor saja namun banyak faktor yang mempengaruhi ditambah karakteristik setiap daerah di Indonesia berbeda-beda menjadikan permasalahan pendidikan di Indonesia menjadi masalah yang kompleks. Dengan berbekal niat dan usaha dari pemerintah saat ini, saya percaya pendidikan di Indonesia akan semakin maju dan putra-putri kita dapat bersaing dengan anak-anak dari negara lain.
Untuk pertama kalinya dalam hidup, saya merasa berguna dan bermanfaat bagi orang lain. Karena sebaik-baik manusia merupakan manusia yang berguna dan bermanfaat bagi sesame. Sekarang saya menyadari bahwa setiap makhluk hidup yang diciptakan Tuhan memiliki peran dan fungsinya masing-masing. Saya ingin bisa berbuat lebih banyak lagi untuk mereka. Dengan berbekal keikhlasan semoga apa yang kami lakukan bisa membawa berkah bagi semua. Amin. Nelson Mandela pernah mengatakan “What counts in life is not the mere fact that we have lived. It is what difference we have made to the lives of others that will determine the significance of the life we lead”. (sev)

Sevtyan, Long Ranau

KESENANGAN MENJADI KEGEMBIRAAN HIDUP DARI MALINAU SELATAN HULU

Mancing Mania Ala MASEHU Di Hulu Sungai Malinau
Aktivitas kami jika hari libur & tidak ada kegiatan sekolah yaitu kami mengisi dengan jalan-jalan bersama siswa untuk menambah keakraban, kekeluargaan, & kebersamaan, seperti piknik, memancing, & berenang di Sungai. Kegiatan tersebut menjadi hiburan sekaligus liburan bagi kami untuk menghilangkan kejenuhan & kepenatan dari rutinitas sehari-hari.
Piknik bersama anak sungai uli
Makan bersama anak sungai uli

Pada minggu, 4 Oktober 2015 saya & rini mendapat undangan memancing dari Rian dan Loren untuk pergi memancing di Hulu Sungai dengan ketinting. Undangan tersebut tidak kami sia-siakan dan mempersiapkan segala sesuatu untuk memancing. Ketinting merupakan perahu kecil dengan motor tempel di bagian belakang. Ketinting menjadi salah satu alat transportasi alternatif masyarakat Desa Metut melalui sungai. Perasaan naik ketinting pertama kali yaitu berdebar-debar dan banyak berdoa karena harus melawan arus sungai menuju hulu. Daerah hulu masih alami & banyak ikan besar sehingga daerah yang baik & bagus untuk memancing. Di tengah perjalanan kami berhenti di Desa Naha Kramo Baru untuk menjemput Feri & Nurul. Mereka terkejut dengan kedatangan kami kemudian kami mengatakan tujuan kedatangan untuk mengajak mereka memancing di Hulu Sungai. Mereka sangat senang saat kami ajak dan mewajibkan mereka untuk membawa perlengkapan memasak. Lama perjalanan dari desa Metut ke Naha Kramo sekitar 15-20 menit. Setelah semua perlengkapan siap maka kami berangkat menuju hulu untuk memulai pengalaman perjalanan melihat hutan Malinau Selatan Hulu. Perjalanan terasa menyenangkan ketika harus melewati “giram” (gelombang) sungai yang deras, besar, & dangkal.
Pengalaman Pertama naik ketinting menerjang ‘giram’(gelombang)
Menikmati perjalanan naik ketinting

Koordinasi antara sopir ketinting di buritan dengan juru batu di haluan untuk mengarahkan posisi ketinting agar tidak karam. Kami justru sibuk perpegangan pada tepi ketinting melihat sekitar dan mengamati pergerakan ketinting melawan arus sungai. Lama perjalanan sekitar 30 menit dari Naha Kramo, akhirnya kami sampai di spot memancing pertama tetapi kami harus mencari umpan dahulu yaitu cacing. Cacing menjadi umpan favorit bagi pemancing ikan dan melimpah di tepi sungai. Terkadang cacing itu dimakan juga oleh pemancing karena frustasi tidak mendapatkan ikan.
Mencari cacing untuk umpan
Ketahan malangan (makan cacing) di hulu sungai

Memancing ikan sungai, kail harus diberi pemberat agar tidak hanyut mengikuti arus sungai. Memancing ikan selama 2 jam tidak mendapatkan hasil tangkapan maka kami putuskan untuk pindah spot memancing kedua yaitu hilir sungai atau Desa Naha Kramo lama. Keberuntungan akhirnya berpihak pada kami karena mendapatkan tiga ekor ikan sungai; ikan salap dan baung. Kemudian kami membakar hasil ikan tangkapan dengan bumbu seadanya setelah ikan matang kami menyantap hidangan dengan lahap.
Akhir dari sebuah kesabaran memancing
Makan siang hasil tangkapan memancing

Akhirnya perjalanan memacing usai setelah acara makan selesai. Kami membereskan barang dan alat-alat memancing kemudian bergegas pulang agar tidak terlalu sore sampai di Desa Metut. Kami mengantarkan Feri dan nurul pulang ke mes Naha Kramo. Kami pulang ke desa Metut pukul 18.30 WITA kemudian mandi & Ishoma. Akhir perjalanan memancing yang menyenangkan sekaligus mendebarkan ala Malinau

Air Terjun Marthin Billa
Pada hari rabu, 14 Oktober 2015 libur tahun baru islam 1437 hijriyah, kami membuat rencana untuk pergi berwisata tetapi tempat tujuan wisata sudah ditentukan 2 hari sebelumnya yaitu Obyek Wisata Air Terjun Marthin Billa. Sebelum berangkat kami membuat rencana pemberangkatan seperti Feri, Nurul, Rini sudah memiliki ‘tebengan” (tumpangan) kendaraan sepeda motor masing-masing sedangkan saya tidak mempunyai “tebengan” motor. Ketika saya ditanya oleh teman-teman mengatakan “saya akan boncengan dengan bapak Ronny ke Marthin Billa” kemudian disambut oleh suara tertawa dari rekan-rekan semua karena mereka baru sadar bahwa boncengan dengan Bapak Ronny tidak di belakang tetapi disamping karena menggunakan mobil Mitsubishi Strada 4 WD. Akhirnya hari-hari yang ditunggu tiba juga tetapi cuaca tidak mendukung karena malam hari sebelumnya diguyur hujan deras sehingga Feri & Nurul tidak datang dari Desa Naha Kramo Baru. Keinginan besar Bapak Ronny untuk tetap berwisata akhirnya membulatkan tekad kami untuk berangkat. Kendala yang dihadapi yaitu penjemput Feri & Nurul. Saat mencari penjemput Iwan bertemu dengan Bapak Agus Uboh bahwa tetap berangkat ke Marthin Billa yang akhirnya penjempunya sudah lengkap yaitu Bapak Urbanus & Agus Uboh. Saat menunggu Feri & Nurul turun hujan sebentar maka kami mulai berfikir jika pemberangkatan ditunda sementara/ tidak jadi berangkat. Hujan turun selama 25 menit yang membasahi jalan lumpur di Desa Metut. Tetapi kedatangan Feri & Nurul menambah haru karena mereka harus basah kuyup kehujanan & jaket SM3T Feri robek karena masuk roda belakang motor di perjalanan. Berdasarkan pengamatan Bapak Agus & Urbanus hujan turun sekitar Lokasi dan Kampung saja tidak merata turun hujan. Setelah hujan berhenti kami berangkat menuju obyek wisata Marthin Billa. Perjalanan menuju obyek wisata sekitar 1 jam. Kami melewati jalan yang cukup mulus dan lancar tidak ada hambatan. Kami menikmati perjalanan dengan mengobrol dan bercanda. Kami juga melewati Camp logging untuk menyimpan kayu. Perjalanan yang menyenangkan tidak terasa telah sampai tempat tujuan. Masuk obyek wisata Marthin Billa disambut pintu gerbang. Gerbang masuk yang jalannya sudah aspal sehingga dapat dilalui kendaraan. Mobil hanya dapat masuk sekitar 50 meter dari gerbang masuk karena terhambat semak belukar yang menutupi jalan sehingga kami melanjutkan perjalanan dengan jalan kaki. Selama perjalanan kami harus berhati-hati karena banyak tanaman berduri yang menutupi jalan.
Perjalanan menuju air terjun

Kami menjumpai pondok peristirahatan yang sudah tidak digunakan lagi sehingga berkesan seperti rumah berhantu & angker. Kami harus menyeberangi sungai dengan kedalaman air 50 cm karena jembatan untuk menyeberang tinggal kawat baja penopang. Saat menyeberang saya teringat prakondisi yaitu penyeberangan basah.

Penyeberangan basah ala SM3T MASEHU
Setelah melewati sungai kami menelusuri jalan yang terbuat dari kayu ulin dan ditumbuhi lumut sehingga harus hati-hati berjalan karena licin sekali. Rasa lelah terbayarkan oleh pemandangan air terjun yang indah dengan ketinggian 75 meter. Kami langsung mengambil gambar air terjun untuk kenang-kenangan. Air dari air terjun terasa dingin dan sejuk sekali maka diantara kami sudah tidak sabar untuk pergi berenang ke bawah air terjun. Saya menyusul berenang sendirian dan sensasi dibawah air terjun yaitu badan seperti tertusuk jarum karena airnya terasa dingin sekali saat terkena kulit apalagi badan saya yang kurus kerempeng jadi semakin terasa tusukannya
Keharmonisan bersama guru SATAP dibawah air terjun Marthin Billa

Setelah puas terapi air terjun saya berenang ke seberang untuk mengikuti sesi foto bersama dengan background air terjun. Kami mencoba beberapa gaya dan banyak kamera yang digunakan sehingga kami puas dengan hasil foto-fotonya. Setela puas berfoto kami istirahat dan menyantap bekal yang dibawa dari rumah yaitu nasi, mie goreng, sayur daun ubi dan terong, keripik pisang, air minum. Makanan sederhana terasa nikmat sekali karena kebersamaan yang terjalin.
Piknik bareng guru SATAP
Setelah makanan sudah habis bersih disantap kemudian kami bergegas pulang karena sudah sore. Sebelum pulang kami berfoto bersama di depan gerbang masuk Obyek Wisata Air Terjun Marthin Billa karena ketika datang kami langsung menuju air terjun. Rasa lelah bercanda dan kegembiraan masih terasa menuju mes. Bapak Ronny ingin mengantarkan Feri & Nurul ke Naha Kramo Baru untuk mencoba jalan baru kesana. Kami sempat khawatir saat melewati tanjakan dan mobil tidak kuat menanjak kemudian mundur kembali untuk mengambil ancang-ancang agar menambah dorongan. Setelah beberapa kali mencoba akhirnya kami berhasil melewati tanjakan tersebut. Lama perjalanan menuju Naha Kramo Baru selama 35 menit menempuh jarak 3 kilometer karena harus melewati 3 bukit dan 2 lembah. Saya sampai desa Metut sekitar pukul 18.30 WITA dan berakhirlah perjalanan wisata untuk hari ini
Pintu gerbang obyek wisata air terjun

“Manakala kerja merupakan kesenangan maka hidup merupakan kegembiraan & manakala kerja merupakan kewajiban maka hidup merupakan perbudakan”

Febi & Iwan, Sungai Uli

PERAYAAN IDUL ADHA DAN SHOLAT JUMAT PERTAMA DI KABUPATEN MALINAU

Umat muslim di seluruh dunia merayakan Idul Adha pada tanggal 10 Hijriyah/ 24 September 2015. Idul Adha merupakan hari raya kedua bagi umat muslim setelah Idul Fitri. Saya tidak menyia-nyiakan kesempatan itu untuk merayakan bersama rekan-rekan SM3T di Malinau Selatan Hulu. Saya sudah memperoleh ijin dari Kepala Sekolah untuk merayakan Idul Adha dimanapun. Saya dan rekan-rekan SM3T merencanakan untuk merayakan Idul Adha di Malinau Kota atau Long Loreh. Hari rabu, 23 Sepetember 2015 pukul 12.30 WITA, saya diantar oleh siswa GERDEMA turun menuju Long Loreh. Perjalanan menuju long loreh sekitar 2 jam. Di long loreh, saya menginap dengan rekan-rekan SM3T yaitu Rohmad Miftah Jati Nugroho (Rohmad), Dany Kusuma Handika (Dany), & Purba Widita (Widi) yang bertugas di SMPN 1 Malinau Selatan serta menemui Dian Novia Eka Sari (Dian) & Rosiana Dwi Teriasih (Teri) yang bertugas di SMAN 5 Malinau. Banyak cerita pengalaman suka cita mereka yang sudah sebulan penempatan di sekolah tersebut. Mereka sibuk kegiatan intrakurikuler dan ekstrakurikuler sekolah sehingga waktu sebulan tidak terasa dan berlalu cepat. Selain sibuk mengajar rohmad juga mengelesi anak-anak membaca, menulis, dan menghitung. Widi & Dany mendapatkan proyek dari Kepala Sekolah yang harus selesai semua sebelum pengabdian usai. Saya juga menceritakan pengalaman pertama di desa metut kecamatan malinau selatan hulu. Mereka bertempat tinggal “ngekost” tidak jauh dari sekolah. Saya mengatakan maksud kedatangan untuk merayakan idul adha dan sholat jum’at pertama di Malinau kemudian disambut suara ketawa bersama-sama. Saya juga bertemu rekan-rekan SM3T yaitu Sri Wijayanti (Aya) & Berliana Ridhowati (Erlin) yang bertugas di SDN 003 Malinau Selatan - Laban Nyarit. Saat kami berkumpul masing-masing menceritakan pengalaman mengajar dan survive di tempat pengabdian. Saya merasakan kebersamaan, keharmonisan, & kekeluargaan karena merantau untuk tugas bangsa dan negara. Menurut Erlin & Aya jika ingin menelepon/SMS mereka harus menuju pohon sinyal yaitu pohon kelapa dan harus sabar menanti SMS terkirim dan menunggu balasan. Pengalaman mencari sinyal, mencari sayuran, dan memancing harus dirasakan oleh rekan-rekan SM3T untuk menambah wawasan, pengetahuan, & pengalaman hidup.
kebersamaan setelah melaksanakan sholat idul adha
Merayakan idul adha di Loreh

Perayaan Idul Adha di Long loreh sedikit berbeda, kita mengunjungi sesama muslim untuk mengucapkan selamat hari raya dan banyak makanan tersedia bahkan sepanjang hari itu acaranya hanya makan terus pada setiap rumah yang dikunjungi sehingga mirip Idul Fitri di Jawa
Berkunjung ke sesama muslim di Long Loreh

Idul adha merupakan hari besar umat muslim yang sebenarnya karena penyembelihan hewan kurban yang dilanjutkan makan bersama. Keluarga muslim Long Loreh menyambut kami sangat ramah, umumnya masyarakat yang beragama islam berasal dari luar malinau yang bekerja di pertambangan batubara seperti Jawa & Bugis-Sulawesi.
Pada hari Jum’at, 25 September 2015 Pukul 06.00 WITA kami bangun pagi untuk melaksanakan sholat subuh dan mempersiapkan segala sesuatu untuk mengajar tetapi saya melanjutkan tidur pagi karena masih terasa udara dingin di kulit. Rohmad, Dany, & Widi sudah siap untuk pergi ke sekolah sehingga saya tinggal sendirian di Kost. Ibu kost mereka bernama Ibu Sarah seorang guru SD dan kebetulan kenal Bapak Markus Lungung. Ibu Sarah sangat baik pada kami jika ada hasil panen dari ladang seperti buah Lay dan Cempedak serta sayur-mayur memberikannya pada kami untuk dimakan bersama. Buah Lay merupakan durian lokal dengan tekstur buah lunak dan kering sedangkan Cempedak menyerupai buah nagka/gori/tewel dari tekstur, rasa, & aroma. Jika memakan buah tersebut sebaiknya tidak berlebihan karena kandungan alkoholnya cukup tinggi sehingga dapat menyebabkan pusing. Pukul 12.20 kami bersiap melaksanakan sholat jum’at di Masjid. Tema khotbah jum’at tentang “Ketaqwaan Idul Adha kepada Alloh SWT”. Saya bersyukur sekali dapat merayakan Idul Adha dan Sholat jum’at meskipun jauh sanak keluarga tetapi kebersamaan umat muslim menjadi keluarga baru yang tidak ada hubungan darah sanak saudara mungkin itu adalah arti keluarga yang sebenarnya.

Ragam Kegiatan Di Sungai Uli

Bertemu Bupati Malinau Di Sungai Uli

Pada tanggal 10 September 2015 di Desa Metut ada acara pengukuhan Kader Tim Sukses YATOP yaitu Yansen dan Topan yang dilantik langsung oleh Bapak Yansen sendiri. Kami menemui beliau Bapak Yansen sekedar jabat tangan dan memperkenalkan diri bahwa kami adalah guru SM3T. Kami mendapat pesan dari Bapak Yansen untuk selalu semangat, kreatif, inovatif, serta mengabdi untuk masyarakat. Bapak Yansen mengatakan “saya pernah lebih sengsara dari kalian, dulu saya pernah tinggal di daerah yang tidak ada listrik dan tidak ada jalan maka itu akan menjadi kenangan/ pengalaman berharga yang tidak akan pernah dilupakan dan cerita yang menarik untuk kehidupan nantinya”. Saya berterima kasih atas semangat yang diberikan oleh Bapak Yansen untuk kami. Beliau memimpin kabupaten Malinau dari tahun 2011-sekarang. Beliau mendatangi masyarakat yang membutuhkan, mendengarkan aspirasi, dan mengawasi perkembangan pembangunan desa. Dana yang sangat besar untuk pembangunan desa seharusnya memberikan kontribusi nyata untuk masyarakat sekitar.
Dialog Bupati Malinau dengan masyarakat desa Metut
Proses berlangsungnya acara

Pengabdian Masyarakat

Setelah kegiatan belajar mengajar sekolah selesai selanjutnya saya mengajari anak-anak mengaji iqro, al-qur’an, dan doa-doa sholat di Kampung lokasi Desa Metut. Saya pertama kali mengikuti kegiatan tersebut karena diajak oleh Bapak Gunawan, S.Pd.. Di Desa Metut umat muslim tidak mempunyai tempat ibadah berupa mushola maupun masjid dan pembangunan masjid segera dilaksanakan menggunakan anggaran desa. Kami mengajari anak-anak mengaji di rumah Bapak Arnol atau Bapak Hamzah. Sebelum listrik masuk kampung lokasi, saya mengajari anak mengaji iqro di rumah bapak Hamzah. Setelah listrik masuk kampung lokasi, saya pindah tempat untuk mengajari anak mengaji di rumah bapak Arnol. Anak-anak sangat antusias belajar mengaji iqro bahkan para orang tua juga sudah mulai mau ikut belajar mengaji karena ada yang mengajari mereka. Sebenarnya umat muslim Desa Metut membutuhkan tokoh agama untuk dapat membimbing jalan yang diridhai Alloh SWT. Umat islam Desa Metut tidak pernah melaksanakan sholat padahal amalan yang pertama dihisab dan tiang agama adalah sholat. Hal tersebut mendorong saya mengajari anak-anak dapat melaksanakan sholat dan membaca al-qur’an. Kami juga membantu kegiatan masyarakat seperti membantu renovasi sekolah, membuat pemisah kelas, dan memperbaiki plafon/langit-langit.
Kegiatan mengaji iqro untuk anak
Kegiatan mengaji Al-Qur’an untuk dewasa
Membantu renovasi sekolah
Proses renovasi sekolah

Habis Terang Terbitlah Gelap & Jaringan Sibuk!

Penerangan yang minim saat malam membuat saya harus membawa senter dari baterai dan Hand Phone (HP). Masyarakat desa menggunakan mesin diesel dan jetsett untuk sumber listrik. Listrik akan menyala dari pukul 18.30-22.30 WITA maka pada jam tersebut saya harus mulai menge-charge HP dan laptop. Listrik tersebut dibiayai dengan cara iuran Rp10.000,- sampai Rp20.000,-/rumah dan tergantung alat elektronik yang digunakan. Hal ini menjadi pengalaman berharga bagi saya untuk mampu bertahan dengan “keterbatasan”. Siswa saya saja dapat bertahan dengan keterbatasan tersebut maka saya harus dapat bertahan dan memotivasi mereka untuk lebih mandiri, kreatif, dan inovatif. Sejak datang di Desa Metut saya tidak pernah menonton televisi dan tidak tahu informasi perkembangan dunia luar. Biasanya menonton televisi merupakan kegiatan rutin namun bagi masyarakat metut, televisi merupakan barang mewah yang diluar jangkauan ekonomi. Hanya orang-orang tertentu saja yang mempunyai televisi di rumahnya. Harapan saya mudah-mudahan segera terwujud “Habis Gelap Terbitlah Terang” untuk akses listrik PLN masuk Kecamatan Malinau Selatan Hulu
Kondisi rumah dinas guru tampak luar
Rumah dinas tampak dalam; dapur
Selain masalah listrik, saya dan teman-teman di Desa Metut terkendala sinyal Hand Phone (HP). Hanya operator tertentu saja yang menerima jangkauan luas yaitu Telkomsel seperti kartu AS dan Simpati. Sinyal HP di Desa Metut hanya terdapat pada daerah tertentu saja.Tempat atau spot sinyal yaitu gunung cinta, gunung pare, gunung rindu. Saya pernah bertanya nama gunung seperti orang pacaran saja dan nama tersebut diambil dari rasa melepas “cinta” pada keluarga dan “rindu” menanyakan kabar sanak-saudara yang jauh. Pengalaman pertama untuk mencari sinyal yaitu gunung pare. Lokasi untuk mendapatkan sinyal HP di Gunung Pare terletak di tepi jalan “logging” (penebangan kayu) dan kami harus menghadap ke jurang untuk mendapatkan sinyal yang diinginkan jika salah melangkah kami terjun bebas ke dasar jurang. Ketika mencari sinyal di Gunung Pare saat malam hari, saya berpapasan/ bertemu truk logging yang ukurannya memenuhi jalan raya maka kami harus menepi ke tepi jalan. Truk logging membawa kayu gelondongan lebih dari 1 meter diameter batangnya.
Spot sinyal Gunung Pare
Spot gunung pare sebagai jalur perlintasan logging

Bapak Ronny mengajak saya, rini, feri untuk mencari sinyal di Gunung Cinta. Spot sinyal gunung cinta lebih ekstrim dari gunung pare yaitu kami harus mencari sinyal naik tebing batu yang curam. Kami harus sabar mengirim kabar ke keluarga di jawa karena sinyal kadang datang dan pergi jika tidak ada sinyal kami harus berpindah tempat dan berhati-hati melangkah jika salah melangkah maka nyawa menjadi taruhannya.
Spot sinyal Gunung Cinta
Menelpon di pinggir tebing batu

Spot sinyal yang terdekat dengan mess yaitu gunung rindu. Gunung rindu hanya dapat ditempuh dengan jalan kaki, harus masuk hutan, naik 2 bukit 1 lembah, dan lama perjalanan kurang lebih 15-30 menit. Setelah sampai di gunung rindu terdapat pondok untuk kami beristirahat. Pondok tersebut dibangun untuk istirahat petani ladang. Perjalanan ke gunung rindu sebenarnya sekaligus berolahraga karena keringat keluar semua dari tubuh. Pemandangan gunung rindu luar biasa indahnya. Saya dapat melihat keindahan hutan yang ada di sekitar Desa Metut.
Posisi spot paling bagus Gunung Rindu
pondok rindu dan posisi paling nyaman untuk istirahat di Gunung Rindu

Selain menggunakan sinyal HP jika ingin berkomunikasi dengan rekan-rekan guru SM-3T di Malinau Kota yaitu menggunakan sinyal wifi. Sinyal wifi hanya terdapat di Kantor Kecamatan Malinau Selatan Hulu. Lama perjalanan 15 menit menggunakan motor jika jalan kaki sekitar 2 jam. Kami selalu bersemangat jika ada yang mengajak ke kantor kecamatan dan biasanya langsung berkemas dan berangkat kadang lupa makan dan mandi.
Posisi nyaman berkomunikasi di pedalaman Kalimantan
Spot sinyal wifi di Kantor Kecamatan Malinau Selatan Hulu

Bahkan kami pernah kecewa jika ternyata sinyal wifi sedang mengalami gangguan maka yang dapat dilakukan hanya duduk dan bemain game HP atau melihat pesan WA rekan-rekan SM3T kiriman sebelumnya. Saya hanya mempunyai “HP Black Battery” jadi tidak ada sinyal wifi dan hanya menggunakan sinyal dari operator. Ketika mereka pulang dari kantor kecamatan maka saya menanyakan kabar rekan-rekan SM3T di Malinau Kota.

Survival Di Sungai Uli
Di Desa Metut bahan makanan tidak menjadi masalah karena semua sudah tersedia di lingkungan sekitar. Sayuran yang mudah dijumpai yaitu daun singkong dan pakis. Saya makan sayur daun singkong dan pakis hampir setiap minggu. Hal tersebut sudah biasa bagi saya di jawa karena singkong merupakan tanaman yang mudah untuk ditanam dan pakis tumbuh subur disekitar hutan Desa Metut. Sayuran tersebut tidak hanya ditanam secara organik namun “super organik” tanpa menggunakan kimia. Hal unik yang saya temukan yaitu cara memasak daun singkong. Di Jawa umumnya daun singkong direbus untuk lalap atau diberi santan (bobor) namun masyarakat desa metut sebelum daun singkong ditumis, daun tersebut ditumbuk sampai hancur terlebih dahulu. Saya hampir tidak mengenali jika sayur tersebut berasal dari daun singkong kecuali setelah merasakannya/memakannya.
Proses memasak daun singkong
Sayur daun singkong siap dihidangkan

Lauk hampir tidak pernah kekurangan yaitu berupa ikan sungai yang banyak jenisnya karena desa metut dikelilingi dan pertemuan antara sungai uli dan sungai malinau. Masyarakat biasanya beburu saat malam hari seperti babi, musang, landak, payau (rusa). Ikan sungai hampir setiap minggu kami makan.
Hasil tangkapan ikan sungai dengan memancing, pukat & menyelam
Mandi sekaligus “diving” di Sungai

Lingkungan yang masih terjaga sehingga ikan cukup banyak dijumpai. Jenis ikan sungai meliputi Ikan Salap, Ikan Gurameh, Ikan Gabus (Snake head), Ikan Parut, Ikan Belut, dan Ikan Baung. Kami tidak akan kekurangan bahan makanan di Hulu.