Hari
Minggu tanggal 23 Agustus 2015 setelah sarapan pagi di MC Hotel, kami meuju ke
tempat Dinas Bupati Malinau untuk mengikuti Upacara Penerimaan dan Pelepasan
Guru SM-3T Angkatan V dan Angkatan IV Kabupaten Malinau. Acara tersebut dibuka
oleh Wakil Bupati Malinau karena Pak Bupati berhalangan hadir ada acara di
Tarakan. Pak Brata pun memberikan pengumuman yang berupa pembagian daerah
penempatan yang semalam belum disebutkan secara keseluruhan. Di akhir acara,
kami diminta untuk berkoordinasi dengan kepala sekolah masing-masing membahas
pemberangkatan ke sekolah pengabdian. Kami berdua (Boby & Doni) bertemu
dengan Pak Markus Apon selaku Kepala Sekolah SDN 002 Sungai Tubu Desa Long
Titi. Meskipun beliau sudah berumur 56 tahun namun kelihatannya masih sehat
seperti umuran 40 tahun yang memngingatkan saya kepada mbah kakung di Jawa.
Lama kami berbincang-bincang lalu kami berfoto dengan Pak Sudarmaji dan Pak
Brata untuk dimasukkan ke laporan khusus karena Desa Long Titi merupakan daerah
yang istimewa katanya dan pertama kalinya mendapatkan peserta SM-3T di Angkatan
V ini. Acara selesai, kami pun bergegas mengambil barang bawaan yang masih di
MC Hotel untuk diangkut menggunakan angkutan kota menuju ke rumah Pak Markus
yang ada di seberang, perjalanan kurang lebih 10 menit. Di pertengahan jalan,
kami berhenti sejenak untuk mengambil uang di ATM BNI sebagai uang saku kami selama
di Long Titi karena disana tidak ada ATM BNI. Sesampainya di rumah Pak Markus,
kami turun dari angkutan kota membayar uang 50 ribu untuk 2 orang. Kami pun
beristirahat sejenk untuk melepas lelah. Ternyata keadaan di rumah sungguh
panas tetapi setelah 3 hari disana kami sudah terbiasa dengan keadaan itu.
Saking panasnya, kami akhirnya membeli minuman di warung depan rumah sekaligus
makanan ringan. Malam hari pertama kami disana, kami merasa kelaparan hingga
rela jalan kaki sekitar 15 menit mencari penjual makanan sampai ke dekat
jembatan Malinau Seberang yang akhirnya ketemu juga dengan Nasi Goreng yang
ternyata orang Jawa juga asli Surabaya. Kata Pak Markus di SD kami ada juga
orang Jawa yang berasal dari Solo baru jadi CPNS sekitar 1 tahun lebih di
Malinau dan kami pun dikenalkan dengan Pak Hasan (Guru CPNS dari Solo tersebut)
dan berbincang-bincang banyak hingga kami akrab sampai pemberangkatan ke Desa
Long Titi. Di rumah Pak Markus kami tinggal selama 5 hari disana karena harus
menunggu jemputan dari Long Titi. 2 hari menjelang keberangkatan ke Long Titi,
kami pun berbelanja ke pasar untuk membeli sembako dan perlengkapan yang perlu
kami bawa.
Hari Rabu tanggal 26
Agustus 2015 tibalah saatnya pemberangkatan menuju daerah pengabdian yaitu SDN
002 Sungai Tubu Desa Long Titi. Kami berdua siap-siap berangkat dengan
mengenakan kaos, celana kolor pendek, kaos kaki bola, sepatu blabang BOWLING, topi
SM-3T dan pelampung dari UNY. Sekilas kami lihat penampilan saat itu terasa
orang aneh yang mau ke hutan padahal baru naik perahu ketinting...hehee.
Sebelum berangkat, kami pun mengangkat barang bawaan sebanyak masing-masing 2
tas ditambah bahan makanan sebagai persiapan kami disana seperti mie instan,
sembako, piring dll. Pak Kepsek berkata kepada kami kalo membawa barang bawaan
ke Long Titi paling tidak bawa baju dinas batik dan kaos secukupnya saja tidak
perlu bawa sepatu fantovel serta seragam pramuka karena keadaan disana tidak
seperti di kota dan tidak ada pramuka. Tetapi karena kami masih takut kalo saja
kekurangan baju dll jadi kami bawa 2 tas sedangkan barang lainnya 1 tas dan
laptop dititipkan di rumah Pak Markus. Barang bawaan yang kami bawa diangkut
menggunakan motor berdua bolak-balik menuju ke tepi sungai hingga 4 kali karena
membawa barang banyak. Badan terasa capek sekali membawa barang seberat itu dan
saking banyaknya.
Kami
siap-siap berangkat perjalanan hari pertama menuju Koala Rian setelah semua
barang bawaan tertata rapi di pinggir sungai dibantu oleh guru-guru Long Titi
seperti Pak Pendi, Pak Yusten dan Pak Markus serta Pak Lay sebagi mentoris
ketinting. Satu kapal ketinting muatannya maksimal 6 orang. Saat itu kami hanya
5 orang karena barang bawaannya banyak. Ada Saya, Doni, Pak Markus, Pak Yusten
dan Pak Hasan. Akan tetapi Pak Hasan dijemput di tengah-tengah perjalanan kami
karena rumah beliau di atas sungai melewati jalur air perahu ketinting. Jadilah
kami berangkat berlima orang. Pertama kalinya naik ketinting, kami merasa
senang karena begitu asyiknya naik ketinting melewati sungai yang panjang. Awalnya
kami berfoto-foto ria saat naik ketinting dan bahkan membuat video lagu “Tinggalkan
Ayah Tinggalkan Ibu” diatas perahu. Sungguh menyentuh kalbu dalamnya lagu itu
sampai-sampai kami teringat keluarga di rumah.
Setelah beberapa lama kemudian
karena sering terkena angin, kami pun mulai mengantuk. Doni dulu yang pertama
kali tertidur baru setelah dia bangun saya pun ikut mengantuk. Kami bergantian
tertidur karena tempat duduknya sempit berdesakan. Saat itu saya sedang mainan
HP dan ber-sms ria tetapi ketika memasuki lorong jembatan yang kedua tiba-tiba
sinyal pun hilang dari peredaran dan dari situlah kami mulai kehilangan sinyal
dan tidak bisa lagi berkomunikasi menggunakan HP. Dipertengahan jalan mulai
banyak arus sungai yang deras dan ketinting kami pun mulai melawan derasnya
arus sungai. Hampir setiap 10 menit sekali kami melewati derasnya aliran sungai
dengan dibantu menggunakan dayung oleh Pak Yusten serta bambu oleh Pak Hasan
untuk mempermudah jalannya ketinting di sungai. Namun tiba-tiba di depan kami,
arus sungai terlalu deras karena banyak batu-batu besar. Sempat kami semua
turun dari perahu kurang lebih sebanyak 6 kali dan melompat-lompat diatas batu
di tepi sungai dengan membawa barang-barang yang ada di perahu. Hal itu dilakukan
karena untuk meminimalisir terjadinya karam yang terjadi saat arus sungai yang
sangat deras jadi perahu tersebut hanya di kendarai oleh Pak Lay selaku
mentoris dan dibantu Pak Yusten untuk mendorong perahu di depan menggunakan
dayung. Waktu pertama kali turun dari ketinting, saya dan Doni pun kaget karena
harus naik batu seperti panjat tebing sambil membawa barang kami masing-masing
yang super berat. Sungguh melelahkan dan membuat pundak kami pegal-pegal semua.
Waktu tengah hari sekitar pukul 12.00 WITA, kami semua memutuskan untuk makan
siang karena mulai kelaparan dan istirahat sejenak untuk melepas lelah di tepi
sungai yang ada mata airnya. Kami pun cuci muka dengan mata air tersebut hingga
terasa segar lalu saya dan Doni memutuskan untuk sholat dhuhur diatas batu
karena perjalanan masih lama sampai sore dan waktu istirahat pun juga masih
lama. Kami menggunakan bantuan kompas untuk menentukan arah kiblat. Setelah
kami selesai sholat dan bersih-bersih badan, kami pun naik perahu lagi untuk
melanjutkan perjalanan lewat arus sungai yang deras. Selang beberapa menit
kemudian, kami turun lagi dari perahu dan mulai berjalan kaki melompat-lompat
diatas batu dengan membawa barang-barang, berat sekali hingga kami kelelahan.
Kejadian itu terjadi sebayak 6 kali lebih dan yang paling tidak disangka saat
harus menghindari derasnya air sungai. Kami pun turun dari perahu kecuali saya
yang disuruh duduk oleh Pak Markus di tengah untuk menjaga keseimbangan perahu,
sedangkan yang lainnya menarik perahu sampai tengah sungai yang lebih dalam.
Setelah berhasil menarik perahu, kami melanjutkan perjalanan ke tempat tujuan
hari pertama yaitu Desa Kuala Rian.
Alhamdulillah
akhirnya kami sampai juga di desa tersebut pada pukul 17.30 WITA dengan selamat
dan keadaan basah karena terkena gebyuran air selama perjalanan. Perjalanan
selama satu hari ini cukup membuat kami kelelahan dan segera ingin mandi. Setelah
mandi terus sholat ashar dan dilanjut makan sore dengan lauk mie rebus dan ikan
asin dari Pak Hasan dan Pak Yusten. Selesai makan, kami siap-siap tidur karena
kelelahan dalam keadaan gelap karena tidak ada listrik tetapi kami memakai
lampu senter. Saat kami mau tidur ternyata ada kabar yang kurang enak bahwa
tidak ada orang di Desa Kuala Rian yang membawakan barang-barang kami esok
pagi, jadi kami pun bangun untuk memilah barang-barang yang akan dibawa. Dari
barang yang kami bawa hanya boleh membawa 1 tas gendong itu pun isinya hanya
baju batik 3 stel, kaos secukupnya dan sepatu cat serta perlengkapan lain yang
dibutuhkan selama 4 bulan. Kami merasa agak kesal waktu disuruh packing barang
disaat keadaan gelap malam dan terpaksa harus memilah-milah barang yang
penting-penting saja. Beberapa menit kemudian akhirnya selesai juga packing
barangnya untuk dibawa menggunakan tas gendong. Karena merasa kecapean, kami
tertidur untuk memulihkan tenaga buat besok pagi jalan kaki seharian ke Desa
Rian Tubu atau sering disebut daerah Long Tepuh.
Tibalah hari kedua kami melakukan
perjalanan dari Desa Kuala Rian menuju ke Long Tepuh dengan berjalan kaki tanpa
mandi terlebih dahulu karena bisa mandi nanti saat diperjalanan melewati anak
sungai kata Pak Hasan. Kami persiapkan untuk sarapan pagi dulu yang banyak agar
nantinya kuat sampai tujuan dan tidak lupa kami pun di suruh membawa bekal nasi
dan minuman botol untuk bekal istirahat siang di tengah perjalanan. Setelah
semuanya siap, mulailah kami berjalan kaki menuju Long Tepuh. Di perjalanan
ternyata tidak sesuai dengan apa yang kami bayangkan. Semula kami kira hanya
melewati hutan yang datar-datar saja tetapi kenyataannya seperti panjat tebing
menaiki bebatuan, melewati anak sungai, menyeberang sungai, naik gunung dan
turun gunung. Itulah medan yang kami lalui di hari kedua, yang membuat kami
tidak kuat dan mudah capek itu karena harus menggendong tas yang isinya satu
tas penuh tanpa ada ruang yang tersisa. Kami beristirahat sejenak di
pertengahan jalan yang hanya 3 kali istirahat, itu pun hanya sebentar tidak ada
5 menit hingga membuat saya hampir tepar karena tidak kuat membawa barang seberat
itu di punggung. Saya pun tiduran diatas bebatuan dan memejamkan mata karena terlalu
capek. Sambil istirahat melepas lelah, Pak Yusten dan Pak Markus membantu
menjahitkan tas kami yang gendongannya hampir terlepas. Setelah selesai
menjahit, kami mulai melanjutkan perjalanan menuju Long Tepuh. Ditengah
perjalanan, kami beristirahat untuk makan siang di tempat istirahat khusus (pondok)
pejalan kaki yang melewati hutan menuju Long Tepuh. Saat makan siang kami langsung
makan seadanya nasi dan kecap dengan lahapnya karena kelaparan dan butuh energi
banyak. Usai maka siang, medan yang dilalui selanjutnya adalah menaiki 2 puncak
gunung hingga ke lereng gunung yang membuat kami kelelahan ditambah dengan
gendongan kami yang sangatlah berat itu. Kami sampai di Long Tepuh sekitar
pukul 14.00 WITA. Sesampainya di Long Tepuh, kami langsung ganti baju karena
basah kuyup menyeberangi sungai dan istirahat sejenak kemudian mandi di sungai.
Sorenya bertemu dengan anak-anak di desa itu dan mengajak kami bermain bola
bersama. Kami menginap di tempat Pak Haryanto salah satu Guru PNS di SD N 003
Sungai Tubu.
Di hari ketiga perjalanan menuju ke
Long Titi tempat tujuan kami diawali dengan berjalan kaki juga. Paginya kami
sarapan terlebih dahulu dengan daging rusa/kijang yang diberi oleh Pak Yusten.
Semula kami tidak tahu itu daging apa tapi rasanya memang enak seperti daging
kambing. Namun setelah makanannya habis, kami baru diberi tahu oleh Pak Hasan kalau
tadi itu adalah daging rusa. Kami hanya bisa pasrah saja sama Allah SWT karena
takut daging itu haram karena tidak mengucapkan kalimat takbir saat
menyembelih. Sejak saat itu, kami berjanji tidak akan mau makan daging-daging
hewan kecuali ikan. Kami berangkat dari Long Tepuh sekitar pukul 08.00 WITA.
Sebelum berangkat saya diberi tongkat oleh Pak Markus untuk membantu saat
perjalanan. Ternyata benar tongkat itu sangat membantu saya dalam berjalan
terutama saat menyeberangi sungai. Di perjalanan kami disambut hangat oleh
gunung-gunung yang siap kami panjat. Betapa lelahnya hari ketiga ini karena
harus memanjat gunung yang benar-benar tinggi sampai ada 4 gunung yang harus
kami lewati. Di hari ketiga ini, kami hanya membawa tas yang isinya makanan,
minuman dan baju ganti saja lebih ringan daripada hari kedua karena di hari
ketiga ini kami dijanjikan barang yang kami bawa kemarin akan dibawakan oleh
orang dayak sampai Desa Long Titi. Padahal barang bawaan kami pun banyak tetapi
mereka berdua orang dayak yang bernama acok dan ajo sungguh kuat. Badan mereka
terlihat otot semua seperti atlet yang sering berolahraga, mungkin karena
mereka sering mengantar barang dan bolak-balik dari desa satu ke desa lain. Ketika
kami baru sampai ditengah perjalanan, mereka berdua sudah mengantar barang ke
mess Long Titi dan mereka sudah sampai dihadapan kami. Kami pun memberikan jasa
angkut barang kepada mereka dan mengucapkan terimakasih. Di tengah perjalanan,
kami juga melewati beberapa anak sungai dan menyeberangi sungai seperti di hari
kedua kemarin. Namun dihari ketiga ini
kami hanya beristirahat 3 kali di pinggiran anak sungai untuk melepas
lelah. Seperti biasa, saya pun kelelahan dan berjalan paling belakang sendiri
bersama Pak Markus. Sedangkan Doni, Pak Hasan dan Pak Yusten sudah berjalan
jauh namun selalu menunggu kami disetiap anak sungai untuk beristirahat.
Beberapa lama kemudian kami pun mencapai setengah perjalanan untuk makan siang
di tepi anak sungai. Setelah makan siang, kami diminta untuk meminum air dari
anak sungai Titi yang konon kalau orang yang baru masuk daerah Sungai Titi
harus meminum air sungai minimal 2 kali tegukan. Akhirnya kami berdua pun
mencoba minum dan rasanya lumayan segar karena mungkin juga lagi kehausan...
hehehe. Tak lama kami pun kembali berjalan kaki yang katanya sebentar lagi
sampai ternyata kami harus melewati jalan bonus yaitu 2 kali naik-turun gunung juga
menyeberangi sungai yang deras. Saat diperjalanan saya kembali jalan dibelakang
bersama Pak Markus, namun beliau agak jauh di depan saya. Saat melewati hutan,
saya terkena lecet-lecet di selangkangan kaki yang lebih parahnya kedua kaki
terkena lecet. Aduuhhh.. saya pun mengeluh kesakitan dan merasa sudah sulit
untuk berjalan lagi. Kaki terasa sakit ketika harus melewati dan menyeberangi
sungai yang deras terkena air yang terus-menerus sampai akhirnya saya mendekati
Pak Markus. Setelah melewati anak sungai, beliau bilang lecet-lecet itu karena
gesekan celana yang saya pakai itu ¾ sehingga tergesek-gesek kulitnya. Celana
pendek saya basah semua karena kemarin juga basah kuyup menyeberangi sungai.
Saran Pak Markus saya harus lepas celana dan hanya memakai CD. Akhirnya saya
pun melepaskan celana saya yang tinggal CD saja. Sepanjang perjalanan saya
menggunakan CD melewati hutan-hutan yang daunnya rimbun hingga merasa geli
disepanjang paha kaki karena terkena dedaunan di hutan. Belum lagi ditambah
dengan melewati sungai yang deras beberapa kali hingga terasa perih. Aduuhh...
rasanya seperti sudah tidak bisa jalan lagi untuk menyeberangi 2 sungai yang
airnya deras sekali. Sambil tertatih-tatih saya pun menyeberangi sungai yang
panjang dan akhirnya berhasil juga. Selama perjalanan jalurnya pun sama mulai
dari naik-turun gunung – melewati anak sungai – menyeberangi sungai yang deras
– masuk hutan – turun menyeberangi sungai lagi dan begitu seterusnya. Setelah
berhasil menyeberangi sungai, saya dan Pak Markus pun masuk hutan dan kembali
naik gunung sampai saya merasa sudah tidak kuat lagi dan pasrah karena
tertinggal jauh dari Pak Markus yang tadinya di depan saya lama kelamaan tak
tahu dimana. Pikiran saya sudah lelah sampai akhirnya saya beristirahat di
tengah hutan tepatnya di puncak gunung yang terlihat sungai yang saya lewati
tadi. Saya putuskan untuk tidur sejenak disitu karena sudah sangat lelah dan
tidak kuat berjalan naik lagi. Saya pun tertidur sambil duduk di bawah pohon
yang rindang dan nyaman untuk beristirahat. Sekitar 15 menit saya bangun dan
merasa sudah fit kembali untuk berjalan naik gunung tanpa merasa lelah. Sudah
tidak ada lagi perasaan gundah / pun gelisah karena saya sudah pasrah dengan
keadaan saat itu. Yang bisa saya lakukan hanya berjalan melewati hutan –
menyeberang sungai – melewati anak sungai sendiri. Ada setengah jam lebih saya
melewati berbagai medan itu sendirian saking lelahnya pikiran, akhirnya saya
hanya mengandalkan pikiran bawah sadarku yang terus mengikuti jalan sungai di
bawah hutan. Hampir saja saya terpengaruh dengan suara-suara yang ada di tengah-tengah
hutan yang bawahnya anak sungai yang panjang. Saat itu yang terdengar suara
wanita, laki-laki tua dan suara yang menggema menyebut nama saya, namun saya
tidak hiraukan itu dan tetap berjalan mengikuti alur sambil berdoa agar diberi
petunjuk jalan kepada Sang Ilahi dan akhirnya saya pun lihat jejak kaki di
batu. Meskipun hanya 1 jejak kaki yang saya lihat tapi begitu sangat bersyukur
karena ada petunjuk yang datang. Saya berjalan terus sendirian di sepanjang
anak sungai bawah hutan. Saya kira akan sampai sebentar lagi tetapi saya harus
menyeberang sungai satu lagi. Saya pun terus berdoa sepanjang jalan yang saya
lewati agar ada petunjuk dari Allah SWT. Akhirnya doa pun terjawab, saat saya
menyeberangi sungai ditolong oleh seorang bapak yang bernama Pak Juni. Pak Juni
dikenal baik hati dan orang tertua di Desa Long Titi ini. Saya juga diantar
oleh Pak Juni dari seberang sungai menuju ke tempat mess dekat sekolah SD N 002
Sungai Tubu Desa Long Titi. Tidak lupa saya ucapkan terima kasih banyak kepada
Pak Juni karena sudah menolong dan mengantar saya sampai ke lokasi sekolah. Alhamdulillah
saya pun mengucap syukur yang tiada tara karena telah diberi petunjuk jalan
berupa jejak kaki dan orang yang membantu saya menyeberangi sungai yang sangat
deras.










Terima kasih sharenya kak sy kebetulan cari info mengenai long titi kebetulan tahun ini lulis seleksi cpns dan ditempatkan di SD 2 Long titi
ReplyDelete