Saturday, March 5, 2016

LONG RANAU, SEBUAH DESA DI HULU SUNGAI

Sabtu, 22 Agustus 2015 menjadi awal takdir bagi kami bertiga (Adhi, Refangga, Sevtyan). Kami semua dikumpulkan di kantor bupati untuk mendengarkan pengumuman penempatan penugasan di kabupaten Malinau, Kalimantan Utara. Peserta SM3T yang ditempatkan di kabupaten Malinau berjumlah 69 orang yang nantinya akan disebar ke seluruh penjuru kabupaten Malinau. Program SM3T (Sarjana Mengajar di Daerah Terdepan, Terluar, Tertinggal) mengantarkan kami bertiga ke desa nan jauh di sana, salah satu desa terluar dan salah satu desa yang paling sulit dijangkau/ditembus yang ada di Malinau. Karena harus ditempuh dua hari perjalanan (darat dan air).
Pagi hari sekitar pukul 8.00 WITA di depan rumah Pak Markus sudah terparkir mobil strada warna putih. Itu tandanya perjalanan kami ke Long Ranau dimulai, perjalanan yang sangat panjang dan melelahkan. Kami bergegas mengemasi barang kami untuk diangkut ke dalam mobil. Sekitar pukul 8.45 WITA kami mulai berangkat. Kami langsung disuguhi jalan yang tidak bersahabat; jalan yang berliku-liku tidak beraspal ditambah dengan banyaknya debu karena lalu lalang kendaraan proyek pengangkut batu bara (howling). Walaupun begitu perjalanan kami disuguhi dengan pemandangan hutan asli Kalimantan yang biasanya kami lihat di TV pada acara-acara documenter yang menyajikan keindahan alam Indonesia. Ditengah perjalanan ada bapak paruh baya yang membawa sembako dan ingin menumpang mobil kami. Bapak itu pun naik ke mobil kami. Perlu diingat bahwa numpang-menumpang di sini adalah hal biasa karena jarang-jarang ada mobil lewat karena medan yang sulit. Beberapa saat kemudian ada anak sekitar usia SMP ingin menumpang ke desa Long Pada, sopir kami pun mempersilakan untuk naik.
Perjalanan yang lebih memacu adrenalin kami pun dimulai. Jalan berkelok dan di samping kanan-kirinya terdapat jurang membuat kami was-was dan tak henti-hentinya berdoa. Saya dan Adhi duduk di belakang (di luar). Sedangkan Refa duduk di dalam di samping sopir. Pantat dan pungung saya sakit sekali karena berkali-kali terbentur besi mobil. Baru pertama kali saya melihat pohon-pohon begitu besar yang tingginya puluhan meter dan lebarnya kira-kira butuh 3 – 4 orang untuk memeluknya. Oh iya, selain kami naik mobil, ada Pak Eris yang naik motor. Saya tidak bisa membayangkan motor Revo 110cc yang dinaiki Pak Eris bisa menaklukan medan yang menurut saya sangat ekstrim. Di tengah perjalanan kami istirahat sejenak di tepi sungai untuk makan siang, sungguh sangat nikmat makan siang di tepi sungai di hutan. Selepas makan siang, kami melanjutkan perjalanan dan perjalanan darat kami berhenti di Long Avang. Long Avang bukanlah sebuah desa melainkan sebuah pos pemberhentian atau pos untuk transit sejenak. Di sini hanya ada dua rumah di tepi sungai. Kami bertemu dengan pemilik rumah dan bersalaman dengan mereka semua.
Rute Perjalanan Darat menuju Long Ranau

Waktu menunjukkan pukul 14.00 WITA kami memutuskan untuk sholat, sembari kami sholat Pak Mathius mencarikan kami ketinting (perahu). Tidak lama kemudian Pak Mathius pun datang dengan ketintingnya, kami pun menaikan semua barang-barang kami ke dalam ketinting. Kami sempat ragu apakah dengan barang-barang kami yang super berat ini tidak akan membuat ketinting tenggelam. Baru beberapa menit kami menaiki ketinting hal yang tidak diinginkan terjadi. Perahu kami hampir karam karena air sungai banyak yang masuk ke dalam perahu. Kami pun langsung menurunkan barang-barang kami ke tepi sungai. Kemudian Pak Eris dan satu juru batu ketinting berangkat ke desa Long Pada untuk melanjutkan perjalanan dan mengirimkan bantuan pada kami. Menurut penuturan Pak Mathius perahu yang kami naiki memang perahu tua yang sudah agak rapuh. Jadi wajar saja jika banyak air yang masuk ke perahu kami. Kami menunggu bantuan sekitar dua jam dari jam 15.00 – 17.00 . Kami dijemput dengan ketinting yang cukup besar dan perjalanan air kami pun dimulai. Kami kembali disuguhi panorama yang mungkin hanya bisa dilihat dalam film-film, naik perahu membelah hutan Kalimantan yang masih perawan dan asri merupakan pengalaman yang tidak semua orang bisa mengalaminya. Setelah beberapa saat kami naik perahu, kami dihadapkan pada situasi yang belum pernah kami alami sebelumnya. Kami bertemu dengan yang namanya “giram” atau jeram. Perlu diketahui bahwa perjalanan kami melawan arus sungai karena desa Long Ranau berada di hulu sungai. Seketika wajah kami bertiga berubah menjadi pusat pasi karena kami takut perahu yang kami naiki karam menghantam batu. Apalagi saat kemarau seperti ini debit air sungai kecil. Jadi butuh energi super ekstra untuk mengemudikan ketinting yang kami naiki. Ketinting yang kami naiki dikemudikan oleh 3 orang, dua orang menjadi juru batu yang berada di depan sedangkan satu lagi berada di belakang sebagai motoris. Perlu diketahui bahwa ketiganya masih duduk di bangku SMP. Itu yang membuat saya terkagum-kagum dengan keberanian anak-anak suku Dayak. Perjalanan air kami tidaklah mulus, ada kalanya saat bertemu dengan jeram yang mengerikan para penumpang harus turun dari ketinting dan berjalan puluhan bahkan ratusan meter di tepian sungai dan bahkan harus berjalan menembus hutan sembari menunggu ketintingnya ditarik menuju ke bagian sungai yang aman untuk dinaiki. Alhasil celana kami basah kuyup semua ditambah ternyata kami bertiga salah kostum karena kami bertiga memakai celana jeans sehingga langkah kami menjadi sangat berat ditambah dengan jaket dan pelampung membuat badan ini sangat panas. Kalau dihitung-hitung kami turun dari ketinting sekitak lebih dari 10 kali.
Persiapan Perjalanan menyusuri Sungai Menuju Long Ranau

Hari pun semakin sore dan gelap, perjalanan kami tak kunjung sampai di desa Long Pada tempat kami bermalam malam ini. Menaiki ketinting di malam hari bisa dibilang sangat berbahaya dan berisiko karena minimnya pencahayaan dan jarak pandang yang pendek membuat kapal rawan menabrak bebatuan dan skenario terburuknya kapal bisa karam. Untung saja senter handphone saya masih bisa menyala untuk menerangi jalan kami saat harus berjalan di bebatuan-bebatuan sungai yang besar dan menembus hutan. Badan kami pun semakin lemas ditambah hawa dingin yang menusuk tulang, ingin rasanya kami segera sampai di desa Long Pada. Selama perjalanan kami bertiga terus merenung, kami sudah tidak bisa bercanda seperti halnya tadi siang. Saya terus berpikir sebenarnya saya jauh-jauh datang kesini untuk apa ? Mengapa ada orang yang mau dan sanggup hidup di hulu sungai yang jauh dari keramaian dan terisolir dari daerah lain ? Seberapa jauh lagi jalan yang harus kami tempuh untuk sampai ke desa tempat tugas kami ? Dosa apa yang saya lakukan di masa lalu sampai-sampai saya harus mengalami hal-hal yang tidak mengenakan ? Banyak sekali pertanyaan-pertanyaan aneh yang berkecambuk di kepala saya. Kami tidak henti-hentinya komat-kamit berdoa kepada Yang Maha Kuasa agar kami diberi keselamatan. Lalu terlihat ada sorotan lampu dari kejauhan, ternyata itu adalah ketinting milik seseorang yang sedang mencari ikan di sungai. Saya dan Refa naik ke ketinting yang baru dan Adhi tetap di ketinting yang lama. Ketinting yang baru saya naiki memiliki senter jarak jauh dan berjalan di depan untuk membuka jalan karena ketinting yang sebelumnya saya naiki tidak membawa senter. Kami pun terus berdoa agar diberi keselamatan sampai tujuan. Jantung kami slalu berdebar-debar jika melihat jeram karena selalu dihantui oleh pikiran-pikiran jikalau ketinting akan karam. Sama sekali belum pernah terpikirkan oleh kami akan menempuh perjalanan sesulit ini. Doa kami pun terjawab sudah, sekitar pukul 20.30 WITA kami sampai di desa Long Pada. Kami memasukkan barang-barang di salah satu rumah dan kami bermalam di rumah yang lain milik salah satu guru di SD 001 Long Pada. Kami pun langsung bergegas mandi karena bau kami sudah tidak karuan. Di sini kami bertemu dengan dua orang alumni SM3T yang berasal dari Samarinda. Mereka berdua tidak mengikuti PPG karena sudah lolos CPNS. Kami disuguhi kopi hangat oleh Pak Eris yang sudah lebih dulu sampai di desa Long Pada. Yaaa, lumayan untuk mengusir hawa dingin di tubuh ini. Kami baru bisa tertidur pukul 00.00 WITA. Malam hari di sini sungguh sangat dingin sampai-sampai kami bertiga harus memakai pakaian dan celana yang serba panjang. Kami bersyukur akhirnya bisa merebahkan badan setelah seharian bergelut dengan medan yang melelahkan jiwa dan raga walaupun hanya beralaskan tikar yang terbuat dari bambu.
Saat kami bangun pagi badan kami terasa pegal semua. Kami pun bersiap melanjutkan perjalanan dihari kedua. Perjalanan hari kedua dari desa Long Pada menuju desa Long Ranau kembali ditempuh menggunakan ketinting. Menurut informasi yang didapat, perjalanan hari kedua lebih berat dari pada hari pertama karena jeram/giram yang dilalui lebih ekstrim. Kami berangkat sekitar pukul 09.00 WITA. Seperti biasa kami harus sering turun dari ketinting dan berjalan di tepian sungai bahkan terkadang harus menembus hutan sembari menunggu ketintingnya ditarik oleh warga desa Long Ranau yang sengaja datang untuk membantu kami. Bisa dibilang ketinting hanya digunakan untuk menaruh barang-barang kami karena kami lebih banyak berjalan kaki dari pada naik ketinting. Setiap kali kami berjalan menembus hutan, tubuh kami selalu dihinggapi pacet (lintah). Ada yang hinggap di kaki ada pula yang masuk ke dalam baju kami. Tengah hari kami beristirahat untuk makan siang, kami disuguhi ikan bakar hasil menyelam penduduk lokal. Disinilah kami kagum dengan orang Dayak, kagum dengan keberanian dan keramahannya. Setelah selesai beristirahat kami melanjutkan perjalanan dan lagi-lagi harus turun dari ketinting dan berjalan kaki. Rasanya sudah tak terhitung berapa pacet (lintah) yang hinggap di tubuh kami. Kami sungguh lelah sekali berjalan kaki, rasanya kami sudah dehidrasi. Kami sudah kehabisan air minum yang kami bawa, mau tidak mau kami harus meminum air dari mata air dan terkadang dari air sungai yang mengalir. Dengan kaki diseret-seret serta kaki yang lecet kami paksa tubuh kami yang lelah ini untuk terus maju berjalan ke depan.
Kerjasama Menarik Ketinting untuk melewati Giram

Akhirnya sekitar pukul 18.30 WITA kami sampai di desa Long Ranau tempat pengabdian kami selama satu tahun. Sungguh perjalanan dua hari yang melelahkan. Sesampainya di desa Long Ranau kami disambut hangat sekali oleh warga setempat. Baik tua, muda, anak-anak, semuanya datang menyalami kami bertiga. Seolah-olah kami bertiga sangat dinantikan dan diharapkan oleh mereka semua. Desa Long Ranau merupakan desa yang sangat kecil tersembunyi di tengah-tengah hutan dan dikelilingi sungai, mungkin bisa dibilang mirip dengan Nusakambangan. Di sini hanya terdapat ±30 rumah saja dan jumlah penduduknya sekitar 200 jiwa saja. Desa Long Ranau dihuni oleh suku Dayak Punan, masyarakat Dayak Punan di sini mata pencahariannya adalah berburu dan mengandalkan hasil hutan. Jadi bisa dibayangkan masih sangat sederhananya masyarakat di sini. Karena lokasi desa Long Ranau yang terpencil dan sulit dijangkau menjadikan masyarakatnya kurang informasi akan dunia luar. Ini menjadi salah satu kesulitan kami di sini dalam mengajar anak-anak di sini. Seolah-olah apa yang kami ucapkan merupakan hal yang baru bagi mereka padahal hal diucapkan merupakan hal yang umum bagi masyarakat di luar sana. Saya pernah menyuruh mereka untuk menunjukkan dimana pulau Kalimantan namun tidak satu pun dari mereka yang tahu dimana pulau mereka tinggal. Karena informasi yang sangat kurang inilah yang menjadikan wawasan kebangsaan mereka sangat kurang. Lagi, pernah suatu ketika waktu itu pelajaran IPS dan saya menjelaskan mengenai kenampakan alam yang ada di Indonesia. Saya menjelaskan mengenai pantai waktu itu. Ketika saya bertanya pada mereka,”Apakah kalian tahu pantai itu seperti apa ?” lagi-lagi tidak ada satu pun dari mereka yang tahu atau pernah melihat bagaimana bentuk pantai itu. Di satu sisi ini merupakan hal yang lucu dan patut untuk ditertawakan. Namun di sisi lain ini merupakan sebuah ironi, tamparan, sekaligus sindiran bagi kita semua. Apa yang sudah kita perbuat untuk mereka ? Apa yang sudah kita lakukan agar mereka terbebas dari keterpurukan yang mereka alami ? Mereka tetaplah saudara kita, saudara yang belum kita kenal. Janganlah kita biarkan jurang ketimpangan ini semakin membesar. Karena siapa tahu kelak orang-orang penting kelak dilahirkan dari desa Long Ranau atau desa-desa di pedalaman Kalimantan.
Peserta SM-3T tiba di penempatan Long Ranau

Di sini hanya terdapat satu sekolah saja yaitu SDN 004 Sungai Tubu. SD ini bisa dibilang baru jika dibandingkan dengan SD lain yang ada di kecamatan Sungai Tubu. Sebelum SD ini berdiri anak-anak dari desa Long Ranau harus bersekolah di ibukota kecamatan yaitu di desa Long Pada. Sebelum SDN 004 berdiri minat anak-anak untuk bersekolah bisa dibilang rendah. Ini dikarenakan jarak dari Long Pada ke Long Ranau cukup jauh. Ini juga mengakibatkan banyak anak di sini sebenarnya jika dilihat dari usianya sudah bukan usia SD lagi. Banyak dari mereka yang seharusnya sudah SMP bahkan SMA tapi justru masih berkutat di bangku SD. Mereka juga belum bisa membaca dengan lancar karena minimnya bahan bacaan yang ada di sekolah dan di desa. Yang saya salut dari mereka adalah semangat mereka untuk belajar sangat tinggi. Selama 5 bulan kami mengajar di sini jarang sekali kami menjumpai siswa absen masuk sekolah. Selain itu mereka datang ke sekolah dengan kondisi yang bermacam-macam, banyak dari mereka yang tidak memakai sepatu dan seragam. Kalau kami tidak begitu memperdulikan hal itu karena yang terpenting adalah niat baik mereka untuk berangkat ke sekolah.
Foto bersama seluruh siswa di Long Ranau

Sekolah tempat kami mengajar bisa dibilang masih sangat memprihatinkan. Sekolah kami berbentuk rumah panggung dimana dalam ruangan tersebut dibagi menjadi 6 kelas dimana setiap kelas disekat menggunakan seng. Bisa dibayangkan kesulitan yang dihadapi dengan kondisi kelas seperti itu, jika satu kelas sedang dijelaskan maka kelas yang lain juga mendengar suara dari kelas sebelahnya. Lalu tiap kelas tidak memiliki pintu dan ini menjadikan anak-anak bebas keluar masuk seenaknya saat pelajaran. Hal ini yang membuat kami sering memarahi mereka karena sering keluar masuk kelas seenaknya. Fasilitas penunjang pembelajaran di sini juga sangatlah minim, hanya ada white board, spidol, penghapus. Hanya itu saja.
Kondisi Kelas di SD

Tenaga pengajar di sini masih kurang. Di sini total terdapat 6 guru yang terdiri dari 3 guru honorer, 1 guru kontrak, dan 2 guru PNS. Semua guru honorer dan kontrak di sini hanya lulusan SMA dan baru pertama kali mengajar. Dua guru PNS-nya pun masih menyelesaikan studinya untuk mendapatkan gelar Sarjana. Otomatis dua guru PNS-nya harus berada di kota untuk kuliah dan tidak bisa mengajar sampai mendapatkan gelar Sarjananya. Alhasil hanya empat guru saja yang stand by di hulu sana. Untung saja tahun ini desa Long Ranau mendapatkan jatah tiga guru, setidaknya ini bisa sementara mengatasi permasalahan kekurangan guru di Long Ranau. Kami berharap tahun depan desa Long Ranau bisa mendapatkan jatah guru SM3T lagi.


Kegiatan Belajar Mengajar di SD long Ranau

Selama kurang lebih lima bulan hidup di tengah-tengah penduduk Long Ranau saya belajar banyak hal. Saya belajar bagaimana hidup dalam kesederhanaan dan keterbatasan. Bagaimana tidak ? Desa Long Ranau belum dialiri listrik, sebenarnya ada beberapa rumah yang memiliki genset , yang mana genset tergantung dari ada atau tidaknya minyak. Listrik rumah kami dialiri listrik dua hari sekali dan hanya selama 2 jam saja. Terkadang jika listrik sedang tidak dialiri listrik, kami bergerilya ke rumah warga yang listriknya menyala untuk sekadar mengisi ulang handphone kami agar kami bisa sekadar mendengarkan musik siang harinya. Begitu juga dengan sinyal, tidak ada sinyal sedikitpun di seluruh kecamatan Sungai Tubu. Jadi kami sama sekali tidak bisa mengubungi orangtua kami di rumah. Alat komunikasi satu-satunya yang digunakan di desa ini adalah radio angin. Radio ini menghubungkan desa-desa yang ada di sekitar desa Long Ranau. Bisa dibayangkan kehidupan kami seperti mundur dari peradaban, rasanya seperti kembali ke tahun 1950an.
Masyarakat desa Long Ranau termasuk masyarakat yang masih tradisional. Bukan tradisional dalam hal teknologi atau masih berpakaian dengan daun-daun, dsb. Namun tradisional dalam hal pola pikir (mindset) nya. Ketika ada warga yang mendapatkan hasil buruan berupa babi hutan, rusa atau kancil maka hasil buruan itu akan dibagikan rata ke setiap kepala keluarga. Ini menyiratkan rasa gotong royong yang masih dijunjung tinggi oleh masyarakat desa Long Ranau. Gotong royong yang tinggi merupakan salah satu ciri masyarakat yang masih tradisional. Penduduk desa Long Ranau mendapatkan pendapatannya dari dana desa, jadi setiap kepala keluarga mendapatkan sejumlah uang yang dibagikan secara rata. Karena penduduk desa Long Ranau tidak terlalu banyak maka hal ini bisa dilakukan. Ketika saya bertanya pada mereka apakah mereka tidak ingin merubah nasib mereka dengan keluar dari desa lalu bekerja di kota untuk mendapatkan penghasilan tambahan. Mereka mengatakan bahwa ini tanah leluhur mereka jadi mereka harus menjaga dan merawatnya. Salah satu warga mengatakan pada saya bahwa “kita yang kuat wajib menanggung mereka yang lemah, begitu pula kita tidak boleh mencari kesenangan untuk diri sendiri, kita harus mencari kesenangan untuk kita bersama. Seperti Tuhan Yesus yang rela berkorban untuk umat-Nya”. Ditambah dengan tingkat pendidikan yang mereka miliki tidak banyak pekerjaan yang bisa mereka lakukan. Lalu “label” yang sudah melekat pada masyarakat Dayak Punan menjadikan mereka malu dan minder dengan kedadaan mereka. Perlu diketahui bahwa masyarakat umum mengangap bahwa suku Dayak Punan merupakan suku yang paling primitif, yang identik dengan tingkat pendidikan yang rendah, tingkat sanitasi yang rendah, penampilan yang bisa dibilang kampungan dan suka meminta barang-barang yang kita miliki. Pandangan-pandangan seperti inilah yang menjadikan anak-anak suku Punan rendah diri dan berkecil hati. Selama kurang lebih 5 bulan penulis hidup ditengah-tengah mereka, anggapan-anggapan negatif tentang suku Punan tidak sepenuhnya terbukti. Mereka sangat baik pada kami, kami begitu dijaga dengan baik oleh mereka. Saat kami jauh dari orangtua kami, merekalah yang merawat dan menjaga kami. Saat kami kesulitan tanpa kami harus mengutarakan pada mereka, mereka dengan sigapnya membantu kami. Mereka sangat peka dengan keadaan yang ada. Memang betul suku Punan di desa Long Ranau bisa dibilang masih tertinggal jika dibandingkan dengan suku yang lain. Namun untuk masalah sanitasi, penampilan, dll bisa dibilang sudah cukup bagus jika dibandingkan dengan 5 atau 10 tahun yang lalu.
Selama saya hidup ditengah-tengah mereka, saya melihat banyak dari mereka yang masih kurang beruntung. Ini yang membuat saya lebih bersyukur dengan hidup yang sudah diberikan Tuhan kepada saya. Rasanya sekarang saya sudah tidak punya alasan untuk mengeluh dengan hidup yang saya jalani karena saya jauh lebih beruntung jika dibandingkan dengan mereka. Lalu sisi kemanusiaan saya terusik melihat banyak dari anak-anak di sana yang hanya memiliki tiga helai pakaian saja untuk dikenakan. Mereka tetap mengenakan pakaian yang lusuh karena hanya itu saja pakaian yang mereka punya. Ada pula anak usia balita usia satu atau dua tahun yang tidak mengenakan pakaian. Inilah realita mereka yang hidup di hulu sungai, mereka yang terhempas dari hiruk pikunya keramaian di kota, mereka yang hidup di tengah keterbatasan dan kekurangan. Mereka yang tetap bisa hidup dengan bahagia di tengah-tengah kesunyian hutan Kalimantan. Harapan mereka sederhana, mereka hanya ingin tetap hidup bersama-sama dengan semangat gotong royongnya melewati tahun demi tahun ke depan. Memang tidak salah jika mengejar kebahagiaan pribadi karena itu merupakan hak setiap manusia. Namun tidakah etis jika kita mengejar kebahagiaan pribadi sedangkan ada saudara di samping kita yang untuk memenuhi kebutuhan dasarnya saja masih kesulitan. Desa Long Ranau mengajarkan saya banyak hal, saya melihat sebuah masyarakat yang sudah tidak pernah akan saya lihat lagi di luar sana, di Jawa terutama. Sebuah masyarakat yang bagi banyak orang bisa dikatakan “utopis”. Boleh saja mereka yang di luar sana mengatakan penduduk suku Punan primitif dan terbelakang namun ada hal yang membuat masyarakat suku Punan lebih baik dari mereka, yaitu sisi kemanusiaan, kesederhanaan, dan kebersamaan yang bagi sebagian masyarakat di luar sana sudah lama ditinggalkan karena pengaruh budaya materialistik. Masyarakat desa Long Ranau bisa dijadikan contoh untuk kita semua bahwasanya walaupun kita hidup ditengah kekurangan namun kita tidak boleh kehilangan kepedualian dan kemanusiaan terhadap sesama. Desa Long Ranau merupakan masyarakat yang ideal dan sesuai dengan budaya bangsa Indonesia yang menjunjung nilai-nilai Pancasila, sebuah masyarakat yang diharapkan bisa menjadi role model  bagi masyarakat Indonesia yang sudah digerus oleh arus globalisasi. Saat ini fokus pendidikan kita sudah beralih dari penguatan layanan pendidikan (ketersediaan, keterjangkauan, kualitas, kesetaraan dan kepastian/keterjaminan) menjadi pendidikan yang memiliki daya saing regional. Sudah ramai orang di luar sana membicarakan soal MEA (Masyarakat Ekonomi ASEAN), namun mereka yang di pedalaman tidak mengetahui apa itu MEA. Mereka tetap melanjutkan hidup seperti biasanya. Disaat negara-negara tetangga sudah mulai mengekspor tenaga kerjanya yang terampil, kita masih berkutat pada pemerataan dan meningkatkan keterjangkauan pendidikan. Memang peningkatan kualitas pendidikan tidak hanya dipengaruhi oleh satu faktor saja namun banyak faktor yang mempengaruhi ditambah karakteristik setiap daerah di Indonesia berbeda-beda menjadikan permasalahan pendidikan di Indonesia menjadi masalah yang kompleks. Dengan berbekal niat dan usaha dari pemerintah saat ini, saya percaya pendidikan di Indonesia akan semakin maju dan putra-putri kita dapat bersaing dengan anak-anak dari negara lain.
Untuk pertama kalinya dalam hidup, saya merasa berguna dan bermanfaat bagi orang lain. Karena sebaik-baik manusia merupakan manusia yang berguna dan bermanfaat bagi sesame. Sekarang saya menyadari bahwa setiap makhluk hidup yang diciptakan Tuhan memiliki peran dan fungsinya masing-masing. Saya ingin bisa berbuat lebih banyak lagi untuk mereka. Dengan berbekal keikhlasan semoga apa yang kami lakukan bisa membawa berkah bagi semua. Amin. Nelson Mandela pernah mengatakan “What counts in life is not the mere fact that we have lived. It is what difference we have made to the lives of others that will determine the significance of the life we lead”. (sev)

Sevtyan, Long Ranau

1 comment: